SEMARANG (Jatengdaily.com) – Banyak pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa Isra Mi’raj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid Haram menuju Masjid Aqsha. Lalu dilanjutkan ke langit ketujuh, ke sidratul muntaha. Pelajaran yang utama adalah ditetapkannya salat lima waktu.
Hal itu dikatakan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Fachrurrozi dalam Kajian Malam Jumat Kliwon sekaligus Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad di Masjid Baitussalam, Ngaliyan, Semarang, Kamis malam, 17 Februari 2022. Sebelumnya dilakukan pembacaan surat Yasin bersama dipimpin Muhammad Faiz dan presentasi tentang haji oleh Fahmi dari Bank Muamalat.
Fachrurrozi mengatakan, salat lima waktu merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam. Kita jangan melalaikan hal ini. Karena itu, kita juga harus mengajak paling tidak anggota keluarga, pasangan hidup dan anak yang telah baligh untuk bersama-sama menjalankan salat.
“Ketika saya mengimami salat subuh di musala, saya selalu memastikan anak dan istri juga ikut menjadi makmum. Mereka harus bersama kita menghadap kepada Allah,” ujarnya.
Menurut Fachrurrozi, peran istri sangat penting dalam menentukan keberhasilan suami sebagai kepala keluarga. Dukungan Siti Khadijah kepada suaminya, Nabi Muhammad, harus diteladani oleh para perempuan muslimah. Dukungan dan motivasi yang tidak hanya bersifat spiritual atau moral, namun juga material.
Menyinggung tentang peristiwa Isra Mi’raj yang di luar akal manusia, kita harus mengimani. Kita harus meyakini atas atas bukti kerisalahan Nabi Muhammad. Kita harus percaya atas kemukjizatan Nabi Muhammad yang diperjalankan Allah di malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina serta dimikrajkan ke langit hingga Sidratul Muntaha. Di sana Muhammad menerima risalah Allah, di mana di dalamnya ada kewajiban salat lima waktu.
“Kita tidak perlu berdebat, yang mi’raj ke langit ketujuh itu ruh atau raga. Kalau hanya ruh berarti itu mimpi, setiap manusia tentu bisa melakukannya. Jadinya bukan peristiwa luar biasa. Padahal Isra mi’raj bukan hanya mimpi. Karena itu kita harus meyakini, Muhammad isra mi’raj dengan jiwa dan raganya, naik buraq, didampingi malaikat Jibril,” ujarnya seraya menambahkan, sangat mudah bagi Allah dengan kekuasaan-Nya melakukan hal-hal yang ilogis.
Dalam peringatan Isra Mi’raj yang dihadiri Ketua Takmir Masjid Baitussalam Ngaliyan Masono itu, Fachrurrozi mengingatkan, agar kita makin meningkatkan iman dan imunitas dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Kita harus dapat mengambil makna dari peristiwa Isra Mikraj. Apalagi peristiwa tersebut diperingati di tengah suasana pandemi, di mana kita harus tetap menjalankan protokol kesehatan, demi keselamatan diri dan orang lain.
“Kita harus berikhtiar dan berdoa agar virus corona segera hilang dari muka bumi, sehingga kita bisa menjalankan kehidupan secara normal. Selain itu, kita jangan mudah terpancing oleh isu-isu hoax tentang corona. Apalagi beberapa waktu lagi kita akan menghadapi bulan Ramadan dan Lebaran,” katanya.
“Kita tak perlu ikut-ikutan nyinyir, menyebarkan sinisme, misalnya menyebutkan corona datangnya hanya di saat Ramadan dan Lebaran, namun ketika Imlek dan Natal virus itu justru pergi,” tandas Fachrurrozi yang banyak menyisipkan humor dalam ceramahnya.st
0



