IndoDairy UNDIP dan ACIAR Menghadirkan Inovasi Air Minum Otomatis Sapi Perah untuk Produksi Susu berkelanjutan

5 Min Read
IndoDairy UNDIP dan ACIAR menghadirkan Inovasi Air Minum Otomatis. Foto: dok/humas

BOYOLALI (Jatengdaily.com) — Bagi sebagian besar peternak sapi perah, menyediakan air minum merupakan pekerjaan rutin yang dilakukan beberapa kali sehari. Namun, di balik aktivitas sederhana tersebut tersimpan satu faktor penting yang sering luput dari perhatian.

Ketersediaan air minum sepanjang waktu ternyata berpengaruh langsung terhadap kesehatan sapi, konsumsi pakan, hingga produktivitas susu. Berangkat dari pemahaman ilmiah inilah tim peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan sistem penyediaan air minum otomatis bagi sapi perah yang kini mulai diterapkan melalui Program IndoDairy 2.

Program yang didanai oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) tersebut sedang diimplementasikan di Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah rakyat melalui penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP).

Di salah satu sentra produksi susu Jawa Tengah, yaitu Boyolali, UNDIP bersama KUD Mojosongo memasang sistem air minum ad libitum pada 24 peternak percontohan (focus farms), sehingga sapi dapat memperoleh air minum kapan pun dibutuhkan tanpa harus menunggu peternak mengisi bak minum secara manual. Sebelum program ini diterapkan, para peternak di Boyolali 70% tidak memiliki penampung air minum untuk sapi, mereka memberi air dicampur dengan pakan konsentrat yang dikenal dengan “sistem komboran”. Tentu saja denga sistem ini tidak tersedia air minum untuk sapi perah. Padahal air minum adalah kebutuhan yang sangat vital bagi sapi perah untuk memproduksi susu.

Pada saat ini program tersebut sudah dilanjutkan ke 28 peternak binaan lainnya di wilayah KUD Musuk Boyolali. Selanjutnya akan direplikasi di berbagai wilayah sentra peternakan sapi perah lainnya di Jawa Tengah.

Menurut Drh. Dian Wahyu Harjanti, Ph.D., Project Leader Tim IndoDairy UNDIP, pendampingan ini tidak berhenti pada pemasangan fasilitas, tetapi akan berlangsung selama 18 bulan melalui pelatihan, pendampingan teknis, monitoring, serta penguatan kapasitas koperasi susu agar inovasi benar-benar diterapkan secara berkelanjutan oleh peternak. Termasuk pendampingan dalam manajemen pakan dan budidaya ternak.

Yang menarik, teknologi air minum ini tidak menggunakan sensor, mikrokontroler, pompa otomatis, maupun jaringan listrik. Sistem bekerja sepenuhnya secara mekanis dengan memanfaatkan prinsip kesetimbangan fluida (fluid equilibrium) melalui mekanisme floating valve atau katup pelampung. Ketika permukaan air turun karena diminum sapi, gaya apung pelampung ikut menurun sehingga katup terbuka dan air mengalir secara otomatis. Setelah permukaan air kembali mencapai ketinggian tertentu, gaya apung akan menutup kembali aliran air sehingga volume air tetap stabil.

Prinsip floating valve sebenarnya telah lama digunakan pada tangki penyimpanan air. Namun, Tim UNDIP mengembangkan penerapan baru melalui desain yang disesuaikan khusus dengan karakteristik kandang sapi perah. Ketinggian air dirancang agar selalu berada pada posisi ideal sehingga mudah dijangkau ternak, tetap higienis, serta mendukung pola minum ad libitum. Karena bekerja sepenuhnya secara mekanis, sistem ini relatif murah, tahan terhadap kondisi kandang yang lembap, tidak memerlukan pasokan listrik, dan dapat diterapkan pada peternakan rakyat yang memiliki keterbatasan infrastruktur.

Perancang utama sistem air minum ad libitum tersebut adalah Edi Prayitno, S.Pt., M.Si., anggota Tim IndoDairy UNDIP. Menurut tim peneliti, nilai kebaruan inovasi ini bukan terletak pada penemuan prinsip mekanika fluida yang baru, melainkan pada cara baru menerapkan mekanisme floating valve sehingga sesuai dengan kebutuhan manajemen sapi perah di kandang rakyat. Pendekatan ini menjadikan teknologi lebih sederhana, murah, mudah dirawat, dan lebih adaptif dibandingkan sistem otomatis berbasis sensor elektronik yang banyak dikembangkan saat ini.

Selain memasang sistem penyediaan air minum otomatis, Tim IndoDairy 2 juga melatih peternak mengenai pentingnya kecukupan air minum, formulasi pakan, pencatatan produksi (recording), serta monitoring rutin melalui tim pendamping koperasi. KUD Mojosongo berperan sebagai mitra utama yang memastikan seluruh inovasi terus diterapkan melalui pendampingan lapangan kepada peternak binaan.

Hasil awal mulai terlihat. Ketua KUD Mojosongo, Heni Prihatinningsih, mengungkapkan bahwa sejak sistem air minum ad libitum diterapkan, kondisi sapi tampak lebih sehat dengan bulu yang lebih halus dan mengilap. Beberapa peternak juga melaporkan peningkatan kualitas susu serta kenaikan produksi hingga sekitar satu liter susu per ekor per hari. Di sisi lain, pekerjaan peternak menjadi lebih efisien karena tidak lagi harus berulang kali menyediakan air minum secara manual.

Bagi Tim IndoDairy UNDIP, keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi yang rumit atau mahal. Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip dasar sains yang diterapkan secara tepat guna, teknologi sederhana dapat memberikan dampak nyata terhadap produktivitas peternakan rakyat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, koperasi, pemerintah, dan peternak, sistem ini diharapkan menjadi model pengembangan peternakan sapi perah yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia. she

Share This Article
Exit mobile version