By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Dari Pinggir Jalan ke Ruang Pengering, Undip Dorong Rumput Laut Brebes Naik Kelas
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Dari Pinggir Jalan ke Ruang Pengering, Undip Dorong Rumput Laut Brebes Naik Kelas

Last updated: 30 Agustus 2026 15:20 15:20
Jatengdaily.com
Published: 30 Agustus 2026 15:20
Share
SHARE

BREBES (Jatengdaily.com)— Tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) memperkenalkan teknologi pengeringan rumput laut dalam ruang tertutup kepada pelaku usaha di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Teknologi tersebut memanfaatkan sumber panas hibrida surya dan biomassa untuk mempercepat proses pengeringan sekaligus meningkatkan kualitas rumput laut kering yang dihasilkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Penerapan teknologi ini dilakukan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI, khususnya skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi. Program Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut berfokus pada penguatan kolaborasi berdampak antara perguruan tinggi dan mitra industri.

Dalam pelaksanaannya, Undip dan Unwahas bekerja sama dengan PT Mutiara Global Industry melalui mekanisme co-funding, co-contribution, dan co-creation. Kolaborasi ini diarahkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi pelaku usaha sekaligus mendorong hilirisasi produk rumput laut kering yang bermutu dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Desa Randusanga Kulon dipilih karena memiliki potensi budi daya rumput laut yang dapat dikembangkan melalui transfer teknologi terpadu. Sebelumnya, sebagian warga masih mengeringkan hasil panen rumput laut di pinggir jalan tambak maupun jalan desa.

Cara pengeringan terbuka tersebut membuat proses produksi sangat bergantung pada kondisi cuaca. Selain itu, rumput laut berisiko terpapar debu, kotoran, hewan, maupun berbagai sumber kontaminasi dari lingkungan sekitar.

Melalui Program SINERGI, proses pengeringan dipindahkan ke dalam bangunan tertutup yang dirancang untuk menciptakan kondisi pengeringan lebih bersih dan terkendali.

Bangunan tersebut memanfaatkan energi surya sebagai sumber panas utama dan biomassa sebagai sumber panas pendukung. Penggabungan kedua sumber energi memungkinkan proses pengeringan tetap berlangsung ketika intensitas sinar matahari berkurang atau kondisi cuaca kurang mendukung.

Sirkulasi udara di dalam ruang pengering didukung blower dan fan exhaust untuk membantu meratakan aliran udara panas pada bahan. Rumput laut ditempatkan pada rak-rak pengering sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah maupun permukaan lantai.

Dengan rancangan tersebut, proses pengeringan diharapkan berlangsung lebih higienis, efisien, dan konsisten dibandingkan penjemuran secara terbuka.

Ketua Tim SINERGI, Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., dari Undip, menjelaskan penerapan sistem pengeringan tertutup berbasis energi hibrida merupakan bagian dari kolaborasi hilirisasi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempercepat proses pengeringan, tetapi juga membantu pelaku usaha menjaga kebersihan dan meningkatkan konsistensi kualitas produk rumput laut kering.

Jika sebelumnya proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 18 jam, dengan teknologi tersebut waktu pengeringan dapat dipersingkat menjadi sekitar 8 jam.

Penggunaan ruang tertutup juga melindungi rumput laut dari hujan, debu, hewan, dan sumber cemaran lainnya selama proses pengeringan. Dukungan panas dari biomassa sekaligus mengurangi ketergantungan proses produksi terhadap sinar matahari.

Dengan demikian, pelaku usaha memiliki peluang menjalankan proses pengeringan secara lebih berkelanjutan dan menghasilkan produk bermutu yang lebih seragam.

Tim SINERGI diketuai Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., dengan anggota Prof. Aji Prasetyaningrum, S.T., M.Si.; Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., dari Teknik Kimia; serta Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si., dari FPIK Undip.

Sementara itu, tim dari Unwahas terdiri atas Dr. Laeli Kurniasari, S.T., M.T., dan Agung Nugroho, S.T., M.T., dengan keilmuan Teknik Kimia dan Teknik Mesin. Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor Teknik Kimia.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran berbasis persoalan nyata di masyarakat. Mahasiswa memperoleh kesempatan mendampingi penerapan teknologi, mengamati proses pengeringan, serta berinteraksi langsung dengan pelaku usaha.

Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh pendampingan untuk memahami cara mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan produksi.

Kolaborasi perguruan tinggi, mitra industri, dan masyarakat melalui Program SINERGI menunjukkan bahwa hasil riset dapat diterapkan untuk menjawab persoalan di tingkat usaha.

Teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai purwarupa di lingkungan kampus, tetapi diarahkan menjadi solusi yang dapat digunakan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Penerapan sistem pengeringan hibrida surya-biomassa di Desa Randusanga Kulon diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat pengolahan pascapanen rumput laut.

Produk yang lebih bersih, kering secara merata, dan memiliki kualitas lebih konsisten akan membuka peluang peningkatan daya saing serta nilai jual rumput laut kering.

Kini, rumput laut hasil budi daya warga tidak perlu lagi dijemur di pinggir jalan. Melalui sinergi perguruan tinggi, industri, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat, teknologi hadir lebih dekat dengan pelaku usaha sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. she

You Might Also Like

Meriahkan Hari Anak Nasional, PLN UP3 Salatiga Kolaborasi YBM dan Lazis Jateng Gelar Khitan untuk Anak Yatim dan Dhuafa
Pemprov Jamin Kebutuhan Pengungsi Merapi, Sudah Dievakuasi di Posko Pengungsian
HKB 2022 Dipusatkan di Lereng Merapi Desa Balerante Klaten
SBI Dukung Mudik Gratis, Mudik Aman dan Berkesan
Jateng Galakkan Program Rabu Pon untuk Ketahanan Pangan
TAGGED:rumput laut keringUndip
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?