By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Para Perempuan Berjubah Putih Warnai Suasana Parade Puisi Moderasi Beragama
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Para Perempuan Berjubah Putih Warnai Suasana Parade Puisi Moderasi Beragama

Last updated: 6 Juni 2023 07:31 07:31
Jatengdaily.com
Published: 6 Juni 2023 07:31
Share
Atthasilani Gunanandani memberikan sambutan pada Parade Baca Puisi Moderasi Beragama di Vihara Tanah Putih Semarang. Foto:dok
SHARE

 

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ada pemandangan yang menarik dari Parade Baca Puisi Moderasi Beragama yang diselenggarakan Perkumpulan Penulis Indonesia “Satupena” Jawa Tengah dn Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah di Vihara Tanah Putih, Semarang, Minggu, 4 Juni 2023. Hadirnya 17 perempuan berjubah putih membuat suasana menjadi eksotik dan mengesankan.

Memang, seperti dikatkan Kepala Vihara Tanah Putih Bhante Cattamano Mahathera, menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak, Vihara Tanah Putih menasbihkan sebanyak 17 peserta pelatihan Atthasilani. Program pelatihan Atthasilani ini menjadi yang pertama diadakan di Kota Semarang. Sejumlah peserta berasal dari luar kota, bahkan ada yang dari Papua dan Kalimantan Selatan. Atthasilani ialah perempuan yang menjalani kehidupan suci dengan menerapkan delapan sila, mengenakan jubah putih, dan mematuhi 75 aturan Atthasilani. Peserta Atthasilani bisa melepas jubah putih setelah 11 hari.

Menurut Bhante Cattamano Mahathera, ada persyaratan untuk menjadi sebagai Atthasilani. Pertama harus ada izin, kalau dia punya keluarga harus diizinkan oleh keluarga. Kalau yang sudah bersuami harus diizinkan oleh suami.

Salah seorang Atthasilani, Gunanandini, menyambut dengan ramah dan hangat kehadiran para penyair anggota Satupena Jawa Tengah dan para tokoh lintas agama dan iman yang mengucapkan selamat Hari Trisuci Waisak. Bahkan mereka berpartisipasi aktif dalam Parade Baca Puisi Moderasi Beragama.

Gunanandini menuturkan proses penasbihan Atthasilani. Ada berbagai persyaratan lainnya yang mesti terpenuhi oleh peserta Atthasilani. Untuk jadi Atthasilani selain harus mendapat izin dari keluarga juga harus bersedia ikut aturan latihan Atthasilani. Tidak punya penyakit menular, minimal berusia 7 tahun dan maksimal usianya itu 60 tahun.

“Mereka dapat memilih untuk melanjutkan pelatihan sebagai seorang Atthasila atau kembali menjalani kehidupan sebagai umat biasa. Dalam agama Buddha ada dua pola kehidupan. Pertama, pola kehidupan rumah tangga. Kedua, meninggalkan pola kehidupan rumah tangga. Itu semua pilihan, ttergantung pada sejauh mana kapasitas kemampuannya, seberapa lama bisa menjalaninya,” ujarnya.

Melalui pelatihan Atthasilani, kata Gunanandini, semua peserta menjalani kehidupan bak seorang Bhikku di Vihara Tanah Putih dan mengikuti Pindapata dengan menerima makanan dari umat. Selama pelatihan Atthasilani, peserta tak boleh makan lewat dari tengah hari. Kemudian tak diperkenankan mengenakan riasan wajah, wewangian, dan segala sesuatu yang bertujuan untuk mempercantik diri.

Gunanandini menambahkan, sebelum bulan purnama, sehari sebelum penasbihan Atthasilani seluruh peserta memotong rambut. Hal itu dimaksudkan untuk melepas sesuatu yang dianggap mahkota seorang perempuan.

Ketua FKUB Jawa Tengah Taslim Syahlan mengatakan, momentum Hari Raya Waisak ini kita jadikan tonggak kerukunan dan moderasi beragama. Melalui puisi-puisi para penyair, kita berharap, agar semua umat beragama rukun dan toleran. Tidak ada permusuhan, yang ada hanya perdamaian.

Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie menambahkan, penguatan moderasi beragama tidak cukup diusahakan secara struktural melalui kebijakan negara. Ia harus menjadi gerakan kultural masyarakat. Para penyair terpanggil komitmen sosialnya dengan menciptakan dan membacakan puisi-puisi bertema moderasi beragama.St

 

 

You Might Also Like

Walikota Semarang Mbak Ita dan Suami Ditahan KPK
Sentra Ternak, Kandang Tempat Rahman Belajar Merawat Kambing
Dihadiri Gus Miftah, Puncak Reuni Akbar Alumni Unissula Berlangsung Gayeng
Jadi Tahapan Krusial di Era Pandemik, Bawaslu Sampaikan Kampanye yang Diperbolehkan
Piala Asia, Skuad Garuda Fokus Hadapi Jepang Besok Petang
TAGGED:moderasi beragamaPara Perempuan Berjubah Putihparade puisi
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?