HBDI Dipusatkan di Pati, IDI Kawal Regulasi Pelayanan Kesehatan Masyarakat

4 Min Read
Pengurus IDI Pusat dan IDI Jateng berfoto bersama usai menggelar konferensi pers di Kantor IDI Jateng, Kamis (19/05). Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akan menggelar peringatan Hari Bhakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-114 yang dipusatkan di Kabupaten Pati, mulai Jumat (20/5/2022) pagi ini.

Dengan mengangkat tema “IDI Reborn Berbakti untuk Negeri”, Dr M Adib Khumaidi SpOT selaku Ketua Umum IDI menegaskan akan terus mengawal dan memberikan masukan terkait kebijakan kesehatan Indonesia sesuai amanah berdirinya organisasi dan sejarah dokter yang tak lain sebagai embrio berdirinya Ikatan Boedi Oetomo yang memotori perjuangan kemerdekaan.

Hari Bhakti Dokter Indonesia (HBDI) ini sendiri bertepatan dengan kelahiran Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 atau Hari Kebangkitan Nasional. Boedi Oetomo adalah perkumpulan atau organisasi modern pertama di Hindia Belanda (Indonesia) yang memperjuangkan kemerdekaan dengan anggota para dokter lulusan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yaitu sekolah khusus dokter di Hindia Belanda.

Boedi Oetomo diinisiasi oleh dr Wahidin Sudirohusodo (yang menjadi nama sebuah jalan di Semarang). Dokter Wahidin ingin mengubah cara berjuang rakyat Indonesia dari perjuangan fisik kepada cara perjuangan melalui pendidikan.

“Ide ini menarik perhatian seorang mahasiswa STOVIA bernama Sutomo yang pada akhirnya mendirikan organisasi modern pertama di Indonesia bernama Budi Utomo,” ujar dr Adib saat menggelar pertemuan dengan wartawan di gedung IDI Wilayah Jawa Tengah pada Kamis (19/5/2022).

Ketua IDI menegaskan, HBDI dan Hari Dokter itu berbeda. Jika HBDI merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo, maka Hari Dokter Indonesia merujuk pada berdirinya IDI pada Oktober 1950. “Dan nanti bulan Oktober peringatan hari dokter ke- 72,” tandas Adib.

Selain itu, Adib mengatakan bahwa IDI saat ini akan kembali fokus pada berbagai penyakit selain Covid-19. Dia mengakui selama dua tahun terakhir para dokter telah menghabiskan fikiran dan tenaga pada penanganan Covid-19.

“Problem di Indonesia ada penyakit menular dan penyakit tidak menular. Selain covid-19 memang banyak penyakit lain yang angkanya meningkat seperti malaria demam berdarah, TBC, dan yang sedang ramai saat ini hepatitis dan Penyakit Mulut dan Kuku pada hewan ternak sapi,” jelasnya.

“Maka kami sebagai organisasi memang harus terus melakukan upaya preventif promotif agar masyarakat teredukasi dalam mencegahnya, tentunya kami juga harus siap dengan pelayanan jika ada masyarakat yang memiliki keluhan penyakit-penyakit tersebut,” ujarnya.

Dokter Djoko Handoyo Sp B(K) Onk, selaku Ketua IDI Wilayah Jateng mengatakan bahwa IDI akan mengerjakan dua hal. Satu bidang kesejahteraan, untuk seluruh rakyat, bukan hanya dokter. Salah satunya menjaga amanah BPJS untuk pelayanan kesehatan rakyat. Kedua adalah perlindungan hukum untuk masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan.

“Kami akan memperjuangkan regulasi pelayanan kesehatan agar tidak ada lagi keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan dan dokter yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

“Kita telah terkuras waktu dan tenaga untuk menangani Covid-19. Saat ini saatnya bagi kami dengan dibantu masyarakat mulai menangani penyakit-penyakit lain dengan pelayanan kesehatan yang mumpuni,” imbuhnya.

Dokter Cahyono, Ketua IDI Pati selaku tuan rumah penyelenggaraan HBDI menjelaskan bahwa kegiatan di Pati akan berfokus pada program jambanisasi, Donor Darah, webinar hibrid dengan Bupati Pati dan jajaran Dinas Kesehatan Pati, membuat sumur di daerah pegunungan kering, pencanangan peresmian air bersih dan pembangunan jamban sehat di Desa Sumbersuko, Kecamatan Sukolilo Pati yang merupakan Desa Binaan IDI Jateng.

“Kita berharap desa binaan ini bisa berlanjut sebagai kerja nyata dari IDI yang bisa dinikmati langsung oleh masyarakat,” paparnya. st

Share This Article
Exit mobile version