Loading ...

Ritual Cukur Rambut Gimbal, Puncak Magis Dieng Culture Festival 2025

IMG-20250824-WA0138

AHY dan Gubernur Jateng hadiri tradisi cukur rambut gimbal. Foto: humas prov jateng

BANJARNEGARA  (Jatendaily.com)- Kabut pagi yang menyelimuti Dataran Tinggi Dieng seolah menambah khidmat suasana ketika delapan anak berambut gimbal, atau yang akrab disebut anak bajang, diarak dengan andong berhiaskan janur dan kain batik. Senyum malu-malu mereka terselip di antara riuh sorak ribuan penonton yang memenuhi jalan desa menuju kompleks Candi Arjuna, Minggu (24/8/2025).

Prosesi kirab budaya itu menjadi pembuka ritual yang paling ditunggu-tunggu dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2025: pencukuran rambut gimbal anak bajang. Dari rumah tetua adat sekitar pukul 08.00 WIB, arak-arakan bergerak perlahan, membawa harapan orang tua dan doa masyarakat agar anak-anak itu kelak tumbuh sehat, berkarakter, dan mendapat keberkahan.

Di pelataran Candi Arjuna, ribuan mata terpaku pada momen sakral ketika satu per satu anak gimbal duduk di kursi yang telah disiapkan. Rambut gimbal mereka, yang selama ini tumbuh secara alami tanpa bisa diubah dengan sisir ataupun shampo, dipotong dengan penuh kehati-hatian. Kali ini, momen semakin istimewa karena Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi ikut hadir, bahkan AHY berkesempatan mencukur salah satu anak.

“Tradisi ini akan kita perbesar, biar turis mancanegara melihat, sehingga turisnya banyak,” ungkap Gubernur Luthfi dengan nada penuh semangat.

Meski menjadi acara penutup, prosesi ruwatan justru menjadi magnet terkuat festival. Ribuan orang rela berdesakan demi menyaksikan langsung tradisi yang diyakini hanya dianugerahkan kepada anak-anak tertentu di Dieng.

Rahayu, wisatawan asal Jakarta, mengaku terharu bisa melihat prosesi itu untuk pertama kalinya. “Sudah sering dengar tetapi baru kali ini lihat langsung. Takjub kenapa rambutnya bisa begitu. Tadi sempat bertanya, apakah tidak bisa dikeramasi atau dilurusin saja. Ternyata memang akan tumbuh lagi,” katanya sambil tersenyum.

Hal senada dirasakan Suci, wisatawan lain dari Jakarta. Ia terkesan bagaimana tradisi sakral bisa dikemas dalam festival yang atraktif. “Belum pernah ketemu yang seperti itu. Untuk acara adat bagus banget. Memang anak-anak itu punya kelebihan, kan tidak semua dapat rambut gimbal. Jadi perlu dilestarikan. Takjub banget lihat langsung,” ujarnya.

Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal pada anak bukan sekadar fenomena fisik, melainkan anugerah sekaligus amanah. Karena itu, ritual cukur rambut tak bisa dilakukan sembarangan. Selain memotong rambut, setiap anak biasanya meminta sesuatu—entah mainan sederhana, pakaian, hingga perhiasan—yang dipercaya sebagai syarat agar gimbal tidak tumbuh kembali.

Suasana haru bercampur takjub itu menutup rangkaian DCF 2025 dengan sempurna. Di balik dinginnya udara Dieng, hangat terasa persaudaraan dan rasa syukur yang menyelimuti masyarakat. Tradisi, budaya, dan doa berpadu dalam harmoni, mengingatkan bahwa Indonesia bukan hanya kaya alam, tetapi juga kaya jiwa. she