Gelar Kita Al Fitri

Oleh : H. Nur Khoirin YD

Beberapa hari yang lalu, 1 Syawal 1444H, kita semua telah diwisuda dan mendapatkan gelar al fitri. Setelah mengikuti kuliah pengendalian hawa nafsu sebulan penuh. Ramadhan adalah madrasah, pendidikan dan latihan disiplin diri, kesabaran, ketaatan, dan ketaqwaan. Selama kuliah ramadhan ini, fisik dan psikis kita digembleng dan dibakar dengan merasakan lapar dan dahaga, badan lemah dan merasakan panas. Bukan karena tidak ada makanan dan minuman, bukan tidak punya uang untuk jajan. Tetapi sebagai ujian manusia beriman. Ujian yang diawasi oleh Allah sendiri Sang Maha Melihat, tidak ada yang terlewat dari penglihatanNya, baik yang lahir maupun yang batin. Tidak seperti pengawasan manusia, yang orang bisa menghindar atau kongkalikong mengakalinya. Puasa adalah ujian rahasia. Hanya diri kita dan Allah yang lah mengetahui.
Luluskah kita dari ujian yang berat ini? Agar lulus ujian ini dengan nilai yang tinggi, maka tidak hanya menahan lapar, dahaga dan seks, tetapi ada beberapa larangan yang harus dihindari agar tidak merusak nilai ujian. Menurut Hadits Nabi saw, ada 5 hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa, yaitu ghibah (membicarakan orang lain), namimah (mengadu domba), berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu (HR Ad-Dailami). Larangan ini juga berlalu di luar bulan-bulan puasa. Ujian Ramadhan juga harus dijalani dengan ikhlas, sepenuh hati, lillahi ta’ala, dan bukan karena riya’ (pamer) dan takabbur (sombong). Untuk menambah nilai ujian, kita juga dihimbau untuk tarawih, tadarus, qiyamullail. Di akhir ujian ramadhan kita juga wajib menunaikan zakat fitrah, zakat mal, dan memperbanyak sodaqah.

Gelar kita Al Fitri
Hari-hari ini insyaallah kita sudah lulus semua mata ujian ramadhan. Berbagai rintangan dan pantangan sudah kita lalui dengan baik. Kita sudah diwisuda dan mendapatkan gelar al Fitri. Gelar yang lebih tinggi dari sekedar sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana agama, master s2, atau doktor lulusan s3. Gelar al fitri ini pantas disematkan pada pribadi-pribadi yang kembali suci setelah kerak dosa-dosanya selama 11 bulan dibakar api ramadhan. Si Fitri telah kembali kewatak aslinya, putih bersih, sebagaimana bayi yang bari dilahirkan. Nabi saw bersabda :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ، وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا واحْتِسَابًا، خَرَجَ مِنَ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (Musnad Ahamd no. 1660, Sunan An-Nasa’i no. 2210, Ibnu Majah no. 1328)
Nabi saw juga bersabda dalam riwayat Muslim, “Kullu mauludin yuladu ‘alal fitrah” (setiap bayi lahir dalam keadaan suci (Islam). Kesucian ini kemudian ternoda oleh perilaku dosa dan maksiat, sehingga menjadi keruh dan hitam, tetapi kemudian dicuci dan dibakar oleh ramadhan, sehingga kembali putih dan bersih.
Tidak ada manusia yang luput dari salah dan lupa. Nabi saw bersabda : “al insanu mahallul khatha’ wan nisyan”. (manusia tempatnya salah dan lupa). Semua manusia diberikan potensi yang sama oleh Allah. Tidak ada manusia yang seperti malaikat tanpa dosa. Tetapi juga tidak ada manusia yang seperti syaitan, tidak punya kelebihan. Semua manusia di samping memiliki kelebihan, pasti memiliki kelemahan dan kesalahan. Orang yang baik, bukan orang yang tidak pernah dosa. Nabi bersabda : “khoirul khaththa’iin at tawwabun”. Orang yang baik adalah orang yang berdosa tetapi segera bertaubat, menyesali kesalahannya, berjanji tidak akan mengulangi, dan kemudian menutup dosanya dengan perbuatan-perbuatan yang baik. “Innal hasanat yudhibnas sayyi’at” (sesungguhnya perbuatan baik menutup perbuatan buruk).
Idul fitri ini adalah momentum wisuda yang ditunggu-tunggu, hari yang indah, penuh kebahagiaan dan kesenangan, hari pertemuan dan silaturrahmi, hari yang penuh rahmat dan ampunan, hari yang penuh berkah, hari dimana kita dilahirkan kembali sebagai manusia yang fitri, putih bersih tanpa dosa tanpa goresan, setelah sebulan lamanya kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh hidmat, imanan wahtisaban. Ramadhan secara harfiyah artinya adalah membakar, yaitu membakar dosa-dosa kita. Maka doa yang selalu kita ucapkan ketika sedang berjabat tangan halal bil halal adalah “taqabbalallahu minal aidin wal faizin” (semoga Allah berkenan menerima ibadah kita, dan semoga kita termasuk orang-orang yang kembali bersih dan beruntung).

Bodo Kupat
Setelah hari raya Idul Fitri tanggal 1 Syawal, masyarakat Jawa, khususnya di daerah pantai utara, masih ada satu hari raya lagi, yaitu bodo kupat yang ditandai dengan makanan kupat dan lepet. Makna filosofi kupat adalah “ngaku lepat”. Artinya, mengaku salah, merasa dirinya yang banyak salah, mengakui diri sendiri masih banyak kekurangan dan kelembahan, menyadari bahwa hidupnya belum berarti apa-apa. Mengaku bersalah, baik kepada Allah swt Sang Pencipta maupun kepada manusia sesama, adalah awal keasadaran untuk menjadi baik. Syarat bertaubat adalah mengaku bersalah, berjanji tidak akan mengulangi, dan menambal kesalahan dengan kebaikan. Mengaku bersalah juga menjadi syarat untuk membangun hubungan yang harmonis. Maka pada bulan Syawal ini lahirlah tradisi halal bi halal dan silaturrahmi untuk saling memaafkan yang tulus dari hati, dan bukan sekedar basa-basi.
Kupat juga sering dimaknai sebagai “laku papat” (perilaku empat). Lebar (usai) puasa Ramadhan sebulan penuh, seorang muslim telah lebur semua dosanya. Maka gelar Al Fitri harus lahir dengan laku papat yang terpuji, yaitu labur, luber, lebar, dan libur. Labur, artinya dihias, dicat agar cantik. Pada hari raya, kita mengenakan pakaian baru, baju yang terbaik, bau minyak wangi. Dengan puasa diri kita menjadi lebih cantik lahir batin karena dihiasi dengan perilaku terpuji, mengenakan baju taqwa (libasuttaqwa), serta menghias diri dengan akhlaqul karimah. Luber, artinya melimpah, nyiprat ke orang lain. Idul Fitri semua orang menyiapkan berbagai menu untuk menjamu para tamu. Mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Lebar. Artinya, luas atau jembar. Luas pandangan ke depan, jembar manah, lapang dada, dan pemaaf. Dan perilaku libur, artinya, prei dan berhenti. Setelah idul fitri kita stop berbuat dosa dan maksiat. Stop berbuat salah, stop menyakiti. Jangan melakukan salah dua kali. Berbuatlah baik berkali kali. Lepet, artinya lepas cepet-cepet. Jika ada rasa iri hati, dendam, segera lepas, segera meminta maaf atau memberi maafP. Lontong, artinya alon-alon montong. Pelan-pelan tetapi berbuah, memberi manfaat kepada orang lain. Sehingga diharapkan orang yang menyantap hidangan lebaran ini akan mendapatkan kebaikan yang meningkat.

Al Fitri harus tetap melekat
Gelar al fitri ini harus dijaga, agar tetap melekat pada diri kita. Kebiasaan-kebiasaan baik dibulan Ramadhan dan idul fitri ini harus kita teruskan dihari-hari ke depan. Hati al fitri yang lembut, yang pemaaf, hati yang selalu bersyukur, sabar, tawakkal, dan qanaah, harus tetap dipelihara. Puasa kita sebulan kemaren harus mampu menumbuhkan jiwa yang peduli kepada sesama. Hasil puasa adalah tumbuh rasa empati, turut merasakan penderitaan orang lain, dan sudi mengulurkan bantuan. Karena masih banyak orang miskin disekitar kita yang kesulitan makan. Masih banyak anak-anak yang tidak memiliki biaya untuk sekolah dan belajar al Qur’an. Masih banyak anak-anak yatim yang terancam tidak memiliki masa depan. Bulan syawal adalah bulan peningkatan. Syawal adalah adanya peningkatan diri menjadi pribadi yang lebih baik, mejadi pribadi yang mukminin, muttaqin, dan muhsinin.
Semoga Ramdhan yang sudah berlalu menjadikan iman semakin kuat, taqwa meningkat, dan dihiasi dengan akhlaq karimah, dan semakin bermanfaat. Semoga Idul Fitri ini kita lahir manjadi manusia fitri, dengan hati yang baru, dengan semangat yang baru, hubungan baru yang lebih erat bersatu, untuk menyongsong masa depan baru, yang penuh dengan kebahagiaan dan kemulyaan. Amin.

Khutbah Jum’ah 7 Syawal 1444H/28 April 2023 di Masjid Baitul Hasib BPK Jawa Tengah Watu Gong Semarang.

Dr. H. Nur Khoirin YD, MAg, Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo, Advokat, Mediator bersertifikat, Ketua BP4 Jawa Tengah, Ketua Nazhir Uang BWI Jawa Tengah, Sekretaris Bidang Humas dan Kerjasama Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua Bidang Remaja dan Kaderisasi Masjid Raya Baiturrahman, Komisi Hukum dan HAM MUI Jawa Tengah, dll. Tnggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Semarang.J atengdaily.com-St

 

Share This Article
Exit mobile version