Oleh: Anis Maftukhin
MESKIPUN sama-sama disunahkan, banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa takbiran Idul Adha memiliki umur yang jauh lebih panjang dibanding takbiran Idul Fitri.
Jika gema Idul Fitri langsung menyepi dan berhenti seiring usainya salat Id di pagi hari, lantunan takbir Idul Adha justru harus tetap meninggi, mengangkasa membelah sepi hingga akhir hari Tasyrik yang suci.
Jadi, meski salat Id telah usai kita tunaikan kemarin, janganlah mengira syiar ini telah berakhir begitu saja; anjuran bertakbir justru masih harus terus membahana, beriringan dengan masih terbukanya kesempatan emas untuk berkurban bagi mereka yang mampu namun belum sempat menunaikannya.
Perbedaan ini lahir dari sifat dasar keduanya yang tak sama. Idul Fitri adalah tanda pungkasan Ramadan yang berpusat pada malam kemenangan, bersifat mursal atau bebas tanpa terikat waktu salat, sehingga boleh dilantunkan di mana saja sejak magrib berganti malam. Namun batas akhirnya sangat tegas: kebolehannya lepas tepat saat imam memulai takbiratul ihram.
Sebaliknya, Idul Adha bernapas lebih panjang karena erat bertaut dengan rangkaian hari Tasyrik, mengiringi hari-hari mulia yang penuh dengan kebaikan fisik maupun spiritualik.
Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi’i membagi takbir raya ini menjadi dua jenis yang berbeda rasa.
Pertama, Takbir Mursal yang bebas berkumandang di malam hari raya hingga menjelang salat utama.
Kedua, Takbir Muqayyad yang pelaksanaannya terikat waktu secara setia, wajib atau sunah dibaca setiap kali selesai melaksanakan salat lima waktu maupun sunah sesudahnya.
Keistimewaan takbir muqayyad inilah yang menghiasi hari-hari Idul Adha, membentang dari tanggal 9 hingga 13 Zulhijah tanpa jeda.
Maka, mari kita jemput limpahan pahala yang terkandung dalam aturan takbir muqayyad yang mulia ini. Seusai salam, mari kumandangkan takbir bersama-sama sebagai pelengkap wirid penyejuk jiwa, atau selipkan ia di antara jeda azan dan ikamah sebagai pengganti pujian berkala.
Menurut fikih, takbiran ini bermula sejak Subuh hari Arafah hingga Asar di hari terakhir Tasyrik yang indah—lima hari penuh yang berharga, sebuah waktu yang panjang untuk mengagungkan Yang Maha Kuasa.
Tentu, ruang perbedaan pandangan fikih selalu melahirkan rincian yang kaya dan tidak tunggal. Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm mencatat waktu berbeda bagi jemaah haji, dimulai sejak Zuhur hari kurban hingga Subuh akhir Tasyrik yang suci; bahkan Mazhab Hanafi memandangnya sebagai kewajiban, sementara madzhab lain menyebutnya sunah muakadah yang diutamakan.
Ragam perbedaan ini menyisakan satu benang merah yang nyata: takbiran pasca-Idul Adha adalah syiar yang utama, tak peduli versinya pendek atau panjang meliuk-liuk memenuhi angkasa.
_Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil hamd._
Kesimpulannya, sisa hari Tasyrik masih membentang dan memberi kita ruang yang lapang. Selama gerbangnya belum tertutup, gema takbir adalah cara agung agar asma Allah tetap hidup dan menetap di dalam kalbu.
Bersamaan dengan itu, bagi Anda yang memiliki kelapangan harta namun belum sempat berkurban hingga hari ini, ketahuilah bahwa waktu penyembelihan masih terbuka lebar bagi yang peduli.
Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk berbagi materi dan mendekatkan diri kepada Ilahi, sebelum hari-hari mulia ini benar-benar berlalu pergi.
Salam Literasi
Dari Bangsa Literasi Ponpes Wali
Anis Maftukhin. Jatengdaily.com-st


