SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kondisi minimnya penerangan jalan di kawasan Gunungpati, khususnya di sekitar Universitas Negeri Semarang (UNNES), kini tak lagi disuarakan hanya di ruang diskusi kampus.
Mahasiswa yang tergabung dalam Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (ADKESMA) BEM KM UNNES secara langsung menyuarakan keresahan ini dalam audiensi resmi bersama Sekretariat Daerah (SETDA) Kota Semarang pada Senin, 26 Mei 2025.
Audiensi yang berlangsung di ruang pertemuan Sekda ini dibuka oleh Alifkha, selaku Menteri ADKESMA BEM KM UNNES.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa isu penerangan bukan hanya soal infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan, kenyamanan, dan hak atas ruang publik yang layak bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Kami tidak datang hanya membawa keluhan, tapi juga membawa data, kajian, dan solusi yang konkret. Kegelapan di sekitar UNNES bukan hanya membuat tidak nyaman, tapi juga mengancam keselamatan mahasiswa, terutama yang pulang malam dari kampus atau kegiatan organisasi,” tegas Alifkha selaku Menteri ADKESMA BEM KM UNNES 2025 saat membuka diskusi.
Setelah sambutan, giliran Zacki, Ketua Tim Kajian, yang memaparkan latar belakang sekaligus urgensi permasalahan. Kajian yang mereka bawa bertajuk “Gunungpati sebagai Kawasan Pendidikan: Evaluasi dan Reformulasi Sistem Penerangan Jalan”, disusun dari hasil angket, observasi lapangan, dan analisis multidisipliner.
“Kami temukan bahwa lebih dari 70% mahasiswa merasa tidak aman ketika melintasi jalan-jalan gelap di kawasan Gunungpati. Ini bukan asumsi, ini fakta. Kondisi ini memengaruhi psikologis, membatasi aktivitas malam hari, meningkatkan risiko kecelakaan, dan bahkan berdampak pada roda ekonomi warga sekitar,” ujar Zacki.
Usai pemaparan latar belakang, Radit, selaku Direktorat Jenderal Kesejahteraan Mahasiswa ADKESMA BEM KM UNNES, menyampaikan tiga poin strategis yang ditawarkan kepada pemerintah kota.
“Kami merekomendasikan pemasangan dan perbaikan lampu jalan di titik-titik rawan gelap, pemanfaatan lampu tenaga surya sebagai solusi yang efisien dan ramah lingkungan, serta pengoptimalan aplikasi ‘Lapor Semar’ sebagai alat pelaporan dan pemantauan infrastruktur secara digital,” papar Radit.
Sebagai penutup, Aurel, Anggota Tim ADKESMA BEM KM UNNES lainnya, menegaskan bahwa audiensi ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk keseriusan mahasiswa dalam membangun sinergi dengan pemerintah.
“Kami berharap tidak hanya didengar, tapi juga dilibatkan dalam proses pengawalan. Gunungpati layak jadi kawasan pendidikan yang aman dan nyaman, bukan kawasan yang gelap dan mengintimidasi,” ucap Aurel.
Menanggapi hal tersebut, Ryan Afif, Kepala Bagian Hukum dan Perancang Setda Kota Semarang, memberikan respon yang positif.
Ia mengapresiasi kajian yang dibawa mahasiswa dan menyebut bahwa policy brief yang dikirim sebelumnya telah dibaca dan langsung ditindaklanjuti.
“Policy brief yang dikirim oleh Mas Reza sudah saya baca dan langsung saya koordinasikan dengan Kepala Bidang Tata Usaha dan Dinas Perumahan dan Permukiman. Saat ini, disposisi sudah diterbitkan dan proses tindak lanjut tengah berjalan.”
Ia juga menyinggung bahwa aplikasi “Lapor Semar” sebenarnya memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan dalam hal User Acceptance dan User Experience. Pemerintah tengah menyiapkan pengembangan aplikasi agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Tak hanya soal penerangan, isu lain juga diangkat dalam audiensi. Mulai dari polusi asap BRT Trans Semarang, persoalan banjir di kawasan Semarang bawah yang ditangani dengan optimalisasi pompa jalan, hingga pengelolaan sampah yang masuk dalam program 100 hari kerja Pemerintah Kota Semarang.
Menutup pertemuan, Ryan menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tim ADKESMA BEM KM UNNES.
“Policy brief ini menjadi bahan refleksi sekaligus titik balik yang positif bagi pemerintah, khususnya dalam meningkatkan kepedulian terhadap infrastruktur di Kota Semarang. Kami terbuka untuk kolaborasi lanjutan,” tuturnya.
Audiensi ini membuktikan bahwa suara mahasiswa bukan hanya gema di dalam kelas, tapi juga mampu menembus dinding birokrasi. Kini, masyarakat menanti: akankah janji pemerintah benar-benar menerangi jalanan Gunungpati? St


