SEMARANG (Jatengdaily.com) — Langit Semarang malam itu tampak pekat, dibalut kabut tipis yang melayang di sekitar Tugu Muda. Cahaya lampu sorot menembus udara dingin, menciptakan bayang-bayang yang bergerak di antara kepulan asap. Dari kejauhan, terdengar pekik lantang: “Merdeka!” — diikuti deru ledakan dan gemuruh suara senapan. Suasana seketika berubah. Seolah waktu berputar, membawa semua orang kembali ke tahun 1945, ketika Semarang berjuang mempertahankan kemerdekaannya.
Di tengah hiruk pikuk malam itu, Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang mempersembahkan drama teatrikal “Pertempuran Lima Hari di Semarang”. Sebuah pementasan yang bukan sekadar hiburan, melainkan penghormatan bagi para pahlawan dan rakyat yang berkorban demi merah putih.
Tepat pukul delapan malam, kawasan Tugu Muda berubah menjadi panggung sejarah hidup. Ribuan warga memenuhi area — berdiri rapat di trotoar, duduk di rerumputan, bahkan menonton dari kejauhan — semua terpaku pada kisah heroik yang lahir dari tanah mereka sendiri.

Suara orkestra pengiring mengalun lembut, lalu berubah cepat menjadi ritme tegang saat adegan pertama dimulai. Di bawah sorotan cahaya kuning keemasan, muncul sosok dr. Kariadi, diperankan dengan penghayatan mendalam oleh salah satu anggota Teater Pitoelas. Dengan wajah penuh tekad, ia berjuang memastikan air tetap layak dikonsumsi rakyat di tengah kepungan tentara Jepang. Dari sisi lain panggung, hadir Mr. Wongsonegoro, Gubernur Jawa Tengah saat itu, sosok pemimpin yang berdiri tegak di tengah badai ketidakpastian.
Adegan demi adegan bergulir dalam ketegangan yang memukau. Teriakan rakyat, dentuman senjata, hingga orasi penuh semangat berpadu menjadi simfoni perjuangan yang menggugah. Beberapa penonton tampak tertegun, sebagian lain menyeka air mata. Tak sedikit yang menatap kosong, seolah membayangkan kakek atau nenek mereka pernah berada di garis depan perjuangan itu.
“Setiap kali kami naik panggung di depan Tugu Muda, rasanya seperti berbicara langsung dengan para pahlawan. Ini bukan sekadar teater — ini janji untuk tidak melupakan,” ujar salah satu pemain usai pementasan.
Teater Pitoelas memang bukan pendatang baru dalam peringatan tahunan Pertempuran Lima Hari di Semarang. Setiap tahun, mereka menjadi bagian dari kisah yang terus dihidupkan kembali, menghadirkan semangat perjuangan dalam bentuk seni. Namun tahun ini terasa berbeda — beberapa alumni UKM Teater Pitoelas turut kembali bergabung di panggung, menghadirkan kehangatan lintas generasi.
Ketika adegan terakhir tiba, sorotan lampu terpusat pada bendera merah putih yang perlahan dikibarkan di tengah panggung. Musik mengalun lirih, penonton serentak berdiri. Suara tepuk tangan membahana, bercampur dengan isak tertahan. Di antara kerumunan, ada yang mengangkat tangan kanan memberi hormat, ada pula yang hanya menatap bendera itu dengan mata berkaca-kaca.
Malam itu, Tugu Muda bukan sekadar monumen batu. Ia menjadi saksi hidup — bukan hanya atas sejarah yang telah berlalu, tetapi atas semangat yang terus menyala dalam dada generasi penerus. Semarang kembali mengenang, dan Teater Pitoelas memastikan: api perjuangan itu belum padam. St


