By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: PWNU–PCNU Se-Indonesia Ikuti Keputusan di Tebuireng terkait Persoalan di PBNU 
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

PWNU–PCNU Se-Indonesia Ikuti Keputusan di Tebuireng terkait Persoalan di PBNU 

Last updated: 9 Desember 2025 13:27 13:27
Jatengdaily.com
Published: 9 Desember 2025 13:27
Share
Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).Foto: dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)-Lebih dari 400 pengurus wilayah dan cabang Nahdlatul Ulama dari seluruh Indonesia menyatakan sikap bulat untuk mengikuti arahan dan keputusan para mustasyar serta sesepuh NU yang bersilaturahim di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Keputusan Mustasyar Tebuireng adalah rujukan tertinggi secara moral dalam menghadapi dinamika internal PBNU yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.

Sikap ini disampaikan dalam pertemuan daring yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan bahwa keputusan Mustasyar Tebuireng adalah rujukan tertinggi secara moral dalam menghadapi dinamika internal PBNU yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.

Para sesepuh yang hadir di antaranya Prof KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Anwar Manshur, KH Umar Wahid, serta sejumlah mustasyar lainnya dinilai menunjukkan kepedulian mendalam terhadap keselamatan jam’iyyah.

Sejumlah pimpinan wilayah dan cabang yang berbicara dalam forum daring menegaskan bahwa keputusan para mustasyar mengikat secara moral bagi seluruh keluarga besar NU. Dalam forum tersebut, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjelaskan latar belakang pertemuan Tebuireng.

Ia menggambarkan bagaimana para kiai sepuh, beberapa di antaranya telah berusia lebih dari 80 tahun, tetap memaksakan diri hadir meski dalam kondisi fisik terbatas.

“Saya terharu melihat para sesepuh turun tangan. Mereka bersusah payah datang karena kecintaan yang luar biasa kepada jam’iyyah ini,” jelasnya.

Gus Yahya mengungkapkan bahwa ia telah memberikan jawaban menyeluruh kepada para mustasyar, disertai dokumen yang memuat data terkait seluruh tuduhan dan persoalan yang berkembang.

“Semua hal yang dipertanyakan telah saya jawab selengkap-lengkapnya dan serinci-rincinya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa yang paling penting saat ini bukan perdebatan personal, melainkan penyelamatan tatanan organisasi.

“Organisasi itu manzumah (sebuah sistem), dan sokogurunya (pondasi utama) adalah nizham (aturan/prinsip),” ujarnya.

“Bila nizham ini diabaikan, organisasi bisa runtuh dan mundur seratus tahun,” tegasnya.

Rais Syuriyah PWNU Bengkulu KH Hasbullah Ahmad menegaskan bahwa narasi yang menyebut ketua umum durhaka kepada kiai adalah keliru.

“Itu salah besar. Justru Ketum sedang menasihati kita semua untuk kembali ke aturan,” ujarnya. Ia menyatakan bahwa PWNU Bengkulu sepenuhnya mendukung keputusan para mustasyar di Tebuireng sebagai rujukan penyelesaian. “Kami support agar Ketum dan Sekjen terus berupaya agar NU selamat dari badai yang sedang melanda,” katanya.

Sementara itu, Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung Masmuni Mahatma menyatakan bahwa pihaknya tidak akan bergeser sedikit pun dari tatanan AD/ART. “Ketua umum atau rais aam hanyalah institusi kecil. Yang besar adalah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa PWNU dan PCNU yang hadir dari Bangka Belitung mengikuti sepenuhnya arahan Mustasyar Tebuireng, karena para sesepuh memiliki pandangan jernih dan jauh dari kepentingan personal. Dalam pertemuan yang sama, Ketua PWNU Sulawesi Selatan Prof KH Hamzah Harun Al-Rasyid menyampaikan bahwa alasan pemakzulan Ketua Umum tidak memiliki dasar kuat.

“Mandataris tidak boleh diberhentikan kecuali melalui forum yang sama yang mengangkatnya,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa langkah paling tepat saat ini adalah mengikuti rekomendasi para sesepuh yang menyerukan islah dan penertiban proses informasi. “Usaha yang paling tepat sekarang adalah islah. Kalau islah tidak bisa, kembali kepada AD/ART. Itulah yang dipesankan para Mustasyar,” katanya.

Dari sisi yang lain, Ketua PCNU Kota Malang KH Isroqunnajah menyampaikan rasa prihatin atas saling serang di media sosial yang ikut menyeret nama para kiai. “Kami sama sekali tidak rela para kiai dibully di media sosial. Silaturahim Tebuireng memberi arah yang jelas agar persoalan kembali ditempatkan pada tatanan,” ujarnya.

Ia menilai bahwa klarifikasi menyeluruh yang diberikan Ketua Umum kepada para sesepuh menjadi modal kuat bagi warga NU untuk memegang keputusan Mustasyar sebagai panduan.

“Para pengurus wilayah dan cabang bersepakat untuk mengikuti langkah-langkah yang disampaikan para Mustasyar dan sesepuh NU sambil menunggu proses organisatoris berikutnya,” tandas KH Isroqunnajah. Dani-she

You Might Also Like

Gunungpati Lebih Terang dan Terhubung: Inisiatif ADKESMA untuk Perubahan
Atletik Rebut Tiga Emas ASG 2019, Medali Indonesia Masih Tertinggal
Flyover Purwosari untuk Urai Kemacetan Jalan Slamet Riyadi
Sudaryono Pastikan Mesin Partai Gerindra Siap Menangkan Pilkada 2024 di Jateng
Suhu di Mekkah Tembus 42 Derajat Celcius
TAGGED:Keputusan di TebuirengPersoalan di PBNUPWNU–PCNU
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?