Oleh: Puji Astuti
Statistisi Pertama BPS Kabupaten Tegal
PARIWISATA merupakan salah satu penopang perekonomian Indonesia dan mempunyai posisi strategis dalam peningkatan devisa negara. Sejuta keindahan alam, kultur, dan warisan leluhur Indonesia yang orisinil tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Hal ini merupakan potensi wisata yang membuat tiap daerah ikut serta dalam pengembangan atau gencar melakukan promosi wisata, salah satunya adalah Kabupaten Tegal. Kabupaten Tegal salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang secara topografis adalah wilayah pantai di wilayah bagian utara kabupaten ini, sedangkan bagian selatan adalah tanah berbukit di lereng gunung Slamet yang dikelilingi oleh lembah berangin dan bukit.
Kabupaten Tegal menawarkan berbagai pilihan destinasi wisata yang menarik, dari wisata alam hingga wisata sejarah.Beberapa objek wisata yang terkenal diantaranyaAir Panas Guci, Pantai Alam Indah, Waduk Cacaban, Situs Semedo, Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung, Bukit Cepu dan masih banyak lagi lainnya.
Potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Tegal menjadi kekayaan daerah yang ikut berperan dalam peningkatan PDRB. PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB salah satunya yaitu penyediaan akomodasi yang memadai. Akomodasi yang memadai akan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan selama berlibur di Kabupaten Tegal.
Selain itu, akomodasi yang memadai juga akan memberikan dampak positif pada sektor pariwisata dan sektor-sektor lain seperti perdagangan, transportasi, dan jasa lainnya. Di kabupaten Tegal, terdapat berbagai jenis akomodasi yang tersedia untuk wisatawan seperti hotel, penginapan, homestay, dan villa.
Sektor pariwisata di Kabupaten Tegal terus mengalami pertumbuhan yang positif. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB Kabupaten Tegal tahun 2019 untuk sektor jasa lainnya sebagai sektor yang mencatat jasa pariwisata dan sektor jasa akomodasi dan makan minum sebagai penunjang jasa pariwisata masing-masing berhasil mencapai ekonomi sebesar atau sekitar 2,06 persen Rp 1,2 triliun atau sekitar 4,51 persen dari total PDRB Kabupaten Tegal.
Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia awal tahun 2020 membuat sektor pariwisata mengalami penurunan yang cukup signifikan. Banyak destinasi wisata yang tutup dan wisatawan yang datang pun menurun drastis, salah satu contoh obyek wisata populer di Kabupaten Tegal yaitu pemandian air panas Guci.
Data dari Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tegal menunjukkan jumlah wisatawan yang masuk obyek wisata pemandian air panas Guci Tahun 2020 mengalami penurunan 60,69 persen dibanding tahun sebelumnya.
Demikian halnya dengan capaian PDRB Kabupaten Tegal yang juga mengalami penurunan. Sektor yang berkaitan dengan yaitu sektor jasa lainnya, sektor akomodasi makan dan minum, sektor perdagangan dan sektor transportasi mengalami kontraksi pertumbuhannya. Masing-masing sebesar -1,48%, -5,45%, -4,20%, dan -29,18% (BPS).
Pandemi COVID-19 membuat banyak pelaku usaha di sektor pariwisata mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya dan terpaksa mengurangi karyawan atau bahkan menutup usahanya.
Tentunya ini berdampak pada pengurangan lapangan kerja dan banyak pekerja di sektor ini kehilangan pekerjaan. Untuk memulihkan sektor pariwisata di Kabupaten Tegal, pemerintah setempat telah melakukan beberapa upaya serius. Adanya program vaksinasi dan protokol kesehatan yang ketat, serta kolaboratif dari pemerintah, pelaku industri dan masyarakat menjadikan pariwisata di Kabupaten Tegal mulai bangkit kembali.
Pada tahun 2022, jumlah wisatawan yang masuk obyek wisata pemandian air panas Guci berhasil meningkat sebesar 63,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya (BPS).
Kembalinya kepercayaan pada sektor pariwisata tak lepas dari efektivitas upaya penanganan pandemi yang menegaskan bahwa Kabupaten Tegal merupakan destinasi wisata yang sangat layak dikunjungi kembali.
Pemulihan sektor pariwisata di Kabupaten Tegal, diharapkan memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai contoh, dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan yang datang, maka akan meningkatkan permintaan produk dan jasa di sektor perdagangan dan jasa yang ada di sekitar destinasi wisata.
Hal ini tentu akan memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.Jatengdaily.com-st


