By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Dekan Sekolah Vokasi Undip Sebut Sekolah Vokasi Kelas Dunia Bukan Sekadar Diakui Dunia
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsPendidikan

Dekan Sekolah Vokasi Undip Sebut Sekolah Vokasi Kelas Dunia Bukan Sekadar Diakui Dunia

Jatengdaily.com
Published: 21 September 2026 08:01
Share
Ilustrasi gedung Sekolah Vokasi Undip di Kampus Pleburan, Semarang, dalam pengembangan menuju World-Class Vocational School. Tulisan dan identitas pada fasad merupakan ilustrasi. Foto: Dok. Sekolah Vokasi Undip
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)— Menjadi sekolah vokasi kelas dunia tidak cukup hanya ditandai dengan akreditasi internasional, fasilitas modern, mobilitas mahasiswa ke luar negeri, atau semakin luasnya jejaring global. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana pendidikan, penelitian terapan, inovasi, dan kolaborasi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi dunia kerja dan masyarakat.

Contents
Keunggulan Harus Menjadi EkosistemIndustri Bukan Hanya Pengguna LulusanAI Harus Memperkuat Kemampuan ManusiaGlobal Tidak Sekadar Pergi ke Luar NegeriGedung Adalah RumahnyaDekade Kedua: Dari Excellence Menuju Impact

Pandangan tersebut disampaikan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., ketika berbicara mengenai arah pengembangan pendidikan vokasi memasuki dekade kedua Sekolah Vokasi Undip. Menurut Budiyono, pengakuan internasional tetap penting karena menunjukkan kualitas institusi telah memenuhi standar tertentu. Namun, pengakuan tersebut tidak semestinya menjadi tujuan akhir.

“Pengakuan global adalah pintu. Dampak nyata adalah tujuan,” kata Budiyono.

Ia mengatakan, sekolah vokasi kelas dunia pada akhirnya harus mampu mengubah pengetahuan menjadi kompetensi, kompetensi menjadi karya, karya menjadi solusi, dan solusi menjadi dampak nyata.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari Manifesto Sekolah Vokasi Kelas Dunia yang dikembangkan Sekolah Vokasi Undip untuk memperkuat arah institusi menuju World-Class Vocational School. Dalam manifesto tersebut, Real-World Impact ditempatkan sebagai muara dari seluruh proses pendidikan vokasi.

Keunggulan Harus Menjadi Ekosistem

Budiyono menjelaskan, kualitas pendidikan vokasi tidak mungkin dibangun hanya melalui satu program unggulan. Kurikulum yang baik, misalnya, belum cukup apabila tidak didukung dosen yang kompeten, laboratorium, teaching factory, keterlibatan industri, pengalaman global, penelitian terapan, pembentukan karakter, serta lingkungan belajar yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Karena itu, Sekolah Vokasi Undip mengembangkan tujuh ekosistem yang saling terhubung, yakni Academic Excellence Ecosystem, Industry Engagement Ecosystem, Global Employability Ecosystem, Character Development Ecosystem, Innovation and Applied Research Ecosystem, Applied Media and Global Visibility Ecosystem, serta Sustainability and Social Impact Ecosystem.

Tujuh ekosistem tersebut juga menjadi arah dalam penguatan lingkungan pendidikan di Twin Tower Undip.

“Keunggulan tidak lahir dari satu program. Ia lahir ketika berbagai unsur pendidikan bekerja sebagai sebuah ekosistem dan bergerak menuju tujuan yang sama,” ujarnya.

Tujuan tersebut adalah menghasilkan lulusan, inovasi, teknologi, dan berbagai karya yang benar-benar memberikan manfaat.

Industri Bukan Hanya Pengguna Lulusan

Perubahan juga diperlukan dalam hubungan antara kampus vokasi dan industri. Menurut Budiyono, konsep link and match tetap relevan, tetapi hubungan perguruan tinggi vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri perlu berkembang lebih jauh menuju industry engagement dan co-creation.

Industri tidak lagi hanya ditempatkan sebagai pengguna lulusan atau tempat mahasiswa melakukan magang. Industri dapat terlibat sebagai mitra dalam pendidikan, penelitian, hingga pengembangan inovasi.

“Pertanyaannya jangan berhenti pada: kompetensi apa yang dibutuhkan industri? Kita perlu melangkah kepada pertanyaan berikutnya: persoalan apa yang dapat kampus dan industri selesaikan bersama?” katanya.

Dengan pola tersebut, mahasiswa berhadapan dengan persoalan nyata, dosen memperoleh ruang lebih luas untuk mengembangkan penelitian terapan, sedangkan industri mendapatkan mitra akademik untuk menghasilkan solusi dan inovasi.

AI Harus Memperkuat Kemampuan Manusia

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) juga menjadi tantangan besar bagi pendidikan vokasi. Budiyono menilai AI tidak perlu diposisikan sebagai tujuan tersendiri, melainkan sebagai strategic enabler yang memperkuat seluruh proses pendidikan.

AI dapat digunakan dalam pembelajaran, desain, simulasi, penelitian, analisis data, produksi media, pengembangan inovasi, maupun penyelesaian berbagai persoalan industri.

Namun, kemampuan menggunakan teknologi harus tetap disertai kemampuan berpikir, kreativitas, profesionalisme, integritas, dan kemampuan beradaptasi.

“Teknologi berubah sangat cepat. Karena itu, kita tidak cukup mendidik mahasiswa untuk menguasai teknologi hari ini. Kita harus mempersiapkan mereka agar mampu terus belajar ketika teknologi berubah,” ujar Budiyono.

Global Tidak Sekadar Pergi ke Luar Negeri

Hal serupa berlaku pada internasionalisasi. Menurut Budiyono, jumlah mahasiswa yang mengikuti magang atau belajar di luar negeri memang penting. Namun, pengalaman internasional seharusnya dilihat dari perubahan kompetensi yang terjadi pada mahasiswa.

Kemampuan bekerja dalam lingkungan multikultural, berkomunikasi lintas budaya, beradaptasi, menunjukkan profesionalisme, dan tetap kompeten dalam lingkungan kerja global menjadi bagian penting dari global employability.

Dengan demikian, internasionalisasi bukan sekadar mobilitas.

“Yang kita bangun bukan hanya lulusan yang pernah pergi ke luar negeri, tetapi lulusan yang mampu berkontribusi di mana pun ia bekerja,” katanya.

Gedung Adalah Rumahnya

Transformasi fisik Sekolah Vokasi Undip juga terus berlangsung. Twin Tower 1 di Kampus Pleburan telah resmi beroperasi pada Juli 2026 dan menjadi bagian dari pengembangan kawasan pendidikan vokasi yang lebih terintegrasi.

Namun, Budiyono mengingatkan bahwa fasilitas modern tetap merupakan instrumen.

“Gedung bukan World-Class Vocational School. Gedung adalah rumahnya. World-Class Vocational School adalah ekosistem yang hidup di dalamnya,” katanya, sebagaimana juga ditegaskan dalam Manifesto Sekolah Vokasi Kelas Dunia.

Ekosistem itu, lanjutnya, hidup ketika mahasiswa dari berbagai disiplin dapat bekerja bersama, dosen dan industri menghasilkan inovasi, laboratorium melahirkan solusi, dan hasil penelitian menemukan jalan menuju pengguna.

Dekade Kedua: Dari Excellence Menuju Impact

Memasuki satu dekade sejak Sekolah Vokasi Undip berdiri pada 2016, Budiyono memandang periode berikutnya sebagai fase penting untuk mengubah berbagai fondasi yang telah dibangun menjadi dampak yang semakin nyata.

Perjalanan menuju 2030 karena itu tidak hanya diarahkan pada semakin luasnya pengakuan global, tetapi juga pada kontribusi yang dapat dirasakan oleh industri, masyarakat, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

“Pada akhirnya, kita tidak ingin menjadi institusi yang sekadar dikenal dunia. Kita ingin kompetensinya dibutuhkan, karyanya digunakan, inovasinya memberi solusi, lulusannya memberikan kontribusi, dan keberadaannya menghadirkan manfaat nyata,” ujarnya.

Itulah, menurut Budiyono, makna World-Class Vocational School yang ingin dibangun: dari excellence menuju impact. Dari pengetahuan menuju kemampuan. Dari kemampuan menuju karya. Dari karya menuju solusi. Dan dari solusi menuju dampak nyata. she 

You Might Also Like

Enam Lapak PKL Pasar Ngaliyan Semarang Terbakar Diduga Karena Korsleting
Belum Ada Titik Cerah,  Keluarga Korban Pengeroyokan di Demak Menuntut Keadilan
Belum Rekam Data e-KTP, Data Kependudukan 3.619 Warga Diblokir
Komunitas Lingkungan Hidup Cilacap Lakukan Gerakan Cabut Paku di Pohon
Jokowi Langsung Ikuti KTT G20 Virtual, Bahas COVID-19
TAGGED:Dekan Sekolah Vokasi UndipSekolah Vokasi Kelas Duniasekolah vokasi UNDIP
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?