Dampak Nyata Kenaikan Harga Beras di Jateng

Oleh: Tri Karjono
Statistisi Ahli BPS Provinsi Jawa Tengah
Hiruk-pikuk berita kontestasi pemilu presiden dan legislatif yang sangat menyita perhatian masyarakat dalam beberapa bulan terakhir, berangsur mereda seiring dengan telah dilangsungkannya pemungutan suara di pertengahan Februari yang lalu.
Walau masih menyisakan berbagai topik yang masih cukup hangat menjadi pembahasan terutama di tingkat elit terkait hal tersebut, sepertinya pada level masyarakat luas sudah dingin.
Seolah masyarakat luas telah melupakan semua yang terjadi di masa sebelum hari pencoblosan dilakukan. Topik bahasan berganti pada naiknya harga beras yang lebih mengemuka hingga hari ini.
Berbagai asumsi dan alibi yang disampaikan oleh banyak pihak terkait dengan terjadinya kenaikan harga beras ini. Ada yang menyatakan bahwa ini merupakan dampak dari tersalurnya beras cadangan ke bantuan sosial yang diberikan secara masive di bulan Januari yang lalu.
Terserapnya beras pada program tersebut diduga menjadikan beredarnya beras di pasar menjadi berkurang.
Sebagian yang lain menyatakan karena dampak el-Nino yang berakibat pada terganggunya produksi beras oleh pergeseran musim tanam dan panen. Bulan-bulan ini yang biasanya terjadi panen raya, hal itu belum terjadi pada tahun ini. Sehingga suplai dari petani ke pasar mengalami gangguan.
Ada pula yang berasumsi bahwa berkurangnya peredaran beras di pasar oleh terganggunya produksi bukan karena El-Nino, tetapi oleh serangan hama tanaman, seperti yang terjadi di Boyolali. Atau pula curah hujan yang sangat tinggi, hingga berakibat pada banjir dan gagal panennya padi siap penen atau terendamnya tanaman padi muda yang berakibat busuknya akar.
Banjir yang terjadi di beberapa sentra produksi seperti Demak, Kudus, Sragen dan Tegal disinyalir menambah kondisi tersebut.
Yang lain lagi beranggapan bahwa kurang baiknya tata kelola distribusi beras yang terjadi. Ini didasari pada fakta dimana pemerintah hingga memasuki bulan kedua tahun ini telah mendatangkan beras impor sebesar 507 ribu ton dari target sebanyak 2,6 juta ton di tahun ini.
Sementara salah satu tujuan dari impor tersebut adalah untuk menjaga stabilitas harga yang ada di pasar.
Di sisi lain pemerintah melalui institusi terkait dalam setiap kesempatan menyatakan bahwa stok beras aman bahkan dalam menghadapi bulan Ramadan dan Idul Fitri yang tak perlu dikhawatirkan.
Mungkin benar dalam arti terjadi keseimbangan jumlah antara ketersediaan dan kebutuhan, tetapi tidak seimbang dalam arti kesetimbangan harga yang wajar karena ketersediaannya yang bukan seluruhnya di lapangan.
Inflasi dan Harga Gabah di Tingkat Petani
Terlepas dari berbagai asumsi dan alibi diatas, nyatanya kenaikan harga beras terjadi di tengah-tengah masyarakat dan itu menjadi salah satu keresahan yang dirasakan. Kenaikan harga beras di Jawa Tengah mulai terjadi pada awal Januari 2024.
Menurut catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah pada aplikasi Sihati menunjukkan terjadi perubahan harga beras IR64 premium rata-rata sebesar 1,38 persen selama bulan Januari 2024. Pada angka yang hampir mirip terjadi pada beras IR64 jenis medium yang naik rata-rata 1,28 persen.
Pada rilis BPS awal Februari, pada Januari justru terjadi deflasi sebesar 0,08 persen. Namun perlu dilihat lebih ke dalam, ternyata pada komoditas beras secara umum di Jawa Tengah terjadi Inflasi, yaitu 0,08 persen.
Namun inflasi yang terjadi pada komoditas beras di bulan Januari ini direduksi oleh turun lebih dalamnya beberapa komoditas pokok masyarakat yang lain seperti cabe merah dan bahan bakar kendaraan bermotor.
Pada level harga gabah di tingkat petani yang mana ini menunjukkan seberapa besar perubahan harga gabah yang diharapkan dapat menjadi proxy sedikit banyaknya perubahan margin yang diterima, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraannya, terutama petani padi.
Pada bulan Januari, kenaikan pada harga beras diiringi dengan naiknya harga gabah di tingkat petani. Terpantau oleh BPS Provinsi Jawa Tengah, pada gabah kering panen (GKP) terjadi kenaikan harga sebesar 1,93% dari 6.675,42 rupiah menjadi 6.804 rupiah dan pada gabah kering giling (GKG) terjadi kenaikan 2,48 persen dari 7.703,2 menjadi 7.893,87 persen.
Pada bulan berikurnya harga beras berlanjut merangkak naik semakin tajam. Sihati mencatat terjadi kenaikan harga beras IR64 premium rata-rata hingga menembus dua digit yaitu sebesar 10,95 persen dan beras IR64 medium sedikit lebih rendah dengan 8,34 persen. Jika diakulumasi sejak awal Februari, beras IR64 medium kenaikan sebesar 10,90 persen.
Kenaikan harga beras di bulan Februari yang cukup tinggi ini menyebabkan terjadinya inflasi di bulan Februari sebesar 0,57 persen (BPS, 1 Maret 2024). Dimana 0,48 persen diantaranya dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang didalamnya termasuk beras. Ada sedikit penurunan harga seperti harga bawang merah tak mampu menahan inflasi yang terjadi. Inflasi bulanan Februari ini menjadi jauh diatas inflasi yang terjadi pada bulan yangsama tahun 2023.
Di sisi lain harga gabah baik kualitas GKP dan GKP juga mengalami kenaikan sebesar 12 persen dan 7,96 persen. Berbanding lurus dengan kenaikan harga gabah, maka nilai tukar usaha petani (NTUP) di bulan Februari mengalami kenaikan sebesar 4,98 persen. Dimana sumbangan terbesar dipengaruhi oleh naiknya harga pada sub sektor tanaman pangan.
Potensi Luas Panen dan Produksi Beras
Hasil survei KSA Padi BPS Provinsi Jawa Tengah akhir Januari yang lalu, potensi luas panen padi pada empat bulan pertama di tahun 2024 ini akan terjadi penurunan sebanyak 130 ribu hektar atau 17,74 persen dibanding tiga bulan awal 2023. Turunnya luas panen ini akan berakibat menurunnya produksi beras sekitar 310 ribu ton atau 13,25 persen.
Potensi ini terjadi akibat mundurnya panen raya yang biasanya terjadi mulai bulan Januari hingga Maret, pada tahun 2024 ini dimungkinkan baru akan mulai di bulan Maret.
Perlu Pengelolaan
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa diantara kemungkinan lain, salah satu penyebab kenaikan harga beras dapat dipastikan karena stok luas panen dan produksi yang menurun pada dua bulan terakhir. El Nino menjadi salah satu sebab menurunnya produksi beras karena sebagian lahan tak tergarap atau musim tanam dan panen yang harus bergeser mundur.
Namun di sisi lain terjadi kenaikan harga gabah di tingkat petani diikuti dengan pendapatan usaha pertanian tanaman padi yang meningkat pada jumlah produksi yang sama dengan persentase yang lebih tinggi.
Walau persentasenya lebih tinggi dibanding kenaikan harga beras bukan serta merta yang diterima petani dengan margin yang lebih tinggi tersebut lebih banyak. Hal ini bisa dikarenakan oleh luas tanam dan produksi yang lebih sedikit sehingga terjadinya daya tawar yang lebih tinggi.
Yang pasti naik turunnya harga beras yang merupakan komoditas utama terhadap andil inflasi dapat berpengaruh langsung terhadap besaran inflasi secara signifikan. Belum lagi jika kenaikan harga beras yang trejadi ini akan memicu kenaikan komoditas yang lain oleh kepanikan pasar (efek domino). Pastinya akan semakin menambah besaran inflasi yang terjadi.
Bagaimana pun kenaikan beras yang kemudian mampu meningkatkan kesejahteraan petani akan baik, namun demikian demi stabilitas ekonomi dapat terjaga harus dikelola dengan terus berupaya menstabilkan harga di pasar.
Memastikan beras ada di pasar dalam jumlah yang cukup dalam setiap waktu, baik saat panen, saat kemarau, saat momen tertentu seperti hari raya menjadi sangat penting. Petani pula perlu diajak bekerjasama dalam menjaga ketersediaan pangan di masyarakat. Diantaranya dengan mengajak menahan saat melimpah dan melepas di saat kemarau.
Jika pun masyarakat tidak dapat mengelola secara mandiri karena terpaksa melepas saat butuh sementara pasar masih melimpah, maka pengelolaan dapat dikoordinir oleh pemerintah desa dengan kembali mengaktifkan lumbung padi memanfaatkan sebagian dana desa.
Operasi pasar mungkin juga perlu dilakukan tanpa menunggu terjadi kenaikan dalam waktu yang lama dan semakin tinggi. Potensi kapan waktu panen dan kapan waktu tidak panen dengan masing-masing potensi jumlah produksinya yang dihasilkan dari survei KSA BPS dapat digunakan sebagai alat mitigasi resiko kenaikan harga. Didukung oleh informasi cuaca BMKG yang lebih terprediksi dengan tepat dalam wilayah kecil dan jangka yang panjang. Jatengdaily.com-St