Loading ...
Ilustrasi-Silaturahmi-Idul-Fitri-Melalui-VIdeo-Call

Ilustrasi-Silaturahmi-Idul-Fitri-Melalui-VIdeo-Call

 

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

Takwa kepada Allah SWT dapat diwujudkan dalam bentuk hablum minannnas (hubungan horisontal sesama manusia). Takwa yang mengantarkan kita pada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Salah satunya adalah menyambung tali silaturahmi. Silaturrahmi bisa dikelompokkan menjadi 3 (tiga), antara lain:

Pertama, Silaturrahmi dengan keluarga yang masih ada hubungan nasab (anshab). Yang dimaksud, yaitu keluarga itu sendiri, seperti ibu, bapak, anak lelaki, anak perempuan ataupun orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari orang-orang sebelum bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab.

Kedua, siaturrahmi dengan kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki hubungan rahim ataupun nasab.

Ketiga, Silaturrahmi dengan tetangga, kawan, sahabat maupun handai tolan lainnya.

Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat dari suami atau istri, dan selanjutnya dengan tetangga, kawan, sahabat maupun handai tolan lainnya.

Dengan ketiga kelompok tersebut sambunglah silaturahmi secara baik, berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dalam bentuk lain yang baik. Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi, misalnya dengan cara: saling berziarah atau berkunjung, saling memberi hadiah atau dengan pemberian suvenir dan lainnya.

Masuk Surga

Siapa yang memutus silaturahmi, maka Allah Ta’ala akan memutus hubungan dengannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Sehingga tidak akan masuk surga siapa yang memutus tali silaturahmi. Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:
“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya.

Setelah itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”.

Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Panjang Umur  dan Banyak Rizki

Selanjutnya, Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya.

Nabi Mohammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikian.” [Muttafaq ‘alaihi].

Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Karena itu, Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita introspeksi ke diri kita masing-masing!

Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling mengunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan?

Tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, MT, Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PLANOLOGI) – Fakultas Teknik – UNISSULA. Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah. Ketua Bidang Teknologi Tradisional Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah.Jatengdaily.com-st