Oleh: Diana Dwi Susanti
Fungsional Statistisi BPS
Provinsi Jawa Tengah
PRODUK Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah gambaran ekonomi suatu wilayah dengan capaian hasil pembangunan yang diupayakan oleh seluruh pelaku ekonomi di wilayah tersebut. Semua pasti berlomba-lomba untuk meningkatkan capaian PDRB. Semakin tinggi PDRB diharapkan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Meningkatnya angka PDRB ini dikenal dengan sebutan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan dalam suatu perekonomian. Di mana pertumbuhan ekonomi menggambarkan perubahan kondisi perekonomian yang terjadi di suatu wilayah secara berkesinambungan untuk menuju keadaan yang dinilai lebih baik selama jangka waktu tertentu.
Pertumbuhan ekonomi menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu wilayah karena dapat menjadi salah satu ukuran dari pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa tersebut. Sebagai salah satu indikator strategis, pertumbuhan ekonomi sering digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan atau keberhasilan pembangunan ekonomi suatu wilayah.
Pertumbuhan ekonomi diharapkan adalah pertumbuhan yang berkualitas, mampu menciptakan pemerataan pendapatan, pengentasan kemiskinan, dan mengurangi tingkat pengangguran, serta tercapainya kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata. Pertumbuhan ekonomi ini hendaknya dapat didistribusikan ke seluruh rakyat yang ada di wilayah tersebut. Sehingga peningkatan ekonomi berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Apakah PDRB tinggi menjamin tingkat kesejahteraan rakyat? Mengukur pembangunan hanya dari Produk Domestik Regional Bruto dan Pertumbuhan Ekonomi menghilangkan kenyataan ketimpangan di masyarakat dalam menikmati pembangunan kurang bisa memotret keadaan yang sebenarnya di kehidupan rakyat suatu wilayah.
Hanya mengandalkan PDRB per kapita tidak akan menyelesaikan persoalan ketimpangan yang melebar meskipun pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Untuk mengetahui PDRB ini merata dinikmati rakyat diperlukan alat ukur yang menggambarkan tingkat distribusi pendapatan. Dengan PDRB tinggi dan ketimpangan yang rendah merupakan visualisasi pertumbuhan ekonomi inklusif dinikmati oleh rakyat.
PDRB Per Kapita Jawa Tengah
Akhir bulan Maret 2022 media dikejutkan dengan pemberitaan tentang PDRB per kapita Jawa Tengah tahun 2021 paling rendah dibandingkan provinsi di pulau Jawa. Apakah kondisi ini bisa dikatakan Jawa Tengah paling tidak sejahtera?
Belum tentu. PDRB per kapita adalah gambaran makro dari capaian ekonomi wilayah dibagi dengan jumlah penduduk. Seakan-akan setiap penduduk mendapatkan hasil yang sama dalam pembagian kue pembangunan tersebut. Padahal yang terjadi di dalam masyarakat, tentu ada kelompok masyarakat golongan atas, menengah dan bawah.
Tahun 2021, distribusi pendapatan Jawa Tengah berdasarkan kriteria Bank Dunia termasuk ketimpangan rendah atau bisa dikatakan merata. Karena 40 persen pendapatan terendah menikmati lebih dari 17 persen total pendapatan. Sedangkan provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat mencatat distribusi pendapatan berdasarkan kriteria Bank Dunia termasuk kategori sedang atau kue pembangunan masih banyak dinikmati oleh penduduk menengah ke atas.
Angka gini rasio Jawa Tengah juga menunjukkan tingkat ketimpangan rendah. Bahkan angka gini rasio Jawa Tengah masih lebih rendah dibandingkan angka nasional. Visualisasi ini menyatakan bahwa distribusi pendapatan di masyarakat hampir merata. Angka gini rasio semakin mendekati 0 maka distribusi pendapatan semakin merata.
PDRB tinggi menjadi tujuan setiap pemangku wilayah, tetapi hanya mengejar pertumbuhan ekonomi saja tanpa melihat keterlibatan penduduk di wilayah tersebut hanya mendapatkan kemakmuran yang semu. Setiap aktivitas ekonomi selayaknya akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru sehingga dapat memberi peluang penambahan penyerapan tenaga kerja.
Dengan demikian pertumbuhan ekonomi mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui peluang kerja yang diciptakan dan peningkatan pendapatan rumah tangga. Jatengdaily.com-yds


