By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Langit Memerah, Hati Bertakbir: Ratusan Jamaah Khusyuk Ikuti Shalat Gerhana di MAJT 
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Langit Memerah, Hati Bertakbir: Ratusan Jamaah Khusyuk Ikuti Shalat Gerhana di MAJT 

Last updated: 8 September 2025 09:21 09:21
Sunarto
Published: 8 September 2025 09:16
Share
Ketua Umum Ahli Falak Asia Tenggara, Prof Dr KH Ahmad Izzuddin MAg bersama sejumlah jemaah mengamati gerhana bulan total di serambi Masjid Agung Jawa Tengah, Senin dini hari. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Udara dini hari, Senin (8/9), terasa lembut namun menyimpan kesyahduan yang sulit dilukiskan. Di ruang utama Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), ratusan jamaah larut dalam keheningan yang diselingi desau takbir. Malam kian pekat, namun purnama yang biasanya berpendar terang mulai meredup, perlahan tenggelam di balik bayang Bumi. Fenomena gerhana bulan penumbra itu menjadi saksi bagi hati yang rindu pada ayat-ayat kebesaran Sang Pencipta.

Sekitar pukul 01.30 WIB, shaf demi shaf teratur. Imam shalat khusuf, KH Zaenuri Ahmad AH, berdiri tegak menghadap kiblat. Di belakangnya, jamaah menunduk penuh khidmat. Ketika takbir pertama menggema, sunyi merambat hingga ke sudut-sudut masjid yang berarsitektur megah. Kalimat tasbih, tahmid, dan istighfar terangkai, menyertai rukuk panjang dan sujud yang seakan merapatkan jiwa pada Sang Pemilik semesta.

Prof Dr KH A Izzuddin bersama sejumlah jamaah foto bersama usai melaksanakan Shalat Khusuf, di ruang utama MAJT, Senin 8 September 2025 dini hari. Foto:dok

Usai shalat dua rakaat, suasana hening sejenak sebelum lantunan khutbah khusuf menggema dari mimbar utama. Prof Dr KH Ahmad Izzuddin, MAg—Ketua Umum Ahli Falak Asia Tenggara—mengangkat tema “Harmoni Kosmik dan Tanda Kebesaran Allah SWT.” Dengan suara yang teduh namun tegas, ia mengajak jamaah menatap langit bukan sekadar dengan mata, tetapi juga dengan hati.

“Alam semesta ini adalah kitab terbuka,” ucapnya. “Gerhana bukan kebetulan, melainkan tanda dari keteraturan kosmik. Bumi, Bulan, dan Matahari tunduk pada sunnatullah. Sains modern membuktikan apa yang Al-Qur’an tegaskan: bahwa Matahari dan Bulan beredar pada orbitnya, malam dan siang silih berganti—semua berada dalam kendali-Nya.”

Di tengah khutbah, Prof Izzuddin menukil QS Fushshilat:53, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri…” Ayat itu terasa hidup malam itu. Jamaah menengadah, memandangi Bulan yang semakin meredup. Seolah semesta sendiri bersaksi bahwa kebesaran Allah meliputi ruang tak terbatas.

Ia juga mengurai keteraturan gerhana melalui sains. “Posisi sejajar Bumi, Bulan, dan Matahari bukan sekadar perhitungan astronomi. Setiap peredaran yang teratur adalah ayat Allah. Fenomena ini meneguhkan keimanan kita: bahwa alam tunduk pada hukum-Nya.” Suaranya bergetar, menyentuh sisi terdalam hati jamaah yang mendengarkan.

Usai khutbah, doa-doa panjang dipanjatkan. Dzikir lirih terdengar seperti aliran sungai di tengah malam. “Subhanaka, ma khalaqta hadza bathila…,” gumam beberapa jamaah, mengulang ayat Ali Imran:191 dengan mata berkaca.

Sementara itu, di pelataran masjid, sejumlah santri dan penggemar astronomi mengarahkan teleskop ke langit. Mereka mengamati gerhana, mendokumentasikan setiap fase dengan kagum. Cahaya purnama yang memudar digantikan semburat merah tembaga, menghadirkan panorama yang menegaskan kebesaran Illahi.

Menjelang azan subuh, fenomena gerhana perlahan usai. Bulan kembali menampakkan wajahnya yang terang. Jamaah bubar perlahan, membawa pulang rasa takjub dan ketenangan batin. Gerhana dini hari itu tidak hanya menyisakan catatan astronomi, tetapi juga menyirami jiwa dengan kesadaran: bahwa di balik rotasi Bumi, revolusi Bulan, dan guliran waktu, ada kasih dan kuasa Allah yang tak pernah padam. Malam itu, langit menjadi ayat, gerhana menjadi pelajaran, dan hati umat kembali pulang pada fitrah: mengakui kebesaran Sang Pencipta semesta. St

You Might Also Like

Mau Ikutan Mudik Gratis Sepeda Motor dengan Kapal 2023, Segera Daftar dan Ini Syaratnya
Lamaatus Dimyati Daftar DPD RI, Perjuangkan Nasib Buruh Migran dan Petani di Jateng
Terinspirasi Baju APD Covid-19, Perawat Pekalongan Ini Rancang Busana ‘The New Beginning’
Tangani COVID-19 Kota Semarang Pakai Format Jalan Tengah
Atta dan Aurel ke Dubai dan Dambakan Punya Anak Kembar
TAGGED:Gerhana Bulan TotalHati Bertakbir: Ratusan Jemaah Khuyuk Ikuti Shalat Gerhana di MAJTLangit Memerah
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?