JAKARTA (Jatengdaily.com) – Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT-Baznas Jawa Tengah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Imam Foundation United Kingdom, Rabu (6/8/2025) di Gedung Baznas RI, Jakarta. Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan CEO Imam Foundation, Dr Mohammad Ali Bela’o, ke pesantren MAJT-Baznas di Semarang pada 30 Juli 2025 lalu.
Kesepakatan ditandatangani langsung oleh Ketua Pengelola Pusat (PP) MAJT, Prof Dr KH Noor Achmad, MA, dan Dr Mohammad Ali Bela’o dari Imam Foundation UK. Turut hadir menyaksikan momen bersejarah ini, Direktur Pesantren MAJT Dr KH M Syaifudin, MA, pengurus pesantren KH Istajib AS dan Ir H Suparno, serta dari Imam Foundation UK didampingi Dr Aulia Nugraha, yang juga menjadi penanggung jawab program Imam Foundation di Indonesia.
Kolaborasi ini akan berlangsung mulai pertengahan Agustus 2025 hingga 31 Agustus 2026, dengan ruang lingkup utama pada pengembangan sumber daya manusia, pelatihan imam dan dai, serta pemberdayaan pesantren berbasis internasional.
Prof Noor Achmad menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam mengembangkan potensi pesantren di kancah global.
“Ini bagian dari misi kami untuk memperkuat dakwah dan menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tingkat internasional,” ujarnya.
CEO Imam Foundation UK, Dr Mohammad Ali Bela’o, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan dan respons cepat dari pihak MAJT. Ia juga menyatakan optimismenya terhadap kerja sama ini yang diharapkan mampu melahirkan dampak positif yang luas.
Sementara itu, Direktur Pesantren MAJT-Baznas Jateng, Dr KH M Syaifudin, MA, menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya mencakup pelatihan SDM untuk mencetak imam dan dai, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi santri dalam pendidikan internasional.
“Imam Foundation menawarkan program beasiswa kuliah bagi para santri ke tiga negara: Maroko, Libya, dan Turki. Ini tawaran yang sangat kami sambut dengan serius,” jelasnya, Jumat (8/8/2025).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelatihan calon imam dan dai juga diarahkan untuk pengiriman ke negara-negara dengan komunitas Muslim minoritas, termasuk Amerika Latin.
“Desain programnya sangat matang. Setelah pelatihan, akan dilakukan penyaringan terhadap santri-santri yang memenuhi kualifikasi baik dari sisi hafalan Al-Qur’an, hadis, maupun kemampuan bahasa,” jelasnya.
Dr Syaifudin menyebutkan bahwa seluruh proses dan pelaksanaan akan dikawal oleh Dr Aulia Nugraha, sebagai perwakilan Imam Foundation di Indonesia.
“Beliau sangat mengapresiasi kesiapan dan keseriusan kami. Bahkan kunjungan sebelumnya langsung kami publikasi luas ke belasan media sebagai wujud keterbukaan dan semangat kolaboratif,” tambahnya.
Kerja sama ini, menurut Syaifudin, sangat sejalan dengan visi besar pesantren MAJT, yakni mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang mutqin, menguasai ilmu-ilmu keislaman, serta cerdas dalam menyelesaikan problematika umat.
Untuk mendukung visi itu, Pesantren MAJT-Baznas Jateng mewajibkan seluruh santrinya menempuh pendidikan S1 di Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim (Unwahas). Di samping itu, mereka juga dibekali dengan pendalaman kitab kuning, keterampilan jurnalistik, dan khitobah.
Kerja sama ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperluas dakwah Islam yang damai dan berkeadaban ke seluruh penjuru dunia, dengan santri-santri MAJT sebagai duta-duta yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.St


