Upaya Pemertahanan Adat-Istiadat Tak Mudah

Gunoto Saparie
SEMARANG (Jatengdaily.com) – Upaya pemertahanan adat-istiadat bukan hal mudah. Selain karena arus globalisasi, juga karena ada usaha menghilangkan atau meminggirkan tradisi, budaya lokal, dan adat-istiadat dengan mengatasnamakan agama. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan.
Hal itu dikemukakan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah Gunoto Saparie dalam dialog secara virtual pada acara di RRI Semarang Pro 4, Rabu, 23 Maret 2022. Dialog dengan topik Upaya Pemertahanan Adat-Istiadat itu dipandu oleh Tono Langen Kukilo.
Gunoto Saparie mengatakan, awal tahun ini terjadi peristiwa yang membuat sedih para budayawan. Kejadian itu menjadi berita viral di media sosial tentang perbuatan orang menendang sesaji di kaki Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Padahal sesaji itu merupakan bagian dari tradisi dan adat-istiadat suku tertentu dan telah dilaksanakan bertahun-tahun, bahkan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Gunoto mengingatkan, dalam agama ada perintah agar tidak mengganggu upacara adat kaum lain dengan memaki, apalagi sampai melakukan kegiatan fisik, seperti menendang, menyerang, dan sebagainya. Tuhan menciptakan manusia itu agar menebarkan kasih sayang kepada sesama. Kita tidak perlu menghakimi suatu tradisi sebagai buruk atau buruk. Karena yang memiliki hak untuk membuat keputusan suatu perbuatan itu benar atau salah adalah Tuhan.
“Yang paling aktual adalah masalah pawang hujan di acara MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu. Pawang hujan ini menjadi ejekan orang-orang yang merasa lebih agamis dan religius. Padahal pawang hujan telah lama ada di negeri kita. Kita tidak perlu merasa heran dan mengadili jika perbuatan pawang hujan itu syirik,” kata Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) ini.
Identitas Nasional
Gunoto mengingatkan, salah satu masalah utama di bidang pendidikan dan kebudayaan adalah soal identitas nasional. Ketika arus globalisasi begitu deras, kita menjadi khawatir terhadap eksistensi kebudayaan nasional, termasuk kebudayaan lokal. Bukan tidak mungkin kebudayaan lokal, adat-istiadat makin luntur. Kebudayaan asing dewasa ini makin endemik dan mulai mengikis keberadaan kebudayaan lokal yang sarat makna.
Karena itu, demikian Gunoto, agar kebudayaan daerah tetap kuat, ia harus dilindungi, dilestarikan, dibina, dan dikembangkan. Bahkan kalau perlu kebudayaan lokal dijadikan bagian integral pelajaran bahasa dan sastra di sekolah. Kebudayaan lokal ini merupakan kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah dan menggambarkan kehidupan sosial di wilayah bersangkutan. Kebudayaan lokal itu antara lain cerita rakyat, tembang-tembang, ritual, adat-istiadat, dan seterusnya.
“Memperkenalkan kebudayaan lokal kepada para siswa sekolah sangat penting. Karena dengan melalui hal ini kita dapat menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan lokal, seperti nilai religius, nilai moral, nilai kepahlawanan, kepada para siswa,” tandasnya.
Menurut Gunoto, kita tidak mungkin melawan arus globalisasi. Itu adalah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Ia universal, sehingga kita tidak bakal dapat menghindari globalisasi. Dalam hal ini kita hanya dapat mengurangi dampak negatif dari globalisasi. Era globalisasi, dengan modernisasi, bersama revolusi teknologi informasi, merupakan realitas. Di era globalisasi kita berada di dunia tanpa batas. Era globalisasi memberikan pengaruh kepada semua bidang kehidupan, termasuk kebudayaan.
“Karena itu, upaya mempertahankan adat-istiadat tidak boleh setengah-setengah. Harus diperjuangkan sepenuhnya. Jangan sampai jati diri bangsa ini luntur karena arus informasi dari luar. Fenomena globalisasi harus ditanggulangi dengan penuh kebijaksanaan dan pemikiran positif,” katanya sambil menambahkan, menolak globalisasi bukanlah pilihan yang tepat, karena justru menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. st