DEMAK (Jatengdaily.com)– Bagaimana jika dongeng yang selama ini dianggap sekadar cerita pengantar tidur ternyata menyimpan jejak kecerdasan dan kekuatan perempuan Indonesia? Pertanyaan itulah yang coba dijawab jurnalis asal Solo, Ayu Prawitasari, melalui bukunya “Bukan Cerita Nenek Sebelum Tidur”.
Buku bersampul unik dengan latar belakang gambar kereta api itu dibedah dalam rangkaian Festival Literasi 2026 bertema “Dari Kota Wali untuk Generasi Berliterasi” di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Demak, Kamis (24/09/2026). Dalam bedah buku yang dimoderatori Khaled Hasby Ashshidiqy tersebut, Ayu mengajak pembaca melihat kembali cerita-cerita lama dengan kacamata berbeda.
“Bukan sekadar mencari siapa tokoh baik dan jahat, tetapi menggali bagaimana perempuan digambarkan, mengambil peran, hingga memengaruhi kehidupan di tengah masyarakat pada zamannya,” kata dia.
Sejumlah tokoh dalam folklor menjadi bahan penelusuran Ayu, mulai dari Sri Tanjung, Ken Dedes, Klenthing Kuning, Calon Arang, Roro Jonggrang hingga Nyi Roro Kidul. Dari karakter mereka, Ayu menemukan gambaran perempuan Indonesia yang menurutnya jauh lebih kompleks daripada sekadar sosok yang pasif dan hanya mengikuti keputusan laki-laki.
“Buku ini sebenarnya catatan perjalanan atau karya reportase saya sebagai seorang jurnalis. Buku ini dibiayai Kementerian Kebudayaan lewat anggaran riset,” ujar Ayu lagi.
Gagasan itu sekaligus menjadi semacam kegelisahan Ayu setelah mempelajari berbagai teori feminisme saat menjadi mahasiswa. Ia tidak menolak teori tersebut, tetapi menilai pengalaman perempuan Indonesia memiliki konteks sendiri yang tidak selalu bisa dibaca menggunakan kerangka dari Barat.
“Sebenarnya Indonesia punya konteks feminisme sendiri. Konteks feminisme tersebut bisa dilihat lewat folklor-folklor yang ada,” lanjutnya.
Ken Dedes menjadi salah satu contoh yang menurut Ayu menarik untuk dibaca ulang. Sosok perempuan tersebut tidak hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah kekuasaan Jawa.
“Kita bisa belajar dari Ken Dedes. Dari rahim wanita istimewa itu bisa lahir raja-raja Jawa,” ungkapnya.
Ayu juga menyoroti istilah nareswari, yang dimaknai sebagai perempuan bercahaya. Menurut dia, istilah tersebut dapat dibaca sebagai gambaran tentang perempuan yang memiliki kualitas dan pengaruh, meski pada masa lampau masyarakat belum memiliki banyak kosakata untuk menggambarkan perempuan cerdas dalam konteks sekarang.
“Mungkin karena kita memang tidak punya diksi tentang perempuan pintar pada masa itu,” ujarnya.
Melalui buku yang diluncurkan 22 Agustus 2026 tersebut, Ayu berharap pembaca, khususnya generasi muda, tidak menelan cerita lama begitu saja. Cerita rakyat justru bisa menjadi bahan untuk mempertanyakan, membandingkan, dan membaca ulang sejarah perempuan Indonesia.
“Saya tidak menuntut persetujuan. Kalau ada yang protes tidak masalah. Critical thinking tidak harus setuju. Bagi saya laki-laki dan perempuan sama-sama punya nilai,” tegas Ayu. rie-she



