Loading ...

Tim Sekolah Vokasi Undip Juara 3 Business Plan di Olivia X 2025 dengan Inovasi Vocaglove

IMG-20250802-WA0019

The Kadaster, tim dari Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro bersama pembimbing. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com)— Tepuk tangan meriah bergema di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya, Malang, ketika nama The Kadaster, tim dari Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip), diumumkan sebagai Juara 3 Kategori Business Plan dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (Olivia) X 2025.

Bagi Melinda Aprilia Solekhah, Esterina Tria Dewi, dan Marska Fakhri Mulyana, momen itu adalah hasil dari berbulan-bulan kerja keras, diskusi panjang, dan malam-malam tanpa tidur demi menyelesaikan gagasan bisnis yang mereka yakini bisa memberi manfaat besar bagi masyarakat.

Dengan mengusung tema “TechnoProduct: Inovasi Produk Digital untuk Pendidikan yang Berkualitas dan Berkelanjutan”, The Kadaster memperkenalkan Vocaglove, sarung tangan pintar yang memungkinkan penyandang disabilitas, khususnya tuna wicara dan tuna rungu, berkomunikasi dua arah dengan orang lain.

Alat ini memanfaatkan teknologi sensor untuk menerjemahkan gerakan tangan menjadi teks atau suara, sehingga lawan bicara dapat memahami pesan dengan lebih mudah. 

“Kami ingin menghadirkan solusi nyata untuk mendukung komunikasi penyandang disabilitas. Vocaglove adalah langkah awal menuju inklusivitas dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari,” jelas Melinda, ketua tim.

Saat ini, Vocaglove masih berupa prototipe, namun tim sudah menjalin kerja sama dengan beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusi sebagai mitra uji coba.

Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi lintas disiplin ilmu.

Dua anggota tim, Melinda dan Esterina, berasal dari Prodi Manajemen dan Administrasi Logistik.

Sementara Marska merupakan mahasiswa Prodi Rekayasa Perancangan Mekanik.

“Pembagian peran sangat penting. Kami dari logistik fokus pada aspek perencanaan bisnis dan keberlanjutan usaha, sementara Marska mengerjakan sisi teknis perancangan prototipe. Hasilnya, ide kami lebih komprehensif,” terang Esterina.

Marska mengatakan Vocaglove dirancang sebagai alat bantu komunikasi bagı penyandang tunarungu agar lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat umum.

Alat ini menggunakan potensiometer pada setiap jari sebagai pengganti flex sensor untuk mendeteksi gerakan tangan, serta sensor MPU9250 untuk membaca orientasi posisi tangan secara menyeluruh.

Data dari sensor ini kemudian diproses olch mikrokontroler Arduino, dan hasilnya diputar melalur DFPlayer Mini ke speaker 1 watt.

Beberapa kosakata dasar seperti “halo”, “kamı”, dan “terima kasih” telah berhasil diterjemahkan dan disuarakan oleh alat ini.

Dalam proses pengembangan, tim juga melakukan riset langsung ke SLB Yayasan Widya Bakti Semarang guna memastikan bahwa standar bahasa isyarat yang digunakan sesuai dengan kurikulum SIBI yang diterapkan di sekolah luar biasa.

 

Meskipun belum diuji langsung oleh penyandang tunarungu, pendekatan berbasis observasi dan wawancara lapangan menjadi landasan penting dalam perancangan alat ini. 

Tim berharap alat ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung Komunikasi inklusif secara real-time di masa depan, termasuk untuk alimat-kalimat kompleks.

Dosen pembimbing, Riandhita Eri Werdani, S.M.B., M.S.M., turut mendampingi mereka sejak tahap persiapan. 

Menurutnya, inovasi ini menunjukkan keberanian mahasiswa vokasi untuk berpikir kreatif sekaligus peduli pada isu sosial. “Vocaglove bukan sekadar karya lomba, melainkan solusi yang punya nilai guna tinggi,” ujarnya.

Meraih juara 3 di ajang Olivia X, The Kadaster menganggap prestasi ini sebagai pijakan awal.

“Bagi kami, piala hanyalah simbol. Yang lebih penting adalah bagaimana ide ini bisa berkembang dan benar-benar digunakan oleh masyarakat,” kata Marska.

Kemenangan ini juga menjadi motivasi besar bagi mahasiswa vokasi Undip lainnya. 

Mereka membuktikan bahwa jalur vokasi mampu melahirkan inovasi yang solutif, tak kalah dengan pendidikan akademik pada umumnya.

Olimpiade Vokasi Indonesia (Olivia) adalah kompetisi tahunan yang mempertemukan mahasiswa vokasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tahun ini, Universitas Brawijaya menjadi tuan rumah dengan tema besar inovasi untuk pendidikan, teknologi, dan masyarakat berkelanjutan.

Kompetisi ini menjadi ajang pembuktian bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas, keterampilan teknis, dan kemampuan berpikir kritis. 

“Bertemu mahasiswa vokasi dari seluruh Indonesia membuat kami semakin yakin bahwa peran pendidikan vokasi sangat penting dalam pembangunan bangsa,” ujar Melinda.

Setelah kembali ke Semarang, The Kadaster berencana melanjutkan pengembangan Vocaglove hingga bisa diproduksi dalam skala lebih besar. 

Dengan dukungan universitas, mitra sekolah, dan mungkin pihak industri, mereka berharap Vocaglove dapat dipasarkan dan benar-benar dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas.

“Kami percaya, inovasi sederhana bisa membawa perubahan besar jika dikerjakan dengan niat baik dan konsistensi,” tutup Esterina.

Dengan torehan prestasi ini, Sekolah Vokasi Undip kembali membuktikan diri sebagai kampus vokasi unggulan yang tak hanya mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga generasi muda yang berani berinovasi untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat. she