Bersegera Menjadi Tamu Allah: Ikhtiar, Antrean Panjang, dan Harapan Haji Mabrur

Oleh: Ahmad Rofiq

IBADAH haji diperintahkan kepada hamba Allah dengan segera, atau berburu-buru. Karena seseorang tidak mengetahui keadaan tertentu yang berpotensi menghalanginya untuk menunaikan haji. Karena itu wajar jika antrian di Indonesia sangatlah Panjang. Data daftar tunggu (waiting list) haji Indonesia per awal 2026, menurut Kementerian Haji dan Umrah menembus angka lebih dari 5,6 juta orang, dengan rata-rata masa tunggu mencapai 26 tahun. Kuota haji tahun 2026 ditetapkan sebanyak 221.000 jemaah, yang terdiri dari 203.320 kuota haji reguler dan 17.680 kuota haji khusus. Pada 2026 ini, tidak kurang dari 221.000 saudara kita menjalankan ibadah haji. Rabu 22/4 kloter 1 dari seluruh embarkasi sudah mendarat di tanah suci Madinah, dan sebagian lainnya dalam persiapan. Kloter terakhir berangkat Akhir Mei-Awal Juni 2026, beberapa hari sebelum Idul Adha 1447 H.

Ibadah haji, merupakan rukun Islam kelima, diwajibkan bagi hamba-hamba Allah yang berkemampuan atau istitha’ah. Istithaah pertama, adalah mampu secara ekonomi, dengan membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). Kedua adalah istithaah Kesehatan. Istithaah kesehatan ini sangat penting, bahkan menjadi syarat pelunasan BPIH di Bank.  Ketiga, adalah istithaah perjalanan yang aman bagi jamaah.

Selain itu, Ibadah haji juga ibadah yang paling lengkap, gabungan dari ibadah kebendaan (maliyah), karena harus bayar biaya mahal, ibadah jasmaniyah, dan rohani (ruhiyah) sekaligus. Ibadah haji diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk bersegera. Beliau bersabda: “Bersegeralah kalian menunaikan ibadah haji, karena sesungguhnya salah seorang kalian, tidak  mengetahui apa yang akan menghalangi baginya” (Riwayat Ahmad).

Lebih dari itu Rasulullah saw juga mengingatkan: “Barangsiapa tidak mendapatkan halangan untuk melaksanakan ibadah haji, baik karena kebutuhan yang jelas, atau penguasa yang brengsek, atau karena sakit yang menahannya, maka mati dan tidak melaksanakan ibadah haji, maka matilah jika ia kehendaki laksana Yahudi atau Nasrani (Riwayat ad-Darimi dan Al-Baihaqi). Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa memiliki bekal dan kendaraan yang menyampaikannya ke Rumah Allah (di tanah suci) dan ia tidak berhaji, maka tidak ada baginya, laksana mati secara Yahudi atau Nasrani” (Riwayat At-tirmidzi dan al-Bazzar).

Rasulullah saw menegaskan, ada tiga perjalanan yang perlu dipersiapkan secara serius dan sungguh-sungguh. Riwayat Abu Hurairah, beliau bersabda: “Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga Masjid. Yaitu: Masjidku ini (Masjid Nabawi Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid Al Aqsha (Palestina)” (Riwayat Muslim, 2475).

Ibadah haji merupakan prosesi pencucian segala macam dosa, dalam prosesi waktu yang cukup Panjang. Rasulullah saw menjelaskan, bahwa jamuan di padang Arafah, merupakan momentum akbar, Allah membebaskan api neraka pada hamba-hamba-Nya yang berlumuran dosa. Karena itu wukuf di Arafah adalah kesempatan untuk bermunajat, memohon ampunan, dan melangitkan doa-doa yang terindah.  Riwayat dari ‘Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada suatu hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka, kecuali wuquf hari Arafah” (Riwayat Muslim).

Karena itu, dalam melaksanakan ibadah haji, seorang jamaah wajib menjaga kesucian ibadah, bukan saja dari najis, hadats besar dan kecil, namun juga kesucian hati, fikiran, dan lisan, dan tindakan, bahwa beribadah haji dan umrah adalah semata-mata untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana Firman Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana dikutip dalam muqaddimah khutbah ini: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah (2): 197).

Juga dikuatkan lagi riwayat dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa melaksanakan ibadah haji, makai a tidak rafats (berkata kotor), tidak fasiq, makai a Kembali (ke tanah airnya) seperti di hari ia dilahirkan ibunya”. Karena itu, seluruh jamaah haji berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya, agar mendapatkan haji yang mabrur, karena tidak ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga. Juga sabda Rasulullah saw: “Ibadah umrah ke umrah adalah penebus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur, tidak ada balasan kecuali surga” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Secara teoritis seorang Muslim/Muslimah, yang sudah melaksanakan ibadah haji, maka keberislamannya sempurna, karena sudah melaksanakan seluruh rukun Islam yang lima. Namun kemabruran ibadah haji, perlu diupayakan dan dirawat secara konsisten dan istiqamah. Bagaimana indikator kemabruran ibadah hajinya? Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia, tebarkanlah keselamatan (kesejahteraan, kedamaian, ketenteraman, kesentausaan), berilah makan (orang yang membutuhkan), sambunglah kasih sayang (silaturrahim), dan shalatlah kamu sekalian di saat manusia (kebanyakan) sedang tidur (nyenyak)” (Riwayat Ahmad).

Seseorang yang dibersihkan dari semua dosanya, maka ia kembali pada potensi baiknya atau positifnya, atau fitrah. Ibnu Sina menyebutkan, orang yang berada dalam keadaan fitrah, maka ia hanya mengangankan, merindukan, dan bertekad bertututr kta atau berbuat yang baik, benar, dan indah. Itulah sesungguhnya karunia terbesar yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai hamba-Nya yang sejak dari diciptakan-Nya di muka bumi tujuannya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Rasulullah saw menggambarkan seseorang yang kualitas keberagamaannya baik adalah mereka yang keberadaannya menjadikan kenyamanan dan ketenteraman bagi orang lain, baik dari tutur kata lisannya — baca tulisannya termasuk di media sosial – dan tangan (kekuasaan)-nya” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Mari kita persiapkan diri kita, niat dalam hati, fikiran kita bersihkan, segeralah mendaftar bagi yang belum, kita doakan saudara-saudara kita yang melaksanakan haji, diberi kesehatan dan kemudahan, dan membawa haji mabrur, dan kita rawat kemabruran ibadah haji kita. Karena balasan haji yang mabrur, hanyalah surga Allah. Amin. Seandainya, Allah memanggil terlebih dulu sebelum kita melaksanakan haji, setidaknya kita sudah mencatatkan diri termasuk barisan calon tamu-Nya. Semoga Allah mengijinkan kita sebagai hamba yang sempurna iman dan keislamannya. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturahman Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Anggota DPS BPRS Bina Finansia, dan Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang. Jatengdaily.com-st

 

Share This Article
Exit mobile version