By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Hadapi Musibah dengan Sabar, Pesan KH Hanif Ismail dalam Kajian Nashoihul Ibad di MAJT
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Hadapi Musibah dengan Sabar, Pesan KH Hanif Ismail dalam Kajian Nashoihul Ibad di MAJT

Last updated: 10 Maret 2026 17:26 17:26
Jatengdaily.com
Published: 10 Maret 2026 17:26
Share
KH Hanif Ismail dalam kajian kitab Nashoihul Ibad di Masjid Agung Jawa Tengah pada Selasa (10/3/2026), bertepatan dengan 20 Ramadan 1447 Hijriah. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Musibah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Ketika seseorang ditimpa cobaan, baik berupa kehilangan anggota keluarga maupun kecelakaan yang menimpa dirinya, sikap terbaik yang dapat dilakukan adalah menerima dengan kesabaran dan keikhlasan.

Pesan tersebut disampaikan KH Hanif Ismail dalam kajian kitab Nashoihul Ibad di Masjid Agung Jawa Tengah pada Selasa (10/3/2026), bertepatan dengan 20 Ramadan 1447 Hijriah.

Dalam tausiyahnya, Kyai Hanif menjelaskan bahwa musibah dapat dimaknai sebagai ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Karena itu, kunci dalam menghadapi setiap cobaan adalah kesabaran serta keikhlasan dalam menerimanya.

“Sebaliknya, jika musibah disikapi dengan hawa nafsu dan kemarahan, potensi seseorang untuk tergelincir ke dalam kehidupan yang lebih buruk akan sangat besar. Karena itu, musibah seharusnya disikapi dengan sabar, ikhlas, dan tetap disertai rasa syukur dengan mengucap alhamdulillah,” ujarnya.

Menurutnya, kejadian yang tidak menyenangkan tidak perlu dipikirkan secara berlebihan. Semakin seseorang larut dalam kesedihan atau memikirkan musibah secara mendalam, persoalan justru akan terasa semakin berat dan melebar. Dampaknya dapat mengganggu ketenangan hati sekaligus kejernihan berpikir.

Sebaliknya, jika musibah dihadapi dengan ikhlas, sabar, dan tetap bersyukur, seseorang akan merasakan kelapangan dada. Dengan sikap tersebut, pikiran menjadi lebih jernih dan terbuka dalam menerima saran maupun masukan dari orang lain.

“Dengan sikap yang demikian, posisi seseorang terasa lebih lapang, pikirannya luas, dan hatinya terbuka,” jelasnya.

Kyai Hanif juga mengingatkan bahwa setiap makhluk yang bernapas pada akhirnya akan meninggal dunia. Dalam falsafah Jawa bahkan dikenal ungkapan “wong urip iku koyo wong mampir ngombe”, yang berarti hidup hanyalah singgah sejenak, layaknya orang yang berhenti untuk sekadar minum.

“Di sini jelas bahwa musibah merupakan bagian dari rangkaian hidup, menjadi siklus kehidupan seseorang sebelum menjalani kehidupan berikutnya setelah meninggalkan dunia fana,” katanya.

Karena itu, manusia diingatkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum ajal tiba. Waktu yang ada hendaknya diisi dengan berbagai kebaikan sebelum seluruh amal dihisab.

“Jangan berbuat dosa karena kita tahu ada neraka. Sebaliknya, teruslah berbuat baik karena ada surga,” pesannya.

Dalam kajian tersebut, Kyai Hanif juga mengutip kisah yang terdapat dalam kitab Nashoihul Ibad tentang Nabi Khidir yang memperbaiki sebuah bangunan yang hampir roboh. Bangunan itu diperbaiki karena di dalamnya terdapat tujuh lempengan emas milik dua anak yatim yang orang tuanya dikenal sebagai ahli ibadah. Pada salah satu lempengan emas itu tertulis berbagai nasihat tentang jalan menuju ketenangan batin.

Sementara itu, pada kajian sebelumnya di tempat yang sama, KH Muhyiddin juga mengulas kitab Nashoihul Ibad. Dalam kajian yang digelar Rabu pekan lalu, ia mengingatkan bahaya kebiasaan melakukan dosa kecil yang dapat berujung pada dosa besar.

Ia mencontohkan kebiasaan berbicara kasar atau mengucapkan kata-kata kotor. Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut akan menumpuk dan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Begitu pula dalam pergaulan anak muda. Menurutnya, kebiasaan kecil seperti berpegangan tangan dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih jauh dan melanggar batas.

“Jangan membiasakan melakukan dosa kecil karena berpotensi menjadi jalan menuju dosa besar,” ujarnya.

Kajian tersebut dihadiri ratusan remaja dari berbagai daerah di Indonesia yang tergabung dalam rombongan Santri Rohis Nasional.

Pada kesempatan lain, KH Dzikron Abdullah juga menyampaikan materi dari kitab yang sama. Ia menjelaskan bahwa untuk menjalani kehidupan yang tenang dan tenteram, seseorang perlu memiliki kelapangan hati serta berserah diri kepada Allah SWT.

Dalam kajian yang disampaikan pada Senin sebelumnya, KH Dzikron mengungkapkan setidaknya ada enam “tiket” yang dapat membuka jalan bagi umat Islam menuju surga. Di antaranya adalah menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan serta memperbanyak sedekah tanpa keinginan untuk dipamerkan kepada orang lain. St

You Might Also Like

Generasi Lintas Budaya Gelorakan Cinta Tanah Air
Jangkau 97 BUMN, Kini Pegadaian Turut Rasakan Manfaat PaDi UMKM
Buntut  Kasus Guru dan Murid, Ketua DPRD Demak Dorong Penyelesaian  Secara Damai dan Edukatif
Pasca Pilkada, Bupati Demak Eisti’anah Ajak Masyarakat Menghargai Hasil
Bappeda Jateng Butuh Masukan Seniman
TAGGED:dalam Kajian Nashoihul Ibaddi MAJTHadapi Musibah dengan SabarPesan KH Hanif Ismail
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?