SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Jawa Tengah, Eka Sulistia Ediningsih mengajak para mitra kabupaten/kota, mulai dari IPeKB, OPD, dan beberapa perbankan dan perusahaan di Jateng bergotong royong menjadi bagian dari gerakan orang tua asuh cegah stunting (Genting).
Hal tersebut disampaikan pada Sosialisasi ‘Genting’ Bersama Forum CSR Perusahaan dan Perbankan Tahun 2024 di Wisma Perdamaian Semarang, Senin (30/12/2024).
Dari sisi kualitas penduduk, lanjut Mak Eka, panggilan akrab Kepala Perwakilan BKKBN Jateng, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar karena prevelensi stunting yang masih sebesar 21,5 persen (SKI 2023), sementara target angka stunting hingga akhir 2024 adalah turun menjadi 14 persen.
”Keluarga prasejahtera perlu dibantu. Kalau sekarang konsentrasi perbaikan gizi, maka secara gotong-royong lintas elemen berupaya mencegah stunting. Indikator keluarga stunting, di antaranya tidak punya jamban, penghasilan rendah, terlalu banyak melahirkan sehingga masuk keluarga berisiko stunting,” ujar Mak Eka.
Sementara itu Asisten Pemerintahan & Kesra Setda Prov Jateng, Dra. Ema Rachmawati berharap, tidak hanya pemerintah saja yang memiliki tanggung jawab soal stunting, namun seluruh pihak baik BUMN, BUMD, swasta, maupun perseorangan untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan stunting.
Ema juga menyinggung penyebab stunting bukan semata hanya anak kekurangan gizi, tetapi juga diakibatkan kurangnya ketersediaan air bersih. Dia mencontohkan kasus di Pekalongan, ada sebuah kampung yang kesulitan air bersih, hampir tiap hari tergenang banjir rob, sehingga berdampak pada pertumbuhan anak.
“Akibat rumahnya sering tergenang air, sehingga air yang mereka konsumsi ternyata mengandung bakteri e-coli. Kasus lain ada yang membantu makanan bergizi, tetapi ternyata makanan yang diberikan itu pedas, sehingga setelah dikonsumsi malah mengakibatkan diare dan tidak terserap oleh tubuh, akibatnya tetap terjadi stunting,” kata Ema.
Ema juga menyampaikan, selain membantu makanan bergizi, perlu digencarkan edukasi bagi orang tua. Salah satu contoh, anak balita seharusnya tidak boleh memegang atau makan krupuk, orang tua masih banyak yang malas menyuapi anaknya (ndulang). Maka hal seperti ini perlu juga edukasi.
Menurut Ema Rachmawati, jumlah balita di Jateng sebanyak 2.137.986 balita, dengan rincian balita bermasalah sebanyak 974.856 (45,60 persen), balita berat badan tidak naik sebanyak 620.755, berat badan kurang sebanyak 54.912 balita, kekurangan gizi sebanyak 93.043 balita, dan gizi buruk 7.728 balita.
”Bentuk bantuan, nutrisi per orang Rp 15.000/hari selama enam bulan sebesar Rp 2,7 juta. Sedangkan bantuan non nutrisi bisa berupa bedah rumah, jamban sehat, dapur sehat, dan air bersih. Target sasaran sampai dengan 2025 sebanyak 123.588 sasaran, dan dalam waktu dekat ditargetkan 1.000 anak asuh,” ujar Ema.
Sedangkan dukungan Program ‘Genting’ di 35 kabupaten/kota di Jateng per 23 Desember 2024 tercatat total mitra sebanyak 871, total anak asuh sebanyak 903 anak, dengan nominal senilai Rp 1.827.755.278. St


