DEMAK (Jatengdaily.com) – Saat puasa Ramadhan, harus sungguh-sungguh merasakan lapar. Sebab hikmah di balik rasa lapar itu, empati terhadap mereka yang tengah kekurangan tumbuh. Sehingga bisa menjadi ‘alarm’ atau pengingat, agar terbiasa bersedekah kepada yang membutuhkan.
Oleh sebab itu lah puasa Ramadhan disebut sebagai ibadah yang luar biasa. Sebab wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh di tengah aktifitas keseharian, tanpa boleh mengeluh.
Demikian disampaikan Wakil Bupati Demak KH Ali Makhsun dalam mauidhoh hasanahnya, pada acara Forum Komunikasi Ulama Umara Kecamatan Demak, yang diselenggarakan di Gedung Ghradika Bina Praja, Rabu (06/03/2024). Hadir pada kegiatan tersebut Bupati Demak dr Hj Eisti’anah SE, Penasehat MUI Kabupaten Demak KH Muhammad Asyiq, serta Plt Camat Demak HM Syahrir tentunya sebagai penyelenggara.
Baca Juga: Arma Leather and Craft UMKM Binaan RB Rembang Semen Gresik Berhasil Tembus Pasar China
“Memang harus merasa lapar di tengah kegiatan. Karena rasa yang muncul itu menjadikan kita bisa merasakan laparnya mereka yang kekurangan. Kalau puasa tapi seharian tidur tanpa aktifitas, bayi juga bisa,” seloroh Wabub Ali Makhsun.
Perbedaan awal mulai atau berakhirnya puasa yang biasa terjadi saat Ramadhan, hendaknya tidak menjadikan perpecahan. Sebab perbedaan dalam menyikapi munculnya hilal penanda dimulai atau berakhirnya puasa bukan lah hal yang harus dipertentangkan. “Ada hal lebih penting adalah, rasa syukur karena kita diberi umur panjang sehingga bisa kembali bertemu Ramadhan, dan menjalankan rangkaian ibadah di dalamnya,” imbuh Wabup Ali Maksum.
Di sisi lain, dalam sambutan arahannya Bupati Demak dr Hj Eisti’anah SE berpesan agar menjadikan FKUU tak hanya sebagai penyambung silaturahmi dan ukhuwah islamiah. Namun sekaligus sarana bersama membangun Kabupaten Demak lebih Bermartabat, Maju dan Sejahtera.
“Seperti diketahui bersama, Karanganyar belum lama ini dilanda bencana banjir, nyaris satu bulan warganya hidup di pengungsian. Kami mohon doa Rama Kiai dan Ulama agar Kabupaten Demak khususnya dan Indonesia pada umumnya terhindar dari segala bencana,” kata bupati.
Pada saat sama, kepala desa, lurah, dan camat sebagai pemangku wilayah atau Umara, agar senantiasa berkoordinasi dan menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat juga tokoh agama. Sebab tantangan persoalan sosial kedepan bisa saja semakin kompleks, dan sinergitas umara dan ulama sangat penting demi mewujudkan kondusifitas wilayah,” tandas bupati. rie-St
Bupati Demak dr Hj Eisti’anah didampingi Wabup KH Ali Makhsun, Pembina MUI KH Muhammad Asyiq, serta Firkompimcam Demak berfoto bersama kades, lurah serta kalangan kiai dan ulama peserta FKUU. Foto:dok


