SEMARANG (Jatengdaily.com) — Fenomena menarik tengah terjadi pada dinamika sosial masyarakat Indonesia: angka pernikahan menunjukkan tren penurunan, sementara angka perceraian justru terus melonjak.
Tren ini menjadi perhatian serius Kementerian Agama RI dan kalangan akademisi dalam merumuskan strategi ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., mengajak para mahasiswa dan dosen untuk mengkaji fenomena ini secara kritis melalui riset akademik.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Studium Generale bertema “Ketahanan Keluarga untuk Membentuk Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045” di UIN Walisongo Semarang, Senin (14/9/2026).
Pada kesempatan itu, Prof. Abu memberikan wejangan khusus kepada Generasi Z (Gen Z) agar tidak memandang pernikahan secara berlebihan atau overthinking.
“Pernikahan bukan semata-mata tentang kesiapan finansial, melainkan juga menyangkut keberkahan, makna hidup, serta kesediaan untuk saling membutuhkan satu sama lain,” tutur Prof. Abu.
Keluarga Kuat, Fondasi Utama Bonus Demografi
Pentingnya ketahanan keluarga juga ditekankan oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo, Dr. Nasihun Amin.
Dalam pidato pembukaannya, ia menyebut bahwa menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan kemajuan ekonomi serta teknologi, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkarakter.
“SDM berkualitas tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari keluarga yang kuat dan tangguh sebagai unit terkecil sekaligus fondasi awal pembentukan karakter bangsa,” jelas Nasihun Amin.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Musahadi, dalam sambutannya turut menyoroti tingginya angka perceraian yang menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan fondasi keluarga saat ini.
Peran Strategis Penyuluh Agama
Narasumber lain dalam forum ini, Sekretaris Umum Pengurus Pusat IPARI sekaligus Penyuluh Agama Islam Ahli Madya, Hj. Elvi Anita Afandi, S.Ag., M.E., menegaskan bahwa keluarga adalah titik awal pembentukan peradaban manusia.
“Ketahanan keluarga bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan urusan masa depan bangsa,” tegas Elvi.
Melihat kompleksnya permasalahan keluarga saat ini, Elvi menggarisbawahi krusialnya peran Penyuluh Agama Islam.
Menurutnya, sosok penyuluh tidak hanya bertugas menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga harus hadir membawa kemampuan komunikasi, konseling, pendampingan, hingga analisis sosial—kompetensi yang sangat relevan dengan latar belakang pendidikan mahasiswa FDK. St



