Loading ...

Oleh: Santi Widyastuti
Statistisi di BPS Kota Salatiga

TANGGAL 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). Peringatan ini dilakukan sebagai upaya untuk menggugah kesadaran berbagai pihak akan pentingnya menjaga pola makan dan keseimbangan gizi. Hal tersebut penting karena asupan gizi yang kurang maupun tidak seimbang bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti stunting.

Stunting adalah kondisi anak tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya (bkkbn.go.id). Kondisi tersebut disebabkan karena kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan (mulai janin) dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Selain mengganggu tumbuh kembang anak, stunting juga meningkatkan risiko terdampak penyakit kronis saat dewasa seperti jantung, diabetes, kanker dan penyakit kronis lainnya.

Di sisi lain, stunting juga menyebabkan gangguan dari sisi kognitif. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak dengan stunting memiliki nilai pelajaran yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Selain itu anak dengan stunting ketika dewasa memiliki produktivitas dan penghasilan yang lebih rendah dibandingan dengan yang tidak stunting.

Jika kondisi tersebut dibiarkan dan berkembang, bukan tidak mungkin hal tersebut akan menurunkan produktifitas dan perekonomian negara. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperingati HGN tahun 2022 dengan tema “Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas”.

Prevalensi Balita Stunted
Pemerintah dan seluruh aspek masyarakat tentu saja sudah bekerja keras dalam menangani masalah stunting di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari prevalensi balita stunted (pendek) yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 prevalensi balita stunted sebesar 36,8 persen, turun menjadi 37,2 persen pada tahun 2013 hingga menjadi 30,8 persen pada tahun 2018.

Menurut penelitian terakhir yang dilakukan pada tahun 2021,yaitu studi Status Gizi Indonesia (SSGI) oleh Kemenkes, prevalensi balita stunted di Indonesia sudah turun menjadi 24,4 persen. Kabar tersebut tentu saja membahagiakan, akan tetapi WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Jika dilihat menurut wilayah, Jawa Tengah merupakan provinsi dengan dengan angka stunting yang cukup rendah sebesar 20,9 persen. Memang belum memenuhi target WHO akan tetapi sudah berada pada peringkat 8 provinsi dengan prevalensi balita stunted terendah di Indonesia. Provinsi dengan prevalensi terendah adalah Bali dengan 10,9 persen dan provinsi dengan prevalensi tertinggi adalah 37,8 persen.

Meskipun WHO menargetkan prevalensi stunted maksimal sebesar 20 persen, akan tetapi Pemerintah melalui Setwapres mendorong percepatan pencegahan stunting agar prevalensi turun menjadi 14 persen pada tahun 2024 (stunting.go.id).

Terdapat 3 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah yang sudah berhasil memenuhi target Setwapres yaitu memiliki angka prevalensi stunted kurang dari sama dengan 14 persen. Daerah tersebut antara lain Kab. Grobogan (9,6%), Kota Magelang (13,3%) dan Kabupaten Wonogiri (14,0%). Kota Salatiga berada pada posisi 4 dengan prevalensi balita stunted sebesar 15,2 persen.

Pencegahan Stunting
Pencegahan stunting seharusnya dilakukan sejak bayi dalam kandungan. Pada saat kehamilan, Ibu hamil perlu mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi selain juga mengkonsumsi suplemen atas saran dokter. Pemberian inisiasi menyusi dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif perlu diterapkan pada anak yang baru lahir hingga usia 6 bulan. Setelah umur 6 bulan hingga 2 tahun, ASI tetap perlu diberikan dengan tambahan Menu Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi.

Tentu saja gizi pada MPASI haruslah bernutrisi seimbang, tetapi menurut ahli nutrisi, protein hewani adalah salah satu kunci dalam pencegahan stunting. Menurut PMK No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), kecukupan protein untuk anak usia 1-3 tahun adalah 20 gram per orang per hari.

Menurut data BPS, rata-rata konsumsi protein hewani per kapita dalam sehari di Kota Salatiga sebesar 16,23 gram. Protein hewani tersebut meliputi ikan, udang, cumi, kerang, daging, telur dan susu. Jika dibagi menurut kelompok pengeluaran, 40 persen terbawah rata-rata hanya mengkonsumsi 11,24 gram protein sehari.

Oleh karena itu, untuk mencapai target prevalensi balita stunted 14 persen, pemerintah terkait perlu bekerja keras untuk meningkatkan konsumsi protein terutama pada kelompok pengeluaran 40 persen terbawah. Pemberian bantuan berupa bahan pangan yang mengandung protein hewani perlu semakin ditingkatkan melalui berbagai kegiatan.

Hal yang tidak kalah penting dalam pencegahan stunting adalah pemeriksaan berkala panjang badan menurut usia. Hal ini sudah banyak dilakukan melalui posyandu. Akan tetapi seringkali petugas hanya melakukan pengukuran panjang badan tetapi tidak dicacat dengan baik dan berkelanjutan pada buku kesehatan ibu dan anak (KIA).

Pencatatan merupakan hal yang penting, karena jika catatan tinggi badan menurut usia seorang anak tidak sesuai maka bisa segera dilakukan intervensi sehingga stunting bisa dicegah. Jatengdaily.com-yds