
KENDAL (Jatengdaily.com) – Suasana Aula Balai Desa Banyuurip siang itu terasa berbeda. Ruangan yang biasanya dipenuhi canda tawa berubah menjadi ruang kreativitas penuh warna dan antusiasme. Melalui program “Membangun Indonesia dari Desa”, mahasiswa Unnes GIAT 13 Desa Banyuurip menghadirkan tiga pelatihan ramah lingkungan yang dirancang untuk memberdayakan Ibu-Ibu PKK Desa Banyuurip.
Kegiatan yang diselenggarakan pada 15 November 2025 pukul 10.00 WIB ini menjadi ruang belajar bersama sekaligus wadah untuk mengenalkan cara mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna.
Eco Print Workshop: Jejak Daun Jadi Karya
Pelatihan pertama dimulai dengan eco print. Ibu-ibu diajak memanfaatkan daun di sekitar rumah untuk menciptakan motif alami di atas kain. Mulai dari memilih daun, menata pola, hingga membuka hasil cetakan, suasana dipenuhi tawa dan rasa penasaran. Setiap daun meninggalkan jejak yang berbeda—mengajarkan bahwa keindahan dapat lahir dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
“Rasanya seperti melukis, tapi kuasnya daun,” ujar salah satu peserta sambil mengagumi hasil karyanya.
Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah
Setelah bermain dengan warna dan motif alam, peserta diajak beralih ke pengolahan minyak jelantah. Di sesi ini, ibu-ibu belajar membuat lilin aromaterapi beraroma lembut dan menenangkan. Pelatihan ini membuka cara pandang baru bahwa limbah dapur yang sering dianggap tak berguna ternyata dapat disulap menjadi produk cantik dan bermanfaat, bahkan bernilai ekonomi.
Antusiasme terlihat ketika peserta mencoba mencampur aroma dan melihat lilin pertama mereka mengeras sempurna.
Dari Sisa Menjadi Asa: Eco Enzyme untuk Alam Tercinta
Sesi terakhir mengenalkan eco enzyme—larutan serbaguna hasil fermentasi limbah dapur seperti kulit buah. Dengan mencampurkan kulit buah, gula, dan air, ibu-ibu mempelajari proses fermentasi sederhana yang mampu mendukung praktik hidup bersih dan ramah lingkungan. Pelatihan ini menekankan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil di dapur rumah.
Ketika Keterampilan Sederhana Menumbuhkan Manfaat Besar
Ketiga pelatihan dilakukan secara bergantian sehingga seluruh peserta dapat mencoba setiap keterampilan secara langsung. Sepanjang kegiatan, terlihat bagaimana pelatihan ini menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan semangat ibu-ibu untuk terus berkarya.

Dari kain bermotif daun, lilin beraroma lembut, hingga botol eco enzyme yang siap difermentasi—semuanya menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh dari tangan-tangan ibu rumah tangga yang ingin belajar dan berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, Lingga Nadhira, mahasiswa Unnes GIAT 13 yang turut mendampingi kegiatan, menuturkan bahwa pelatihan ini diharapkan dapat membuka ruang baru bagi kreativitas masyarakat desa.
“Kami percaya, dari hal sederhana di rumah, manfaat bisa lahir dan mengalir,” ujarnya.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pemberdayaan desa tidak selalu dimulai dari hal besar. Sering kali, perubahan lahir dari ruang-ruang kecil di rumah, dari daun di halaman, jelantah di dapur, hingga sisa kulit buah yang biasanya terbuang. Dengan menerapkan keterampilan ramah lingkungan ini, ibu-ibu PKK Banyuurip tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi kreatif yang berkelanjutan. St


