Pelatihan Penulisan Puisi Esai Berbasis Isu Perkotaan akan Digelar di MPWK Unissula

Gunoto Saparie (kanan) dan Mohammad Agung Ridlo. Foto:dok
Gunoto Saparie (kanan) dan Mohammad Agung Ridlo. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang bekerja sama dengan Satupena Jawa Tengah akan menyelenggarakan Pelatihan dan Penguatan Kompetensi Penulisan Puisi Esai, Sabtu (22/11), di Ruang Kuliah Lantai 3 MPWK Unissula. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ketua Umum Satupena Jawa Tengah, Gunoto Saparie, dan Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah, Mohammad Agung Ridlo.

Gunoto Saparie menjelaskan, pelatihan ini dirancang sebagai ruang belajar kreatif yang mempertemukan disiplin ilmu perencanaan wilayah dan perkotaan dengan seni penulisan puisi esai. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan konsep dasar perencanaan wilayah dan kota kepada para peserta yang ingin mengembangkan tema-tema urban dalam karya sastra.

“Melalui pelatihan ini, peserta akan memahami istilah, prinsip, dan isu utama dalam tata ruang, pembangunan kota, keberlanjutan, mobilitas, ruang publik, hingga dinamika sosial perkotaan. Pemahaman tersebut menjadi fondasi tematik dalam penulisan puisi esai,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu target pelatihan adalah mengolah isu teknis dan data perencanaan, yang selama ini dianggap kering dan teknokratis, menjadi narasi puitik yang komunikatif, imajinatif, serta emosional. Dengan bekal ini, peserta diharapkan mampu menerjemahkan gagasan-gagasan perencanaan menjadi karya sastra yang hidup dan mudah dipahami publik.

Tujuan lain dari kegiatan ini, demikian Gunoto, adalah melatih keterampilan menulis puisi esai secara komprehensif. Peserta akan mempelajari struktur puisi esai, perpaduan antara lirisisme dan reportase, penggunaan catatan kaki, teknik membangun karakter, serta cara merangkai alur yang menggabungkan fakta dengan perenungan personal.

“Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori puisi esai, tetapi mampu mengeksekusinya menjadi karya yang kuat,” jelasnya.

Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah, Mohammad Agung Ridlo menambahkan, pelatihan ini juga diarahkan untuk mendorong karya puisi esai yang kritis, reflektif, dan berbasis riset. Peserta ditantang untuk melakukan observasi lapangan, wawancara, dan membaca data resmi seperti RTRW, RPJMD, serta dokumen kajian tata kota.

“Dengan demikian, puisi esai yang dihasilkan tidak hanya indah, tetapi juga memiliki landasan pengetahuan dan perspektif kritis terhadap isu-isu perkotaan,” ujarnya.

Agung menambahkan bahwa pelatihan ini juga bertujuan mengasah kepekaan sosial peserta terhadap persoalan ruang kota, termasuk isu kemacetan, banjir, gentrifikasi, kemiskinan urban, minimnya ruang hijau, hingga krisis hunian layak. Peserta didorong untuk menerjemahkan pengalaman dan pengamatan tersebut ke dalam puisi esai yang bernas.

Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya membangun kemampuan bercerita tentang kota dalam format yang mudah diakses publik. Menurut Agung, puisi esai dapat menjadi jembatan antara ilmu perencanaan yang sering dianggap elitis dengan masyarakat luas. “Kami berharap peserta dapat menulis puisi esai yang menjelaskan persoalan kota dengan cara yang sederhana, indah, dan menggugah,” tambahnya.

Mengenai luaran kegiatan, Agung berharap pelatihan ini mampu menghasilkan naskah puisi esai bertema perencanaan wilayah dan kota yang siap dipublikasikan. “Pada akhir pelatihan, peserta diharapkan mampu menyelesaikan setidaknya satu karya puisi esai lengkap bertema perencanaan kota, yang layak dipresentasikan atau bahkan dibukukan,” tuturnya. St

Share This Article
Exit mobile version