
SEMARANG (Jatengdaily.com) – Suasana halaman Balaikota Semarang pagi itu terasa khidmat. Ratusan peserta berdiri tegak, mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional. Di tengah hembusan angin November, bendera merah putih berkibar gagah, mengingatkan bahwa kemerdekaan yang kini dinikmati lahir dari perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa.
Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, yang hadir mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng, mengajak seluruh masyarakat memaknai Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat semangat kebersamaan untuk membangun kota dan bangsa.
“Nilai perjuangan para pahlawan bukan hanya tentang masa lalu. Tugas kita sekarang adalah meneruskan semangat itu dalam bentuk karya nyata,” ujarnya.
Menurut Iswar, semangat kebersamaan menjadi fondasi utama agar pembangunan di berbagai bidang bisa berjalan merata. “Bangsa ini tidak boleh membiarkan satu pun anak bangsanya tertinggal dari kemakmuran,” tegasnya.
Ia juga menyinggung bahwa semangat perjuangan hari ini selaras dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan Indonesia menjadi negara makmur pada tahun 2045, tahun emas kemerdekaan.
“Tahapan lima tahun pertama ini adalah langkah awal menuju Indonesia Emas. Inilah wujud meneruskan perjuangan para pahlawan dengan cara kita sendiri,” tambah Iswar.
Usai upacara, kemeriahan berlanjut lewat Kirab Merah Putih Indonesia Bersatu dan Maju, yang untuk kedua kalinya digelar setelah pertama kali dilaksanakan pada 2022. Kirab kali ini menorehkan sejarah baru: bendera merah putih sepanjang 1.945 meter diarak dari halaman Balaikota menuju Lapangan Pancasila, Simpang Lima. Angka itu bukan tanpa makna — melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia, 1945.
Dari total panjang tersebut, 1.245 meter diarak di sepanjang rute kirab, sementara 700 meter lainnya dibentangkan megah di titik akhir, menciptakan lautan merah putih yang menyejukkan mata. Tak hanya itu, kirab kali ini juga mencatat rekor baru bendera terpanjang, melampaui capaian 2022 yang sepanjang 1.001 meter.
Ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat turut ambil bagian: pelajar, mahasiswa, pramuka, TNI-Polri, ormas, komunitas seni, hingga tokoh lintas agama. Suasana semakin semarak dengan marching band, atraksi barongsai dan naga, tarian jarik, jaran kepang, serta busana adat Nusantara yang menampilkan indahnya keberagaman Indonesia.
Puncak kemeriahan ditandai dengan pemecahan rekor peserta terbanyak Goyang Tabola Bale versi Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid), serta kehadiran Garuda Pancasila raksasa setinggi lima meter yang menjadi simbol kebanggaan dan persatuan bangsa.
Melihat antusiasme warga yang begitu besar, Iswar menilai kirab ini berpotensi menjadi agenda tahunan Pemkot Semarang.
“Kita lihat ke depan, kalau masyarakat tetap antusias, tentu bisa dijadikan kegiatan rutin. Hanya saja, waktunya nanti akan disesuaikan agar tidak mengurangi kekhidmatan upacara Hari Pahlawan,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, Iswar menyampaikan pesan yang menyentuh hati. “Bagi saya, merah putih bukan sekadar kain yang berkibar, tapi jiwa yang hidup di dalam diri setiap warga kota. Itulah semangat yang harus terus menyala,” tuturnya.
Dengan semangat itu, Pemerintah Kota Semarang berharap peringatan Hari Pahlawan menjadi pengingat untuk terus berjuang, bergandeng tangan, dan membangun negeri menuju masa depan yang lebih sejahtera. St