By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Jateng Kembangkan Pengelolaan Sampah Berbasis Desa
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Jateng Kembangkan Pengelolaan Sampah Berbasis Desa

Last updated: 30 Mei 2025 07:01 07:01
Jatengdaily.com
Published: 30 Mei 2025 09:00
Share
Ilustrasi sampah. Foto: Pixabay.com
SHARE

PEMALANG (Jatengdaily.com)– Potensi pengelolaan sampah berbasis desa, cukup besar untuk dikembangkan. Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, setelah melihat langsung tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Rabu (28/5/2025).

“Kita coba dorong pengolahan sampah berbasis desa. Di Desa Penggarit ini, sudah menerapkan penanganan sampah basis desa itu. Artinya, satu desa ini sudah dikelola sendiri sampahnya,” katanya.

Ditambahkan, pengelolaan sampah yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa Penggarit tersebut, bahkan dapat dijadikan role model atau rujukan bagi desa-desa lain di Jawa Tengah.

Menurut Luthfi, jika sekitar 8.563 desa di Jawa Tengah memiliki satu tempat pengolahan sampah terpadu, maka penanganan sampah akan selesai di tingkat desa.

“Pengelolaan ini akan kita jadikan role model, nanti akan kita diskusikan dengan dinas. Kalau desa saja sudah melaksanakan ini, selesai itu (masalah sampah),” ujar Luthfi, didampingi Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, dan Kêpala Desa Penggarit Imam Wibowo.

Dia menyampaikan, hasil pengolahan di TPST Desa Penggarit juga memiliki banyak fungsi. Misalnya, ada yang diolah menjadi pupuk organik, pengurai amoniak, dan lainnya. Hal itu dinilai sangat efektif, lantaran biaya untuk membuat TPST tersebut juga tidak terlalu tinggi.

Luthfi menyatakan apresiasinya kepada bupati dan kepala desa, yang telah menginisiasi tempat pengolahan sampah berbasis desa ini.

Sementara itu, Kepala Desa Penggarit, Imam Wibowo menjelaskan, TPST tersebut didirikan menggunakan APBDes. Total anggaran yang dikeluarkan untuk mesin dan shelter mencapai sekitar Rp400 juta. Setidaknya, dalam sehari dapat mengolah sampah sebanyak tiga unit dump truck.

Dia membeberkan, sejauh ini, sampah rumah tangga sudah ada yang dipisah, tapi sebagian masyarakat ada juga yang belum memilah.

“Sampah yang masuk ke sini sudah tidak punya nilai ekonomi, lalu diproses. Kemudian ada yang khusus dari sampah organik, seperti sisa pakan ternak dan sisa kotoran kandang ayam, diolah di sini nanti jadi bio karbon,” papar Imam.

Adapun dalam kunjungannya ke Desa Penggarit tersebut, Ahmad Luthfi sempat melihat praktik Koperasi Desa Merah Putih yang sudah berjalan. Selain itu, ia juga melihat potensi wisata dan pertanian di desa tersebut. she

You Might Also Like

Ancaman Terorisme Selama Pemilu 2024 Diantisipasi
SG Beri Apresiasi Tertinggi kepada Inovator Terbaik Perusahaan
Layanan Kesehatan Gratis hingga Bantuan Sembako Diberikan untuk Korban Banjir Rob Demak
PSIS Segera Kumpulkan Pemain Jelang Lanjutan Liga 1
Undip Tambah Dua Guru Besar
TAGGED:Gubernur JatengPengelolaan Sampah Berbasis Desa
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?