SEMARANG (Jatengdaily.com) – Siang itu Kamis (17/11/2022) Muhammad Ahsanul Husna sedang berada di ruang tamu SD Darussalam, yang berlokasi di Jalan Borobudur RT 06/08, Desa Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.
Pria kelahiran 27 Juni 1986 yang kini telah menyandang gelar Doktor ini ramah menyapa, ”selamat siang mari silakan duduk.”
Dari wajahnya yang sumringah saat menyambut, nampak jelas kebaikan, ketulusan, dan totalitasnya untuk ikut membangun pendidikan di Indonesia dalam mewujudkan asa dan mimpi anak-anak bangsa, merubah nasib menjadi lebih baik. Cita-citanya yang ingin memberi layanan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin atau tidak mampu, kini makin nyata dan membuatnya untuk terus bersemangat mengembangkan sekolah ini.
Muhammad Ahsanul Husna yang akrab disapa Ahsan merupakan salah satu tokoh muda yang mendapat penghargaan dari PT Astra International Tbk, sebagai penerima apresiasi Satu Indonesia Award Tahun 2021 Tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Bidang Pendidikan. Pemberian penghargaan diantaranya karena Ahsan sebagai penggerak lembaga pendidikan untuk masyarakat tidak mampu.
Menurutnya, sekolah yang berdiri di tahun 2006 ini awalnya hanya ada tujuh siswa saja. Dalam perjalanannya siswa makin bertambah, di tahun 2011 ada 36 anak dan kini di tahun ajaran 2002/2023 memiliki 307 siswa untuk dua kelas paralel dari kelas 1 sampai 6.
Pendirian SD ini digagas oleh keluarganya serta tokoh masyarakat dan di bawah yayasan Darussalam yang kemudian digerakkan secara total oleh Ahsan selama 16 tahun terakhir ini. Keberadaan SD gratis ini sangat membantu warga. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, dimana tidak sedikit orang tua dari anak-anak sekolah ini yang kebanyakan adalah buruh dan banyak yang menganggur karena sepi kerjaan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
”Awalnya, saya melihat banyak anak dari keluarga tidak mampu yang membutuhkan layanan pendidikan. Untuk bersekolah di sekolahan swasta, pastinya membutuhkan dana. Sedangkan bersekolah di sekolah negeri, belum tentu bisa tertampung semuanya,” jelas Ahsan yang juga sempat terjun langsung menjadi kepala sekolah dan sekarang menjadi supervisor di sekolah tersebut.
SD Darussalam ini merupakan sekolah swasta yang memberi layanan gratis bagi anak-anak di sekitar kampung di sekolah ini berdiri, yakni di Desa Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Lokasi perkampungan ini meski di kota, namun berada masuk gang dengan jalan menanjak. Di wilayah ini, tidak sedikit warganya yang termasuk kategori dari keluarga tidak mampu dari sisi perekonomiannya.
Mutu Tidak Kalah
Ahsan pun sambil mengobrol mengajak untuk keliling sekolah ini. ”Mari silakan melihat-lihat sekolah ini,” ajaknya.
Mengitari sekolah yang berdiri di atas lahan 1.300 meter persegi, nampak jelas lingkungan yang asri dengan hawa yang sejuk. Selain mengratiskan biaya sekolah dan uang gedung, anak-anak tersebut juga mendapat bantuan sepatu, baju, tas dan perlengkapan sekolah bagi yang membutuhkan.
”Sekolah ini meskipun gratis, namun tidak murahan. Kami juga mengedepankan karakter anak-anak lewat pendidikan agama yang diterapkan. Saat pagi hari sebelum masuk kelas, di lapangan anak-anak membaca Asmaul Husna bersama-sama. Kemudian ada salat dhuha dan dhuhur bersama juga. Mutu kami juga tidak kalah dengan sekolah lain. Sejumlah piagam dan piala kami peroleh dari anak-anak hasil lomba,” jelasnya.
Bahkan menurutnya, saat pertama kali menyelenggarakan Ujian Nasional, memberikan hasil yang memuaskan, menjadi kedua terbaik secara akademik di tingkat kecamatan pada tahun 2012.
Salah satu siswa berprestasi adalah Al Dinerarasi Penghela Soif (11). Siswa kelas 5 ini manyabet juara 1 kejuaraan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cup tahun 2022 tingkat Kota Semarang. Soif juga menyabet juara 3 tingkat nasional kategori Tanding Kelas C Putra untuk kejuaraan Pencak Silat Open Championship (SPOC) tahun 2022. Prestasi yang membanggakan buat sekolah yang notabennya anak-anaknya berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi.
Saat berkeliling sekolah, bel tanda pulang berbunyi. Sejumlah siswa berhamburan ke luar kelas untuk pulang ke rumahnya. Ambar (8), siswa kelas 3 dan teman-temannya saat itu nampak riang keluar dari ruang kelas. ”Saya senang, bisa sekolah di sini, apalagi Pak Guru dan Bu Guru baik-baik,” kata Ambar saat ditanya tentang kesannya bisa sekolah di SD Darussalam.
Ambar bercita-cita ingin menjadi dokter saat besar kelak. ”Ambar harus terus sekolah. Meski ayah sudah meninggal, sebab ingin jadi dokter,” kata Ambar sambil sesaat menyembunyikan kesedihannya mengenang ayahnya.
Menurut Ambar, ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, saat dia masih kecil. Sedangkan ibunya, Fajar Wahyuni bekerja serabutan, dengan menjadi buruh di sarang burung walet.
Rasa senang sekolah gratis di SD ini juga dikatakan oleh Nina Triaryani (11), siswa kelas 5 yang bercita-cita ingin menjadi pramugari. Menurutnya, sekolah di SD ini gratis. Sehingga ayah dan ibunya tidak perlu membayar SPP atau uang gedung. ” Ayah saya bekerja di bengkel cat mobil. Kalau ibu di rumah, ibu rumah tangga,” katanya.
Ahsan pun mengatakan, Ambar dan Nina hanya dua dari 307 siswanya yang memang dari keluarga kurang beruntung dari sektor ekonomi yang sekolah di sini. ”Di sini memang 50 persen lebih anak-anak dari keluarga tidak mampu, sisanya dari keluarga sedang perekonomiannya. Tidak sedikit siswa kami yang ayahnya meninggal dan bahkan ada juga siswa kami yang yatim piatu,” jelasnya.
Menurutnya, untuk bangkit dari kemiskinan salah satunya adalah melalui pendidikan. Dan layanan pendidikan gratis ini diharapkan dapat membangkitkan dan mengantarkan asa anak-anak di sekitar sekolahan untuk merubah nasibnya, orang tua, dan keluarga di masa mendatang.
Adapun jumlah guru dan karyawan saat ini ada 20 orang. Untuk gaji para guru, menurutnya, bersumber dari yayasan yang mengelola beberapa usaha di dalamnya. Sedangkan bantuan dari pemerintah, menurutnya saat ini juga ada kucuran Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sedangkan beberapa waktu lalu pihaknya juga mendapat bantuan untuk pembangunan sarana dan prasarana sekolah. ”Alhamdulillah bantuan cair saat pandemi Covid-19 dan kami gunakan untuk membangun satu ruang kelas dan aula sekolah. Sarana dan prasarana ini makin membuat siswa nyaman dalam proses belajar mengajar,” jelasnya. Siti Khajarwati


