By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi di Maret-Mei 2023
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi di Maret-Mei 2023

Jatengdaily.com
Published: 28 Januari 2023 05:38
Share
Ilustrasi hujan. Foto: Pixabay.com
SHARE

JAKARTA (Jatengdaily.com)- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi pada masa pancaroba, masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau.

Kondisi cuaca ekstrem itu seperti angin kencang, angin puting beliung, dan hujan lebat berdurasi singkat.

“Pada Maret, April, Mei 2023, beberapa wilayah di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi sebelum memasuki kemarau pada bulan Juni. Hal yang perlu diwaspadai, fenomena cuaca ekstrem yang sering muncul,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, dilansir dari laman humas Polri, Sabtu (28/1/2023).

BMKG memprakirakan curah hujan di wilayah Indonesia mulai mengalami penurunan karena fenomena La Nina yang semakin melemah.

Ketika La Nina terjadi, suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya dan kondisi tersebut mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Berdasarkan hasil pemantauan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, menurut BMKG, saat ini intensitas La Nina terus melemah.

Fenomena La Nina yang semakin melemah dan menuju netral menyebabkan penurunan curah hujan. Saat curah hujan menurun, titik api berpotensi muncul di hutan maupun lahan.

“Kewaspadaan yang lebih tinggi perlu dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau, yang diprediksi umumnya menunjukkan curah hujan yang berkurang, yang lebih rendah dari tiga tahun terakhir meskipun sifatnya kembali ke normal,” ucap Dwikorita. she

You Might Also Like

Mentan Amran Tinjau Ratusan Ton Bawang Bombay Ilegal yang Digagalkan Tim Gabungan di Semarang
Imbas Banjir Demak dan Grobogan, Wagub Upayakan Ganti Rugi Bibit untuk Petani
Membangun Literasi Statistik, BPS Provinsi Jateng Gelar Talkshow Bersama Media
Acungkan Jari Tengah ke Kamera ETLE, Pemotor di Pekalongan Dikirimi Surat Tilang
Pemerintah Targetkan Satu Juta Vaksinasi Per Hari
TAGGED:bmkgcuaca ekstremla ninamasa pancaroba
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?