By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Warga Lereng Sumbing Gelar Tradisi Ruwat Pepunden Kiai Joko Nolo
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Warga Lereng Sumbing Gelar Tradisi Ruwat Pepunden Kiai Joko Nolo

Last updated: 31 Juli 2023 10:23 10:23
Jatengdaily.com
Published: 31 Juli 2023 10:23
Share
Warga Lereng Sumbing gelar ruwat. Foto: Prov. Jateng
SHARE

TEMANGGUNG (Jatengdaily.com)– Warga di Dusun Tanggung, Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, menggelar tradisi ruwat pepunden dengan kirab empat tumpeng rombyong dan air petirtan.

“Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Tidak hanya warga setempat yang ikut tradisi ini, namun juga warga luar daerah yang memiliki kerabat atau keluarga yang dimakamkan di lokasi pemakaman dusun setempat,” kata Kadus Tanggung, Timbul Basuki, Sabtu (29/7/2023).

Ia mengatakan, tradisi ruwat pepunden ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kiai Joko Nolo yang dahulu membuka Dusun Tanggung, serta sebagai penyiar agama Islam di daerah lereng Gunung Sumbing.

“Ini sebagai bentuk penghormatan kepada simbah Kiai Joko Nolo. Kita merawat komplek makam, termasuk batu-batu peninggalan di komplek ini. Kita basuh dengan air petirtan dan ditaburi bunga. Malam sebelum digelar kirab, sesepuh dan warga menggelar prosesi pengambilan air dari sumber mata air Sendang Candi,” terangnya.

Setelah melakukan ritual, warga juga menggelar doa bersama di komplek pemakaman. Kemudian melakukan kembul bujono atau makan bersama sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan.

“Setelah mendoakan leluhur kita, simbah Kiai Joko Nolo, kemudian melakukan kembul bojono. Dalam kegiatan itu nanti terbentuk satu kebersamaan, terbentuk satu persatuan yang lebih erat lagi antar masyarakat,” tegasnya dilansir dari laman humas Prov. Jateng.

Kepala Desa Tanjungsari, Bandriyo Susilo Utomo berpesan agar masyarakat, khususnya generasi muda terus menjaga adat, tradisi, dan budaya.

“Selain pesan nilai moral yang cukup tinggi, dengan budaya ini masyarakat akan semakin memiliki sikap yang beradab. Terlebih saat ini hanya sedikit generasi muda yang paham akan literasi sejarah dan budaya akibat perkembangan teknologi yang sangat pesat,” katanya.

Di sisi lain, Pemdes Tanjungsari juga berencana menjadikan komplek makam Kiai Joko Nolo sebagai tempat wisata religi. Bahkan, pihak desa berencana mengalokasikan dana untuk pembangunan sarana prasarana di lokasi ini.

“Ke depannya akan kita buat juga seperti tempat-tempat wisata religi. Khususnya di makam itu akan kita bangun sedemikian rupa yang tidak mengurangi tradisinya, maupun mengurangi segi-segi agama yang ada di sini,” pungkasnya. she 

You Might Also Like

Jangan Trauma, Terus Menjadi Pendidik Terbaik
PLN Luncurkan Program Power Hero,  Beri Diskon 50% Tambah Daya
Dukung Program Makan Bergizi Gratis, Ini Dua Skema Yang Disiapkan Kementan
Pemain PSIS Dijanjikan Bonus Jika Kalahkan PS Tira
PSI Beri Sinyal Koalisi Dukung Hendi-Ita
TAGGED:lereng sumbingruwat Kiai Joko Nolo
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?