Oleh: Tasyaul Khaer
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
SELAMA pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) pada bulan Juli–September 2026 di SLB Yapenas Condongcatur, mahasiswa PK melaksanakan program kekhususan (progsus) keterampilan menyikat gigi.
Menggosok gigi adalah kebiasaan sederhana yang penting dilakukan setiap hari untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini.
Namun, bagi sebagian anak berkebutuhan khusus, aktivitas yang terlihat mudah ini justru menjadi tantangan tersendiri, karena membutuhkan koordinasi gerakan, pemahaman urutan langkah, serta konsentrasi yang tidak selalu mudah dikuasai.
Tantangan tersebut dialami oleh salah satu murid kelas 3 SDLB SLB Yapenas Condongcatur yang memiliki hambatan intelektual (tunagrahita) disertai ADHD. Bukan karena murid tidak mau menggosok gigi, tetapi karena rangkaian langkahnya terlalu panjang untuk diikuti sekaligus, sementara perhatiannya mudah berpindah sebelum satu tahap selesai dikerjakan.
Kondisi inilah yang menjadi sasaran salah satu program khusus (progsus) bina diri yang dijalankan mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta selama praktik di SLB Yapenas Condongcatur, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Progsus ini secara khusus melatih keterampilan menggosok gigi, sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan kebiasaan hidup bersih sejak dini. Penyusunan program ini turut berkoordinasi dengan guru pamong, agar pendekatan yang digunakan sesuai dengan kondisi murid sehari-hari di sekolah.
Satu Aktivitas, Banyak Rintangan
Bagi murid pada umumnya, menggosok gigi mungkin hanya butuh beberapa detik untuk dipahami. Namun bagi murid dengan tunagrahita, urutan langkah seperti mengambil sikat, mengoleskan pasta secukupnya, menggosok tiap bagian gigi, hingga berkumur perlu dipelajari secara bertahap dan berulang.
Ditambah dengan ADHD, tantangannya jadi berlapis: bukan hanya soal memahami langkah, tapi juga mempertahankan perhatian agar tidak berhenti di tengah jalan. Instruksi yang terlalu panjang justru berisiko membuat murid kehilangan arah sebelum sampai ke langkah terakhir.
Menyusun Pogsus sebagai Peta Latihan
Menjawab kondisi tersebut, disusunlah program khusus (progsus) yang dirancang khusus mengikuti kemampuan murid ini, bukan mengikuti target umum di kelas.
Sebelum menyusun Progsus, dilakukan pengamatan sederhana untuk melihat bagian mana dari rangkaian menggosok gigi yang sudah bisa dilakukan sendiri dan bagian mana yang masih perlu dibantu.
Dari situ, satu aktivitas menggosok gigi dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih spesifik: mengambil sikat, mengambil pasta gigi, menggosok bagian depan, samping, dan belakang gigi, lalu berkumur. Memecah aktivitas menjadi bagian-bagian kecil ini membuat murid tidak dihadapkan pada instruksi yang terasa berat sekaligus.
Bantuan yang Perlahan Dilepas
Latihan dimulai dengan mencontohkan langkah menggosok gigi secara langsung, menggunakan instruksi pendek dan gerakan yang mudah ditiru. Tahap berikutnya, murid mencoba mengikuti dengan bantuan penuh, baik berupa pegangan tangan maupun arahan verbal di setiap langkah.
Seiring waktu, bantuan itu dikurangi sedikit demi sedikit, dari bantuan fisik menjadi isyarat, lalu hanya pengingat lisan, sampai akhirnya murid diberi ruang untuk mencoba sendiri sambil tetap diawasi. Pendekatan bertahap ini penting supaya murid tidak merasa gagal ketika belum bisa melakukan seluruh rangkaian sekaligus.
Mengulang Tanpa Bosan
ADHD membuat satu kali latihan saja tidak cukup untuk membentuk kebiasaan. Progsus ini dijalankan secara rutin, sehingga menggosok gigi lambat laun menjadi bagian dari pola yang dikenali murid, bukan aktivitas asing yang harus diingatkan dari nol setiap kali.
Setiap kali murid berhasil menuntaskan satu langkah, sekecil apa pun, ia mendapat pujian sebagai penguat agar tetap termotivasi mengikuti latihan sampai selesai. Cara ini dipilih karena murid dengan ADHD umumnya merespons lebih baik terhadap penguatan langsung dibanding teguran atau instruksi satu arah.
Pengulangan yang konsisten ini juga membantu murid merasa lebih familiar dengan urutan langkah, sehingga kebergantungan terhadap arahan orang lain berangsur berkurang.
Kemandirian yang Dibangun dari Hal Kecil
Melatih satu keterampilan sederhana seperti menggosok gigi sebenarnya adalah bagian dari pendidikan yang bermutu dan sesuai kebutuhan setiap murid, bukan sekadar rutinitas bina diri di sekolah.
Progsus ini juga sejalan dengan misi sekolah menumbuhkan kemandirian murid, khususnya bagi mereka yang kelak diharapkan mampu mengurus dirinya sendiri.
Progres murid dalam latihan ini mungkin tidak selalu terlihat cepat, tapi setiap tahap yang berhasil dikuasai adalah bukti bahwa pendekatan personal dan konsisten dapat membawa perubahan nyata.
Bagi mahasiswa PK, pengalaman ini juga menjadi pembelajaran penting bahwa mendampingi anak berkebutuhan khusus menuntut kesabaran dan ketelitian dalam membaca kebutuhan setiap individu, sekalipun perubahan itu dimulai dari aktivitas sekecil menggosok gigi. St



