Loading ...

Kenaikan Tahta Mangkunegara X Diiringi Tarian Sakral Bedhaya Anglir Mendhung

mangkunegaran

Pura Mangkunegaran Solo. Foto: yanuar

SOLO (Jatengdaily.com) – Pura Mangkunegaran Solo menggelar prosesi Jumenengan penobatan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo sebagai KGPAA Mangkunegara X Sabtu (12/3/2022) hari ini. Jumenengan kenaikan tahta ini menjadi salah satu prosesi sakral di Pura Mangkunegaran.

Di antara rangkaian prosesi Jumenengan, digelar pertunjukan Tari Bedhaya Anglir Mendhung karya Mangkunegara I, salah satu tarian sakral di Pura Mangkunegaran. Tarian ini pertama kali dipentaskan saat penobatan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa sebagai KGPAA Mangkunegoro I pada tahun 1757.

Baca Juga: GPH Bhre Cakrahutomo Dikukuhkan jadi Mangkunegara X; Raja Milenial Lulusan UI

Tari yang mengisahkan pertempuran RM Said saat berjuang melawan Belanda itu masih dilestarikan hingga pada masa kepemimpinan Sri Mangkunegoro III. Hingga saat ini tarian tersebut hanya dipentaskan saat acara kebesaran seperti kenaikan tahta dan Tingalan Jumenenagan atau peringatan kenaikan tahta raja Mangkunegaran.

Dilansir laman puramangkunegaran.com, KGPAA Mangkunegara I (1757-1795) memiliki keahlian dalam seni karawitan dan ahli memukul gamelan Kyai Kanyut. Setiap hari kelahiran Mangkunegara I, yaitu pada Minggu Legi diselenggarakan bermacam- macam seni pertunjukan antara lain seni tari, wayang kulit dan wayang orang.

Kecintaan Mangkunegara I pada bidang kesenian mendorongnya untuk menghimpun dan membentuk kelompok-kelompok seniman yang terdiri dari seniman wayang, seniman tari, dan seniman pengrawit. Kesenian wayang orang yang tersohor merupakan buah karya Mangkunegara I. Waktu itu pemain wayang orang terbatas pada abdi dalem.

Pertama kali wayang orang dipentaskan secara terbatas dan dinikmati oleh kerabat dan punggawa. Awalnya, pakaian penari sangat sederhana, tidak jauh berbeda dengan pakaian adat Mangkunegaran. Latihan dan pertunjukan kesenian seperti wayang kulit dan wayang orang bertujuan untuk menyampaikan ajaran-ajaran luhur, hiburan, dan apresiasi.

Sebagai seorang pujangga, Mangkunegara I telah membuat beberapa karya besar yang mengandung ajaran utama bagi kerabat, punggawa dan abdi dalem. Salah satu karya besarnya adalah Palagan, di dalamnya berisi cerita pengalaman pertempuran Mangkunegara I dan pasukannya untuk mempertahankan Mataram dari penguasaan Belanda.

Palagan kemudian digubah dalam bentuk tari Bedhaya Mataram Senopaten yang sekarang dikenal dengan nama Beksan Bedhaya Anglirmendung, ditarikan oleh tujuh orang penari perempuan. Dari sinilah tarian tersebut menjadi salah satu tarian sakral di Pura Mangkunegaran yang digelar hanya di acara kebesaran saja.

Tarian Bedhaya Anglir Mendhung tidak sembarangan orang bisa menjadi penarinya. Jumlah penari tujuh orang perempuan lajang. Bahkan sebelum menarikan tarian ini para penari harus menjalani karantina agar fokus dengan pentasnya. Tarian tersebut digelar berlangsung sekitar 45 menit sehingga penari perlu menyiapkan kondisi fisik yang prima.

Plt Kadipaten Mondropuro, Pura Mangkunegaran Raden Tumenggung Supriyanto Waluyo mengakui bahwa Tari Bedhaya Anglir Mendhung menjadi tarian sakral di Mangkunegaran. Tarian ini juga menjadi tarian level paling tinggi di Mangkunegaran, yakni mempunyai koreografi, olah tubuhnya harus seimbang.

Pura Mangkunegaran memang sejauh ini dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa. Karya-karya tari diciptakan di dalam tembok keraton ini. Tari gaya Mangkunegaran sebagai bagian dari tari Jawa adalah seni yang memiliki nilai-nilai luhur. Dalam tari gaya Mangkunegaran terkandung nilai-nilai kearifan lokal yang terkait dengan identitas budaya, jati diri, dan makna filosofis bagi kehidupan manusia. yds