By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Kartini Reformis Agama, Membawa Perempuan Berperan Besar di Parlemen
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Kartini Reformis Agama, Membawa Perempuan Berperan Besar di Parlemen

Last updated: 25 April 2024 12:20 12:20
Jatengdaily.com
Published: 25 April 2024 12:20
Share
SHARE

Oleh: Harimurti SST

Statistisi Ahli Muda BPS Kota Tegal

Raden Ajeng Kartini atau yang dikenal sebagai Kartini mempunyai pengetahuan Agama yang dalam dan mempunyai guru Agama yang terkenal yaitu Ustadz Soleh Darat merupakan tokoh bangsawan dari Jepara.

Kartini lahir di Mayong Jepara 21 April 1879 M bertepatan dengan 28 Rabi’ul Akhir 1297H. Kartini merupakan perempuan Jawa yang menikah pada usia 24 tahun dan merupakan inspirator Perempuan di Indonesia.

Merupakan sosok perempuan yang peduli pendidikan. Hari-hari Kartini digunakan untuk belajar, membaca, beribadah, dan berdiplomasi dengan gaya korespondensi. Itu dilakukan karena tradisi Jawa kala itu tidak membolehkan perempuan keluar jauh-jauh dari rumah. Dan Kartini membuktikan bahwa tembok Kadipaten tidak menghalanginya untuk tetap belajar.
Hasil korespondensi Kartini berupa surat-surat Kartini sudah terpublikasikan rapi dalam “Door Duisternis tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Dalam dua surat Kartini kepada Tuan EC Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902 dan 17 Agustus 1902 secara eksplisit menyebut gurunya adalah seorang tua. Bahkan Kartini menyebut bahwa orang Jawa menulis naskah dengan menggunakan huruf Arab (dalam tradisi pesantren disebut huruf Pegon atau huruf Jawi).

“Saya sungguh gembira melihat perkembangan kesenian bangsa bumiputera… Bahagia mendapatkan segala sesuatu yang indah. Cahaya Tuhan ada dalam diri manusia, dalam apa saja, bahkan juga sesuatu yang tampaknya paling buruk… Saya berharap dengan pendidikan dapat membantu pembentukan watak, dan paling utama adalah cita-cita… Saya hendak berbicara dengan kamu tentang bangsa kami, dan bukan tentang pendidikan. Tentang hal itu nanti bukan?

Di sini ada seorang orang tua, tempat saya meminta bunga yang berkembang di dalam hati. Sudah banyak yang diberikan kepada saya, sangatlah banyak lagi bunga simpanannya. Dan saya ingin lagi, senantiasa ingin lagi… Saya tidak mau lagi belajar membaca Al-Qur’an, belajar menghafal amsal dalam bahasa asing, yang tidak saya ketahui artinya. Dan boleh jadi, guru-guru saya, laki-laki dan perempuan juga tidak mengerti. Beritahu saya artinya dan saya akan mau belajar semua. Saya berdosa, kitab yang suci mulia itu terlalu suci untuk diterangkan artinya kepada kami”.

Surat yang sangat panjang itulah kata hati Kartini dalam mengungkapkan betapa dirinya mendapatkan ilmu dari orang tua dalam hal isi kandungan Al-Qur’an. Bahkan kalimat setelah itu ia menegaskan:

“Tahun berganti tahun, kami namanya orang Muslim, karena kami turunan orang Muslim. Dan Kami namanya saja Muslim, lebih daripada itu tidak. Tuhan, Allah, bagi kami hanya semata-mata kata seruan. Sepatah kata, bunyi tanpa arti dan rasa. Demikian kami hidup terus, sampai tiba hari yang membawa perubahan dalam kehidupan jiwa kami. Kami telah menemukan Dia, yang tanpa disadari telah bertahun-tahun dirindukan oleh jiwa kami.”

Dalam surat lainnya kepada Tuan EC Abendanon tertanggal 17 Agustus 1902, Kartini menulis: “Selamat pagi, melalui surat ini Adik datang lagi untuk bercakap-cakap… Kami merasa senangnya, seorang tua yang telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan.

Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran arif dalam bahasa yang indah. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami… Patuh karena takut! Bilakah masanya datang firman Allah yang disebut cinta itu, meresap ke dalam hati manusia yang berjuta-juta itu?… Demikianlah saya, anak yang baru berumur 12 tahun hanya seorang diri berhadapan dengan kekuasaan musuh… Tuhan itu besar, Tuhan itu kuasa!”

Dari surat-surat Kartini gambaran jelas dari Kartini adalah seorang muslimah. Bahkan ada tokoh bernama Ustadz Asrori Al Ishaqi menyebutkan bahwa Kartini adalah waliyullah (kekasih Allah).

Sebagai putri keturunan raja, Kartini menguatkan dirinya dengan mengaji dan belajar agama.Dan yang menginspirasi isi agama Islam dalam Al-Qur’an bagi Kartini adalah Mbah Sholeh Darat. Pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat bukan hanya dalam satu kali pengajian saja, Kartini selalu hadir dalam pengajian-pengajian Mbah Sholeh Darat di Demak, Kudus, dan Jepara.

Kartini dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi. Karena semangat Kartini dalam mempelajari isi Al-Qur’an, Mbah Sholeh selalu memberikan pretilan (tulisan tangan dengan satu dua lembar kertas) kepada Kartini. Dari situlah Kartini mulai belajar huruf Arab Pegon.

Bagi Kartini, belajar Arab bukanlah sulit. Sebab ia juga dikenal sebagai wanita Jawa yang menguasai bahasa Belanda, Perancis, dan Inggris. Kartini pun menjadi santri kalong kesayangan Mbah Sholeh Darat. Kartini sangat kritis, maka tidak aneh jika di usia 12 tahun ia sendiri mengatakan sudah berani melawan penjajah.

Pada awal belajar Al-Qur’an, Kartini mengaku hampa. Sebab, ia hanya belajar mengeja dan membaca, sementara isi kandungan Al-Qur’an tidak dapat diserap.

Ia mengibaratkan bahwa belajar Al-Qur’an dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya. Ketika meminta gurunya mengartikan Al-Qur’an, justeru Kartini dimarahi.

Kartini pun gelisah. Ia berontak karena merasa belum sempurna Islamnya jika belum tahu isi Al-Qur’an.

Bahasa asing seperti Belanda, Prancis, dan Inggris yang berhasil ia kuasai mendorong dirinya untuk memahami bahasa agamanya, yakni Arab. Namun, Kartini tidak menemukan guru bahasa Arab atau guru tafsir.

Kegelisahan itu kemudian dia tulis dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu Bahasa Arab.

Di sini, orang diajari membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Kritik Pembelajaran Agama

Begitu dahsyatnya Kartini melakukan kritik kuat terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu. Dan itu menunjukkan kuatnya minat Kartini untuk memahami isi Al-Qur’an. Dan saat itu, belum ada Tafsir Al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran.

Semangat Kartini dalam keinginan mengetahui Agama juga memberi semangat kepada Kartini untuk mengajar. Ada balancing antara keingintahuan dan mengajar bagi masyarakat, sehingga masyarakat menjadi masyarakat yang terdidik.

Semangat Kartini membawa pengaruh kuat kepada Perempuan Indonesia untuk berkiprah di Masyarakat, sehingga pada masa kemerdekaan perempuan Indonesia aktif dalam turut dalam perjuangan membawa Kemerdekaan Indonesia.
Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan Raden Ajeng Kartini dan para Perempuan Indonesia akhirnya terwujud pada 17 Agustus 1945.

Pada Masa Kemerdekaan Indonesia sekarang peran yang menonjol para perempuan Indonesia terlihat juga pada Kiprah Legislatif, sebanyak 575 anggota DPR RI 2019-2024 terpilih resmi dilantik dan diambil sumpahnya pada 1 Oktober 2019 lalu.

Dari jumlah itu sebanyak 463 orang atau 81persen adalah laki-laki dan 112 orang atau 19 persen adalah perempuan.
Pada pemilu serentak pertama ini terjadi peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen bahkan jika ditarik lebih kebelakang jumlahnya jadi yang tertinggi dibanding pemilu-pemilu sebelumnya.

Kita bisa lihat pada Pemilu 1999 jumlah anggota DPR RI perempuan yang terpilih sebanyak 44 orang (9 persen), angkanya meningkat di Pemilu 2004 menjadi 65 orang (11,3 persen). Di pemilu berikutnya, 2009 keterwakilan perempuan meningkat kembali menjadi 100 orang (18 persen), namun di Pemilu 2014 angkanya sempat menurun menjadi 97 perempuan (17 persen) yang lolos ke Senayan.

Peningkatan anggota legislatif perempuan pada Pemilu 2019 yang mencapai 19 persen merupakan hasil panjang perjuangan kartini dalam meningkatkan emansipasi Perempuan di Indonesia.

Tren anggota legislatif wanita sejak tahun 1955 meningkat sampai pemilu terakhir. Anggota legislatif perempuan hasil pemilu 1955 sebesar 6 persen dari total anggota legislative 272 orang atau jumlahnya ada 16 anggota parlemen perempuan pada tahun 1955.

Pada pemilu pertama Era Orde Baru jumlah anggota legislatif perempuan mencapai 31 persen atau naik 15 orang, jumlah ini secara prosentase juga meningkat menjadi 7 persen.

Kiprah perempuan Indonesia sebagai hasil perjuangan Raden Ajeng Kartini pada di Parlemen meningkat kembali pada Masa Reformasi dengan perolehan kursi parlemen sebanyak 44 kursi atau terjadi peningkatan dua persen dibanding awal orde baru.
Selamat Hari Kartini, sukses selalu untuk perempuan Indonesia.Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Menjadi Wartawan yang “Rahmatan lil Alamin”
Piknik saat Pandemi? Tak Perlu Panik
Wajah Pendidikan Indonesia
Mungkinkah ASN Netral dalam Pemilu 2024?
Dari Purbalingga ke Mandalika
TAGGED:Berperan Besar di ParlemenKartini Reformis AgamaMembawa Perempuan
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?