“Doa Sunyi Seorang Ayah: Cinta yang Tak Pernah Terucap di Balik Malam

Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa begitu kental dalam acara halal bihalal keluarga besar Bani HM Bisri yang digelar pada Selasa, 24 Maret 2026 di EK View Edupark.Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa begitu kental dalam acara halal bihalal keluarga besar Bani HM Bisri yang digelar pada Selasa, 24 Maret 2026 di EK View Edupark.

Di tengah kebersamaan yang sarat makna itu, hadir sebuah tausiyah yang menyentuh relung hati, disampaikan oleh Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo.

Mengangkat tema “Doa Seorang Ayah di Pelukan Malam, Air Mata yang Tak Terucap”, tausiyah tersebut mengalir lembut namun dalam, menggugah kesadaran tentang peran keluarga, kepedulian sosial, dan cinta seorang ayah yang sering kali tersembunyi di balik diam.

Dalam pembukaannya, ia mengajak hadirin merenungi makna Surah Al-Ma’un yang menegaskan bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan enggan peduli pada kaum miskin.

Menurutnya, Ramadan yang baru saja dilalui seharusnya menjadi momentum pembelajaran empati.

“Setelah sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, kita belajar merasakan penderitaan mereka. Maka sudah sepatutnya kita berbagi, agar saudara-saudara kita yang kurang mampu juga merasakan nikmat kehidupan,” tuturnya.

Pesan itu kemudian mengalir lebih dalam ke lingkup keluarga. Ia menegaskan pentingnya kepedulian internal, agar tidak ada satu pun anggota keluarga yang tertinggal dalam kesulitan hidup.

Para orang tua, terutama ayah, diajak untuk tidak hanya hadir sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai penyiap masa depan anak-anaknya.

Dalam bagian tausiyah yang paling menyentuh, ia menggambarkan sosok ayah dalam keheningan malam—figur yang sering kali tampak kuat di siang hari, namun menyimpan kegelisahan mendalam saat semua terlelap.

Seorang ayah, dalam diamnya, memanjatkan doa yang lirih: “Ya Rabb, jangan Engkau panggil hamba sebelum anak-anakku siap, mandiri, dan menemukan pendamping hidup yang lebih baik.”

Gambaran itu seolah hidup di benak para hadirin. Tentang seorang ayah yang menatap wajah anak-anaknya saat tidur, menyimpan harap dan cemas dalam satu waktu. Tentang perjuangan tanpa suara—menahan lelah, menepis lapar, dan memikul beban kehidupan demi masa depan buah hati.

Air mata yang tak terlihat itu, menurutnya, bukan tanda kelemahan, melainkan wujud cinta yang paling tulus. Seorang ayah tidak takut akan kematian, tetapi takut meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan belum siap menghadapi kerasnya kehidupan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa tugas seorang ayah bukan sekadar mencukupi kebutuhan materi, tetapi membentuk ketangguhan jiwa dan keimanan. Anak-anak harus dipersiapkan menjadi pribadi yang kuat, mampu berdiri di atas kaki sendiri, serta memiliki pendamping hidup yang saleh atau salihah.

“Seorang ayah sejati memerdekakan anaknya melalui pendidikan dan keteladanan, hingga kelak kepergiannya menjadi berkah, bukan luka yang berkepanjangan,” ujarnya.

Di akhir tausiyah, suasana haru tak terelakkan. Pesan yang disampaikan bukan hanya menyentuh akal, tetapi juga hati. Ia mengajak semua yang hadir untuk lebih menghargai sosok ayah—figur yang sering kali tidak banyak bicara, namun mencintai tanpa batas.

“Selagi masih ada waktu, peluklah ayah kita. Ucapkan terima kasih sebelum penyesalan datang terlambat,” pesannya.

Acara halal bihalal itu pun tak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang makna keluarga, pengorbanan, dan doa-doa yang terucap dalam sunyi. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap keluarga yang kuat, ada doa-doa lirih seorang ayah yang terus mengalir tanpa henti. St

Share This Article
Exit mobile version