Poster Antibullying dari Desa Belor: Langkah Kecil, Dampak Besar untuk Anak SD

3 Min Read
Penyerahan Karya Kepada Kepala Sekolah SD Negeri 2 Belor. Foto:dok
Penyerahan Karya Kepada Kepala Sekolah SD Negeri 2 Belor. Foto:dok

GROBOGAN (Jatengdaily.com) – Di sebuah kelas sederhana di SD Negeri 2 Belor, tawa anak-anak sering kali terdengar riuh. Namun di balik keceriaan itu, terselip kebiasaan yang kerap luput dari perhatian: memanggil teman dengan sebutan nama orang tua. Sekilas mungkin terdengar sepele, tetapi bila dibiarkan, kebiasaan kecil itu dapat tumbuh menjadi perilaku perundungan yang merusak kenyamanan belajar.

Melihat fenomena tersebut, Febianetta Yatindra Fatihah, mahasiswa KKN UNNES Giat 12 SKM yang bertugas di Desa Belor, merasa terpanggil. Ia lalu merancang sebuah media sederhana namun penuh makna: poster Anti Bullying.

Poster itu tak sekadar kertas bergambar. Di dalamnya, Febianetta menuangkan pesan-pesan sederhana tentang pentingnya menghargai teman, menahan diri dari perkataan yang menyakitkan, serta menghindari perundungan. Dengan desain penuh warna cerah dan ilustrasi yang dekat dengan dunia anak-anak, poster ini dirancang agar mudah dibaca sekaligus menyenangkan untuk dilihat.

“Anak-anak cenderung lebih cepat menangkap pesan lewat gambar dan kalimat singkat. Karena itu, saya memilih format poster agar lebih mudah diterima,” ujar Febianetta sambil menunjukkan hasil karyanya.

Saat poster itu dipajang di ruang kelas, raut wajah siswa pun berubah. Banyak yang mendekat, membaca dengan seksama, bahkan menunjuk gambar sambil saling bercanda. Namun di sela tawa itu, terlihat juga kesadaran baru muncul: bahwa saling menghargai jauh lebih indah daripada saling mengejek.

Kepala Sekolah SD Negeri 2 Belor, Titik Siswati, S.Pd.SD, menyambut baik inisiatif ini. “Kami sangat berterima kasih, karena poster ini menjadi pengingat visual yang bisa setiap hari dilihat anak-anak. Harapannya, mereka bisa tumbuh dengan sikap saling menghormati,” ucapnya penuh apresiasi.

Antusiasme juga datang dari para siswa. Beberapa bahkan secara spontan menceritakan pengalaman mereka pernah merasa sedih ketika diejek dengan sebutan tertentu. Dari momen kecil itulah tercipta ruang diskusi baru yang jarang muncul sebelumnya.

Kegiatan ini membuktikan bahwa upaya mencegah bullying tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Sebuah poster, ketika dibuat dengan hati dan niat tulus, dapat menjadi pintu masuk untuk mengubah perilaku. Dari Desa Belor, pesan sederhana ini bergema: “Sekolah adalah ruang aman, tempat anak-anak belajar dan bertumbuh tanpa takut disakiti.” Penulis; Febianetta Yatindra Fatihah, mahasiswa KKN UNNES Giat 12 SKM

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.