By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Menyatu dengan Alam di Kahyangan Dlepih
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
JedaNewsWisata

Menyatu dengan Alam di Kahyangan Dlepih

Last updated: 14 Februari 2022 17:51 17:51
Jatengdaily.com
Published: 14 Februari 2022 17:51
Share
Aliran sungai dpenuhi bebatuan di Kahyangan Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Foto: yanuar
SHARE

WONOGIRI (Jatengdaily.com) – Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah memiliki sejumlah aset wisata spiritual yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan budaya dan spiritual. Salah satunya Kahyangan Dlepih yang terletak di Kecamatan Tirtomoyo, sekitar 40 kilometer dari puat kota Wonogiri.

Desa Dlepih merupakan daerah subur yang sebagian besar aktivitas warganya bertani. Meskipun sebagian besar daerah Wonogiri merupakan areal pegunungan kapur, namun di daerah Tirtomoyo khususnya Dlepih merupakan lahan subur yang cocok ditanami padi dan sejenisnya.

Tak heran jika kita mengunjungi Kahyangan Dlepih, akan merasakan sensasi menyatu dengan alam karena keindahan lokasinya. Kita bisa melihat pemandangan di sekitar objek wisata ini dengan gemericik air sungai yang mengalir, dengan view bebatuan besar di tengah-tengah sungai.

Pemandangan bukit yang indah, aliran sungai yang membelah perbukitan, serta bebatuan yang berdiri tegar dengan warna yang khas, membuat orang adem ayem, sejenak melupakan kepenatan ruitinas, serta semakin dekat dengan alam

Kahyangan Dlepih hingga kini juga dikenal sebagai objek wisata spiritual, mengingat konon merupakan daerah petilasan Danang Sutawijaya atau Penembahan Senapati, Raja Mataram Islam pertama. Namun banyaknya orang berkunjung ke Kahyangan Dlepih bukan sekadar ngalap berkah tapi lebih pada sebuah pemilihan tempat untuk memanjatkan doa-doa pada Tuhan YME.

Terlebih lagi karena tempat ini juga merupakan tempat petilasan di mana Panembahan Senapati mendapatkan wahyu mendirikan Kerajaan Mataram, sehingga wajar jika orang percaya untuk menggunakan tempat itu sampai sekarang. Sampai sekarang itempat ni banyak dikunjungi wisatawan lokal, khususnya warga Yogyakarta atau Solo, untuk bertirakat terutama di malam Jum’at Kliwon.

Untuk sebagian warga lagi, tempat ini bisa dijadikan alternatif untuk melepas ketegangan setelah sekian lama bekerja dengan menikmati wisata alamnya. Banyak di antara wisatawan yang datang bukan untuk melakukan kegiatan spiritual namun menikmati keindahan alamnya, sekaligus mencari ketentraman hati sekaligus menyatu dengan alam sekitarnya.

Keindahan alam Kahyangan Dlepih cocok untuk wisata menyatu dengan alam dan menghilangkan kepenatan. Foto: yanuar

Wisata Spiritual
Objek wisata ini digunakan sebagai sarana wisata spiritual juga karena terdapat sebuah goa yang terletak di atas Kedung, yang konon tempat ini merupakan petilasan (bekas) bertapanya Panembahan Senopati Ing Ngalogo (Pendiri Kerajaan Mataram Islam).

Selain itu, terdapat pula air terjun, dan puncak Kahyangan yang konon merupakan tempat di mana Panembahan Senopati didatangi Ratu Laut Selatan (Ratu Nyai Roro Kidul), yang bersedia membantu Panembahan Senopati untuk menjadi raja di Tanah Jawa, dengan syarat semua Raja Mataram mau menjadi suami Nyai Roro Kidul. Dan memang akhirnya Panembahan Senopati bisa menjadi Raja di Mataram.

Dilansir laman dispora.wonogirikab.go.id, berdasar cuplikan Babad Tanah Jawa yang diceriterakan oleh KRT. Wignyo Subroto, RM Ng Cipto Budoyo dan RM Ng Sastro Purnomo BA, (Pejabat Kawedanan Hageng Punokawan Widya Budaya yang membidangi Adat dan Kebudayaan Keraton Kasultanan Yogyakarta), latar belakang Hutan Kahyangan Dlepih dikeramatkan adalah karena Kahyangan pernah digunakan untuk bertapa bagi Sunan Kalijaga (salah satu wali sembilan), Raden Danang Sutawijaya/ Panembahan Senopati Ing Ngalogo (Putra Angkat Sri Sultan Hadiwijaya di Pajang), Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Hanyokrokusumo), dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwono I).

Menurut cerita Sunan Kalijaga bertapa di Kahyangan untuk mendapat derajad keluhuran budi. Beliau ditemani seorang muridnya yang setia, bernama Ki Widonanggo.

Sunan Kalijaga setiap habis sholat pasti melakukan dzikir dengan menghitung biji tasbih. Suatu ketika Ki Widonanggo ingin sekali memiliki tasbih tersebut dengan jalan merebutnya dari tangan sunan.

Namun niat jelek tersebut tidak terwujud karena tasbih terputus dan bijinya jatuh tersebar di Kedung Pasiraman. Oleh karena biji tasbih tersebut dilihat Ki Widonanggo masih terapung semua, maka dia langsung terjun ke Kedung Pasiraman bermaksud mengembalikannya. Namun dengan suatu keajaiban biji-biji tersebut langsung tenggelam. Gagallah usaha Ki Widonanggo untuk memiliki tasbih itu. Karena perbuatannya itu, Ki Widonanggo akhirnya diminta menunggu hutan Dlepih.

Batu-batu

Saat masuk areal objek Kahyangan Dlepih juga akan terlihat sejumlah batu-batu berukuran besar yang dianggap keramat oleh sebagian orang. Selain itu sungai di Kahyangan Dlepih ini sebagian besar berisi batu-batuan dari yang berukuran kecil hingga besar.

Saat kita masuk areal petilasan, sekitar 100 meter dari areal parkir akan menemui sebuah batu besar yang diberi nama Sela Bethek. Batu ini di bagian atasnya berbentuk seperti atap. Sekelilingnya berpagar bethek, anyaman bilah bambu. Konon tempat ini dipercaya sebagai tempat tinggal Nyai Puju beserta keturunannya, yang ditugasi Panembahan Senapati menjaga Kahyangan Dlepih.

Tempat ini menjadi pusat penempatan sesaji raja-raja trah Mataram. Beberapa meter dari Sela Bethek, kita akan masuk ke sela-sela dua batu besar yang bersentuhan. Batu tersebut dinamai Sela Gapit karena bergandengan. Jika kita akan masuk areal pertapaan atau tempat semedi, harus melewati lorong di bawah dua batu tersebut. Orang juga menyebutnya sebagai Sela Penangkep, yang sekaligus berfungsi sebagai pintu gerbang utama Kahyangan Dlepih.

Tak jauh dari pintu gerbang tersebut, akan sampai di Sela Payung, sebuah batu yang atasnya menyerupai payung dan bisa untuk berteduh di bagian bawahanya. Tempat ini merupakan tempat utama meditasi atau memanjatkan doa-doa. Dalam cerita yang berkembang, tempat tersebut juga menjadi tempat pertapaan Panembahan Senapati sehingga juga disebut Sela Pasemeden.

Kahyangan Dlepih pada era selanjutnya juga menjadi tempat nenepi Pangeran Sambernyawa atau RM Said, yang merupakan Raja Mangkunegaran I (Mangkunegara I). RM Said juga merupakan cikal bakal pendiri wilayah Wonogiri. yds

You Might Also Like

Pembibitan Tuai Hasil, Ganjar Bangga Atlet Popnas Jateng Sabet 39 Medali Emas
Napak Tilas Kosnya di Yogyakarta, Warga Sebut Ganjar Tetap Baik dan Ganteng
Diamankan Polisi, Pelaku Pelemparan Batu ke Kereta Api Terancam Pidana
Undang-Undangnya Sudah Disahkan, Jakarta Bakal Lepas Status Ibu Kota
Polda Jateng Terbaik Penanganan TPPO, Irjen Ahmad Luthfi Terima Presisi Award 2023
TAGGED:kahyangan dlepihobjek wisata wonogiritirtomoyo wonogiriwisata spiritual
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?