Seratus Tahun Ki Nartosabdho

Oleh: Gunoto Saparie
NAMA itu masih bergaung di banyak telinga, meskipun ia telah meninggalkan dunia ini empat puluh tahun lalu. Nartosabdho (25 Agustus 1925 – 7 Oktober 1985), atau Soenarto anak seorang perajin sarung keris dari Klaten, yang masa kecilnya ditandai kemiskinan dan putus sekolah, justru menjadi dalang yang oleh Ki Manteb Soedharsono disebut, tanpa ragu, sebagai yang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Sebuah ironi kecil yang hanya mungkin lahir dari kesenian Jawa: di mana seorang anak tukang bisa menyalip garis keturunan, menyalip pakem, bahkan menyalip “wahyu” yang sering dipercaya sebagai prasyarat menjadi dalang. Ia belajar bukan dari warisan, tapi dari buku-buku tua dan dari pengamatan terhadap dalang-dalang besar, lalu memintalnya sendiri menjadi sesuatu yang baru.
Kita mungkin masih ingat lakon-lakon ciptaannya: ”Kresna Duta”, “Dasa Griwa”, “Ismaya Maneges”, “Gatutkaca Wisuda”. Nama-nama yang tak hanya mengisi malam-malam panjang wayangan, tetapi juga menyusup ke dalam percakapan budaya Jawa. Ia menulis ulang, menafsir, dan terkadang berani menertawakan pakem yang dianggap keramat.
Humor ia masukkan ke dalam adegan keraton, sebuah ruang yang biasanya angker, kaku, penuh aturan. Ia mendobrak dengan canda.
Dan tentu saja, lagu-lagu itu: “Caping Gunung”, “Gambang Suling”, “Klinci Ucul”, “Prahu Layar”. Sebagian orang tak lagi mengingat siapa penciptanya, tetapi lagu-lagu itu hidup di pesta pernikahan, di hajatan desa, di siaran radio, di panggung-panggung karawitan, bahkan di konser musik kontemporer.
Ia menulis lebih dari tiga ratus gending, dan dengan itu, seakan menghidupi kembali suara gamelan di ruang-ruang yang mulai asing dengan bunyinya.
Tetapi ia bukan tanpa musuh. Para dalang senior menuduhnya menyimpang. RRI di sebuah kota bahkan memboikot gubahannya.
Di balik kritik itu ada semacam kegelisahan: apakah pakem bisa diubah? Apakah humor boleh masuk ke keraton? Apakah gamelan boleh diperkaya dengan lagu-lagu baru? Nartosabdho menjawab dengan cara yang sederhana: ia terus berkarya.
Kini, seratus tahun sejak kelahirannya, kita bisa bertanya: Apakah warisan terbesar Nartosabdho adalah inovasi? Atau keberaniannya? Atau justru keyakinannya bahwa seni tradisi tidak harus mati dalam keagungan masa lalu? Ia mengajarkan bahwa pakem bisa dilihat sebagai jalan, bukan pagar.Bahwa tradisi bisa lentur, bukan hanya kaku.
Jejak Nartosabdho masih terasa di panggung wayang dan di ruang gamelan. Soenarto, anak tukang sarung keris dari Klaten itu, yang pernah gemetar di pentas pertama di Jakarta 1958, ternyata melahirkan gelombang yang tak selesai sampai hari ini.
Ketika Ki Manteb Soedharsono, dalang yang dijuluki dalang setan, menyebutkan bahwa Nartosabdho adalah dalang terbaik yang dimiliki negeri ini, tentu saja sebuah pengakuan yang tak ringan. Sebab Manteb sendiri dielu-elukan sebagai raksasa pedalangan.
Namun, di balik pengakuan itu ada sesuatu yang lebih dalam: pengaruh yang tak bisa dinafikan. Manteb menyerap gaya Nartosabdho dalam mengolah gending, dalam memberi ruang pada Seratus Tahun Ki Nartosabdho.
Kini, para dalang muda, yang lahir ketika Nartosabdho sudah lama tiada, tetap bersentuhan dengan jejaknya. Lakon-lakon carangan ciptaannya masih dipentaskan. Gending-gendingnya menjadi semacam “repertoar wajib”. Mereka yang ingin mendalang, pada satu titik, akan berhadapan dengan pilihan: apakah mengikuti pakem, atau berani seperti Narto yang menyimpang darinya. Dan di situlah bayangan Nartosabdho bekerja: ia memberi legitimasi pada keberanian.
Kita bisa melihat bagaimana generasi baru dalang tak lagi segan memasukkan musik populer, komedi, atau teknologi visual dalam wayang. Mereka barangkali tak lagi menyebut namanya, tapi jejaknya nyata: cara berpikir bahwa pedalangan adalah sesuatu yang bisa diperbarui. Bahkan ketika muncul kritik yang sama seperti dulu, bahwa mereka melenceng, tidak pakem, terlalu “pop”, kisah Nartosabdho pun hadir sebagai pembenaran sejarah.
Dalam musik Jawa, warisan itu lebih luas lagi. Banyak penyanyi campursari, karawitan modern, hingga grup musik lintas-genre masih menggali dari gending ciptaan Nartosabdho. Lagu-lagu itu tak lekang, justru terus lahir ulang dalam bentuk berbeda.
Di tangan penyanyi panggung rakyat, “Prahu Layar” bisa terdengar meriah. Di tangan musisi kontemporer, “Gambang Suling” bisa jadi eksperimental. Nartosabdho seakan menghadiahkan sebuah bank melodi yang bisa ditafsir ulang tanpa habis.
Barangkali di situlah paradoks seorang Nartosabdho: ia sering ditolak semasa hidupnya, dianggap “merusak” tatanan pedalangan, bahkan pernah diboikot. Tetapi justru di situlah letak keabadiannya. Ia menanam keyakinan bahwa seni tradisi tidak hanya boleh, tapi harus bergerak.
Bahwa tradisi bukan monumen, melainkan organisme yang bisa bernapas, bisa berubah.
Seratus tahun kelahirannya bukan hanya peringatan seorang maestro. Itu juga pengingat bahwa warisan sejati bukanlah kepatuhan pada pakem, melainkan keberanian untuk merobeknya, dan sekaligus menciptakan pakem baru.
Nartosabdho hidup dalam setiap dalang yang berani menyelipkan guyon di tengah adegan agung. Ia hidup dalam setiap gamelan yang berani memainkan gending baru di sela-sela klasik. Ia hidup dalam generasi yang bahkan tak pernah melihat wajahnya, tetapi merasakan kehadirannya di antara suara kendang dan suling.
Seratus tahun Ki Nartosabdho adalah seratus tahun keberanian untuk tidak sekadar mewarisi tradisi, tapi juga menghidupinya kembali.umor, dalam menjadikan wayang bukan sekadar ritus sakral, tetapi juga pertunjukan yang hidup bersama penontonnya. Seratus tahun Ki Nartosabdho adalah seratus tahun keberanian untuk tidak sekadar mewarisi tradisi, tetapi juga menghidupinya kembali.
Dan barangkali, di situlah ia abadi. Dalam suara gamelan yang tak henti diulik, dalam tembang yang tetap dinyanyikan, dalam bayangan tokoh-tokoh wayang yang bisa tertawa di keraton. Seratus tahun Ki Nartosabdho adalah seratus tahun peringatan akan keberanian seorang seniman miskin dari Klaten yang memilih untuk menafsir ulang dunia.
Yang lain mungkin berkata: ia dalang. Namun mungkin, lebih dari itu, ia adalah pembaharu. Seorang yang menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya diwarisi, melainkan juga diciptakan kembali.
Saya ingat ketika bersama Bambang Sadono dari Suara Merdeka meliput pemakaman Ki Nartosabdho 40 tahun lalu di TPU Bergota Semarang: ada ribuan pelayat datang dari berbagai elemen masyarakat.
*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-St