SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kota Semarang terus menguatkan ketahanan pangan sepanjang 2025. Di tengah dinamika harga yang terasa hingga ke tingkat kecamatan, pemerintah kota bergerak cepat memastikan warga tetap mendapatkan bahan pangan yang aman, terjangkau, dan tidak terbuang percuma.
Laporan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) masih mencatat adanya status waspada harga di beberapa wilayah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa upaya awal pemerintah difokuskan pada titik-titik yang mengalami tekanan harga paling tinggi.
“Langkah Pemkot Semarang menangani status waspada harga pangan di Genuk dan Pedurungan dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah dengan Kempling Semar dan Pak Rahman,” ujar Agustina, Jumat (21/11).
Program pangan murah tersebut digelar di delapan titik Kecamatan Genuk pada 25–28 November 2025 dan 19 November 2025. Di Kecamatan Pedurungan, program hadir lebih awal, yakni pada 10–13 November 2025.
Menjaga Harga Tetap Bersahabat
Kempling Semar—kendaraan pelayanan pangan keliling—kembali menjadi andalan stabilisasi harga Kota Semarang. Dengan format jemput bola ke kelurahan hingga tingkat RW, program ini memangkas rantai distribusi sehingga harga lebih mudah ditekan.
“Program Kempling Semar menjangkau kelurahan hingga RW dan memotong rantai pasok sehingga harga lebih stabil,” jelas Wali Kota.
Sejak diluncurkan 10 Juli 2025, Kempling Semar telah hadir di 640 titik. Lokasi prioritas dipilih berdasarkan tingkat kerentanan warga, termasuk wilayah dengan jumlah keluarga kurang mampu yang cukup tinggi seperti Genuk.
Di lapangan, program ini tidak hanya memudahkan warga mendapatkan bahan pokok berkualitas dengan harga miring. Banyak warga mengaku lebih tenang karena kebutuhan harian bisa dipenuhi tanpa beban biaya yang berat.
Keamanan Pangan yang Dijaga Ketat
Selain harga, aspek keamanan pangan juga mendapat perhatian serius. Kota Semarang mencatat capaian membanggakan sepanjang tahun.
“Capaian keamanan pangan post market 87,3 persen dan bila digabungkan dengan pre market menjadi 94,27 persen. Target 90 persen sudah terlampaui,” tegas Agustina.
Pemeriksaan keamanan dilakukan melalui berbagai program: Jempol Pak Kuat, MATA DEWA, Tim JKPD, kader Dermawan, serta pembentukan PASEMARANG di 34 pasar rakyat. Seluruh mekanisme ini memastikan makanan yang beredar aman dikonsumsi dari hulu hingga hilir.
Mengurangi Food Waste, Mengubah Kebiasaan
Isu lainnya yang menjadi perhatian adalah sampah pangan atau food waste. Melalui program Srikandi Pangan yang diluncurkan 19 Agustus 2025, pemerintah menyasar perubahan perilaku konsumsi rumah tangga, terutama ibu-ibu sebagai pengelola dapur keluarga.
“Kegiatan ini berupa edukasi Gerakan Sayang Pangan dan pembentukan agen perubahan, dengan Ibu Rumah Tangga sebagai sasaran utama dan target penyelamatan pangan minimal 10 persen,” kata Agustina.
Program ini diharapkan menciptakan budaya hemat pangan—mulai dari merencanakan belanja, mengelola stok bahan makanan, hingga memanfaatkan sisa bahan menjadi menu baru.
Geliat Ekonomi Lokal Tetap Diperhatikan
Di balik manfaatnya, Kempling Semar sempat memunculkan kekhawatiran pelaku usaha kecil mengenai potensi persaingan tidak seimbang. Wali Kota menegaskan bahwa kehadiran program ini tidak dimaksudkan mematikan pasar.
“Kekhawatiran persaingan usaha dapat diatasi dengan melibatkan pelaku usaha lokal sebagai bagian kios pangan,” pesannya.
Dengan pola kolaboratif ini, ekonomi lokal tetap bergerak, sementara stabilisasi harga dapat berlangsung optimal.
Fondasi Ketahanan Pangan Menuju 2026
Rangkaian program stabilisasi harga, pengawasan keamanan pangan, hingga pengurangan food waste menjadi fondasi ketahanan pangan Kota Semarang sepanjang 2025. Pemerintah menargetkan seluruh program berjalan terpadu hingga akhir tahun, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang 2026.
Wali Kota menegaskan bahwa strategi pangan tidak hanya bergantung pada operasi pasar semata, tetapi pada kesadaran kolektif masyarakat.
“Pemkot menargetkan Kota Semarang dapat mencapai kondisi ketahanan pangan yang semakin tangguh pada 2025 dan tahun-tahun berikutnya,” tutupnya.
Dengan langkah cepat di lapangan dan pendekatan yang merangkul warga, Kota Semarang berharap ketahanan pangan tidak hanya menjadi kebijakan, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat. St


