DEMAK (Jatengdaily.com) – Kementerian Kesehatan merilis hasil survei global penggunaan tembakau pada usia dewasa (Global Adult Tobacco Survey – GATS) tahun 2011 dan diulang pada tahun 2021 dengan melibatkan 9.156 responden. Selama kurun waktu 10 tahun tersebut, terjadi peningkatan signifikan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta orang. Dari semula 60,3 juta pada 2011 menjadi 69,1 juta perokok pada 2021.
Dilaporkan pula, pada 2011 tembakau telah membunuh 427.848 perokok pada 2011. Atau 1.172 orang mati akibat rokok setiap harinya. Selain itu tahun 2015 tercatat biaya kesehatan untuk mengobati penyakit akibat rokok sebesar Rp 154,84 trilyun, atau 4,5 x cukai rokok sebesar Rp 32,6 trilyun. Parahnya lagi, sekitar 70 % dari 3.000 pasien tersebut terpapar asap rokok saat berada di tempat umum.
Sehubungan itu Puskemas Wedung I gencar mengkampanyekan Upaya Berhenti Merokok (UBM) sebagai salah satu cara pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM). Bertempat di Aula Puskesmas Wedung I, kegiatan dihadiri 16 Guru UKS (SMP dan SMA sederajat) dan 14 Kader Posbindu sebagai peserta.
Kepala Puskesmas Wedung I dr. Urip Suprihadi, M.Kes menjelaskan, UBM digiatkan dalam rangka pengendalian faktor risiko PTM secara terpadu dan berkelanjutan. “Melalui kegiatan tersebut diharapkan guru UKS dan kader kesehatan desa dapat mengoptimalkan dukungan UBM di sekolah dan desa dalam mewujudkan KTR atau Kawasan Tanpa Rokok,” terangnya, didampingi Pj PTM Puskesmas Wedung I Eny Rahmawati, SSiT, Senin (24/10).
Lebih lanjut disebutkan, begitu bahayanya rokok karena dalam satu batang rokok mengandung 4.000 bahan kimia, 400 zat berbahaya dan 43 penyebab kanker (karsinogenik). Sedangkan terdeteksi sebagai racun yang mendominasi dalam rokok adalah nikotin, Tar dan karbon monoksida (Co).
Sementara di sisi lain, beberapa alasan paling populer seseorang merokok antara lain karena tuntutan sosial, ditawari oleh teman, dan merasa tidak enak untuk menolaknya. Selain itu karena ingin terlihat keren dan dewasa. Atau sebagai bentuk perlawanan kepada lingkungan keluarga (orang tua) ketika ada masalah.
“Padahal berhenti merokok bukan hal mudah bagi pencandu rokok. Salah satu penyebabnya adalah adiksi nikotin. Parahnya, nikotin menempati ranking pertama penyebab kematian dan adiksi dibandingkan empat zat lain seperti kokain, morfin, kafein dan alkohol,” kata Eny Rahmawati.
Lebih lanjut diungkapkan, adiksi nikotin dapat membuat seseorang kembali merokok meskipun telah mengalami berbagai penyakit. Sebab nikotin mempengaruhi perasaan, pikiran, dan fungsi pada tingkat seluler.
Sementara berbagai bukti ilmiah menyatakan, perilaku merokok merupakan salah satu faktor resiko yang menyebabkan kesakitan dan kematian akibat PTM. Seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, strok, gangguan pernapasan dan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.
Lantas bagaimana cara untuk berhenti merokok? Kepada segenap peserta penyuluhan, Tim Puskesmas Wedung I memaparkan beberapa cara, seperti memotivasi diri sendiri dengan membulatkan tekad berhenti merokok. Berhenti merokok seketika (total), atau melakukan pengurangan jumlah rokok yang dihisap perhari secara bertahap.
“Selain itu tahan keinginan dengan menunda, berolahraga secara teratur, mintalah dukungan dari keluarga dan kerabat, serta konsultasikan dengan dokter,” imbuhnya.
Jadi, ketika ada keinginan merokok jadilah perokok yang cerdas. Hanya merokok di smooking area. Di samping menyayangi diri, sayangi pula keluarga serta orang-orang terdekat. “Sebab menjadi perokok pasif yang turut terpapar asap rokok meski tidak merokok sama berbahayanya dengan perokok aslinya,” tandas dr.Urip Suprihadi. rie-st


