
SEMARANG (Jatengdaily.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui program Desa Konstruksi Hijau, yang memberdayakan para tukang bangunan dan pengrajin batu bata di Kelurahan Penggaron Kidul, Kota Semarang. Program ini menghadirkan inovasi teknologi konstruksi ramah lingkungan untuk meningkatkan daya saing sekaligus kesejahteraan masyarakat lokal.
Program yang dilaksanakan belum lama ini digagas oleh tim Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (PM BEM) Kemdiktisaintek 2025 dari Fakultas Teknik serta Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNTAG Semarang. Kegiatan tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim ini dipimpin oleh Agustinus Sungsang Nana Patria, S.T., M.T., dengan anggota dosen Tigo Mindiastiwi, S.T., M.Sc. dan Puji Setya Sunarka, S.Pd., S.E., M.Si., serta melibatkan 26 mahasiswa lintas program studi—Teknik Sipil, Teknik Kimia, Arsitektur, Manajemen, dan Akuntansi. Mereka hadir membawa solusi inovatif untuk sektor konstruksi yang masih menghadapi keterbatasan keterampilan teknis dan pemahaman tentang prinsip pembangunan ramah lingkungan.
Mengusung tema “Desa Konstruksi Hijau: Pemberdayaan Tukang Bangunan dan Pengrajin Batu Bata melalui Inovasi dan Teknologi Konstruksi Ramah Lingkungan Menuju Pembangunan Berkelanjutan,” kegiatan ini melibatkan dua kelompok produktif: tukang bangunan dan pengrajin batu bata. Peserta mendapatkan pelatihan komprehensif mencakup sosialisasi, penerapan teknologi, sertifikasi profesi, kunjungan proyek, serta pendampingan manajemen dan pemasaran.
Program ini juga menggandeng sejumlah mitra strategis seperti Dinas Tata Ruang Kota Semarang, INKINDO, IAI, tenaga ahli bangunan hijau dan struktur gedung, serta beberapa vendor konstruksi.
Menurut Agustinus, wilayah Penggaron Kidul memiliki potensi besar dalam pengembangan material hijau. “Kami ingin masyarakat konstruksi semakin mengedepankan pembangunan yang ramah lingkungan. Penggaron Kidul memiliki sumber material hijau seperti sedimen Sungai Babon, abu sekam padi, dan limbah konstruksi yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat tampak dari partisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Ketua kelompok pengrajin batu bata, Dimas Ferdi Darmawan, menuturkan bahwa program ini membuka wawasan baru bagi para pelaku usaha lokal.
“Kami dikenalkan dengan konsep bangunan hijau, inovasi beton hijau, dan bata hijau. Ilmu dan sertifikasi yang kami dapatkan sangat membantu meningkatkan kualitas produksi dan profesi kami,” ungkapnya.
Ke depan, tim Untag Semarang akan terus mendampingi mitra binaan agar Penggaron Kidul dapat menjadi desa percontohan pembangunan berkelanjutan, yang menginspirasi daerah lain untuk menciptakan industri konstruksi yang ramah lingkungan, inovatif, dan berdaya saing tinggi. St


