Loading ...

Mahasiswa Pariwisata USM Gelar FGD, Dorong Pentingnya Public Speaking di Dunia Pariwisata

img_1752212624726

Mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Semarang (USM) menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema "Penerapan Public Speaking di Dunia Pariwisata", yang berlangsung di Desa Wisata Lerep, Kabupaten Semarang, pada Senin, 8 Juli 2025.Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Mahasiswa Program Studi Pariwisata Universitas Semarang (USM) menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penerapan Public Speaking di Dunia Pariwisata”, yang berlangsung di Desa Wisata Lerep, Kabupaten Semarang, pada Senin, 8 Juli 2025.

Kegiatan ini dihadiri dosen, mahasiswa, serta warga dan pengelola desa wisata setempat.

FGD ini bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi warga dalam melayani wisatawan secara profesional dan percaya diri.

Hadir sebagai narasumber, Amalia Elsa, praktisi public speaking, yang membagikan berbagai teknik berbicara efektif di hadapan umum, mulai dari aspek vokal, verbal, hingga visual.

Ketua panitia, Friska Destalia, menjelaskan bahwa keterampilan berbicara di depan publik bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kualitas pelayanan kepada wisatawan.

“Kami berharap peserta dapat memahami teknik komunikasi yang efektif, sehingga mampu meningkatkan citra dan pelayanan di destinasi wisata, khususnya di Desa Wisata Lerep,” ujar Friska.

Amalia Elsa dalam pemaparannya menyebutkan bahwa public speaking adalah seni menyampaikan pesan secara efektif melalui tiga unsur utama: vokal (intonasi, jeda, dan kecepatan bicara), verbal (pemilihan kata dan kejelasan pesan), serta visual (ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kontak mata).

“Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan audiens – sederhana, jelas, namun tetap berbobot,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya visual agar komunikasi terlihat lebih hidup dan meyakinkan.

Sementara itu, Dr. Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si., dosen pendamping dari USM, mengapresiasi antusiasme warga dalam mengikuti FGD ini. Ia menilai kegiatan ini sangat relevan untuk meningkatkan kapasitas SDM pariwisata lokal.

“Kami berharap kerja sama antara USM dan Desa Wisata Lerep dapat terus berlanjut dalam bentuk pelatihan-pelatihan serupa di masa mendatang,” ungkap Yuliyanto.

Kegiatan ini juga menjadi wadah diskusi interaktif antara akademisi, mahasiswa, dan warga, dalam upaya bersama mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Dengan meningkatnya keterampilan public speaking, diharapkan Desa Wisata Lerep dapat tampil sebagai destinasi yang informatif, ramah, dan berkesan bagi para pengunjung.

“Public speaking yang baik akan memperkuat citra desa sebagai tujuan wisata unggulan yang komunikatif dan profesional,” tutur Elsa. St