SEMARANG (Jatengdaily.com) — Di sebuah pesantren yang tenang di kaki perbukitan, suara tadarus tidak hanya berisi lantunan ayat suci. Ramadan tahun ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: diskusi tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Di Pondok Pesantren Wali (Wakaf Literasi Islam Indonesia) yang berada di Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang, para santri menjalani Ramadan dengan cara yang unik. Selama dua pekan, sejak 1 hingga 15 Ramadan 2026, mereka mengikuti program Tadarus Literasi AI—sebuah kegiatan yang mempertemukan tradisi pesantren dengan perkembangan teknologi masa depan.
Sebanyak 75 santri dan mahasiswa pesantren terlibat dalam kegiatan ini. Mereka juga didampingi puluhan aktivis mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Salatiga yang ikut belajar sekaligus berdiskusi bersama.
Setiap harinya, para peserta tidak hanya membaca dan mendalami kitab, tetapi juga belajar memahami dunia digital yang kian berkembang. Mereka diajak mengenal apa itu kecerdasan buatan, bagaimana cara memanfaatkannya, serta memahami risiko dan tantangan yang menyertainya.
Sejumlah narasumber yang berpengalaman di bidang teknologi dan literasi digital hadir berbagi wawasan, di antaranya Imam Prihandoko, Nafis Munandar, M Yasin Dahlan, Andi Taru, serta pengasuh pesantren Anis Maftukhin.
Melalui diskusi santai, simulasi, hingga sesi berbagi pengalaman, para narasumber mencoba menjembatani dunia pesantren dengan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Bagi para santri, pengalaman ini terasa baru sekaligus membuka wawasan. “Acara ini sangat relevan dengan kehidupan dan kebutuhan teman-teman sebagai Gen Z,” ujar Fahri Ali, salah satu santri peserta kegiatan.
Menurutnya, para santri tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi juga bagaimana memanfaatkannya secara bijak. “Kami banyak mendapat informasi tentang apa dan bagaimana menggunakan AI untuk menambah ilmu dan mendorong inovasi kami,” katanya.
Para narasumber pun mengaku terkesan dengan semangat belajar para santri. Diskusi-diskusi yang terjadi sering kali berlangsung hangat dan penuh rasa ingin tahu. “Kegiatan ini sangat inspiratif, kreatif, dan layak dicoba oleh lembaga-lembaga pendidikan lain,” ujar Nafis Munandar.
Tidak hanya berhenti pada diskusi tentang AI, pesantren juga mengadakan Workshop Literasi Digital bagi santri tingkat SMP dan SMA. Kegiatan ini dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan dasar agar lebih cerdas dan aman dalam menggunakan internet.
Para peserta diajak memahami berbagai potensi risiko di dunia digital, mulai dari penipuan daring hingga penyalahgunaan informasi. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara sehat dan produktif.
Bagi pengasuh pesantren, program ini merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam nilai-nilai keagamaan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Dengan kegiatan ini, kami ingin santri-santri kami menjadi agen perubahan yang dapat memanfaatkan teknologi digital untuk kebaikan umat,” ujar Anis Maftukhin.
Di pesantren kecil di Tuntang itu, Ramadan tahun ini menjadi saksi pertemuan dua dunia: tradisi keilmuan Islam yang mendalam dan teknologi masa depan yang terus berkembang.
Para santri pun belajar satu hal penting—bahwa di era digital, ilmu agama dan teknologi tidak harus berjalan terpisah, melainkan bisa saling menguatkan untuk membangun peradaban yang lebih baik. Sunarto


