SEMARANG (Jatengdaily.com)– Indonesia dan China menandai babak baru kerja sama pendidikan vokasi maritim melalui peluncuran Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy (SISTA) di Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip).
Akademi ini diharapkan menjadi platform kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra strategis kedua negara dalam menyiapkan sumber daya manusia maritim yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.
Peluncuran akademi ditandai dengan penandatanganan Framework Agreement oleh empat institusi, yaitu Jiangsu Shipping College (JSSC), Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, Zhongtian Technology Group Marine Engineering Co., Ltd., dan Nantong International Economic and Technical Cooperation Association (NTFEC), serta peresmian prasasti Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy sebagai simbol dimulainya kolaborasi jangka panjang Indonesia–China di bidang pendidikan vokasi maritim.
Framework Agreement ditandatangani oleh Direktur Jiangsu Shipping College, Mr. Liu Fangwu dan Dekan Sekolah Vokasi Undip, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., serta disaksikan oleh Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro, Dr. Wijayanto, bersama pimpinan perguruan tinggi, mitra industri, dosen, dan mahasiswa dari Indonesia maupun China, Rabu (15/7/2026).
Berbeda dengan banyak kerja sama internasional yang berhenti pada penandatanganan dokumen, pembentukan Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy langsung diikuti dengan berbagai langkah implementasi.
Pada hari yang sama dilaksanakan penandatanganan Implementation Agreement yang melibatkan 14 institusi dan perusahaan, terdiri atas lima sekolah/departemen di Jiangsu Shipping College, lima perusahaan, serta Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) dan Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, sebagai bentuk komitmen mempercepat pelaksanaan program akademik, pelatihan, penelitian terapan, dan pengembangan sumber daya manusia maritim.
Selain itu, turut dilakukan penandatanganan kerja sama dengan tiga perusahaan dari China dan dua perusahaan dari Indonesia, sehingga kolaborasi yang dibangun tidak hanya menghubungkan perguruan tinggi, tetapi juga memperkuat keterlibatan dunia industri sejak tahap awal.
Model kerja sama tersebut memperlihatkan pendekatan quadruple helix, yaitu sinergi antara perguruan tinggi, industri, organisasi profesi, dan institusi pendidikan maritim dalam satu ekosistem kolaborasi yang terintegrasi.
International Summer Course Menjadi Implementasi PerdanaPeluncuran akademi dilaksanakan bersamaan dengan International Summer Course 2026 yang diikuti 103 mahasiswa dari Jiangsu Shipping College, Politeknik Maritim Negeri Indonesia, dan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro.
Delegasi Jiangsu Shipping College terdiri atas 25 mahasiswa yang hadir secara langsung di Semarang, 50 mahasiswa yang mengikuti kegiatan secara daring, serta didampingi 10 dosen dari berbagai bidang keahlian.International Summer Course menghadirkan materi dari lima program studi dengan perspektif internasional dari lima negara, yaitu China, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Malaysia.
Program ini dirancang untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa, memperkuat kompetensi global, sekaligus memperkenalkan perkembangan teknologi dan industri maritim dunia.
Sebagai bagian dari kegiatan, para peserta juga mengikuti kunjungan ke Zheng He Exhibition, yang menggambarkan perjalanan Laksamana Cheng Ho dan sejarah hubungan maritim Indonesia–China. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa kolaborasi kedua negara tidak hanya dibangun melalui teknologi dan pendidikan, tetapi juga berakar pada sejarah panjang persahabatan dan pertukaran budaya.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan memiliki posisi strategis pada jalur perdagangan internasional. Di sisi lain, perkembangan industri galangan kapal, logistik maritim, energi lepas pantai, dan transportasi laut menuntut tersedianya tenaga kerja yang memiliki kompetensi global serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi internasional antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi semakin penting untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki pengalaman internasional, kemampuan bekerja lintas budaya, dan memahami standar industri global.Pembentukan Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy diharapkan menjadi salah satu model pengembangan pendidikan vokasi yang mampu menjawab kebutuhan tersebut melalui sinergi antara pendidikan, penelitian terapan, inovasi, dan industri.
Membangun Talenta Maritim Global
Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., mengatakan pembentukan Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy merupakan langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra internasional untuk menghasilkan talenta maritim berdaya saing global.
“Kami tidak hanya menandatangani sebuah kerja sama, tetapi membangun sebuah ekosistem kolaborasi yang menghubungkan pendidikan, industri, dan inovasi. Melalui Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy, kami ingin menghadirkan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman internasional, mengembangkan kompetensi global, dan lebih siap memasuki industri maritim masa depan,” ujar Budiyono.
Menurutnya, masa depan pendidikan vokasi ditentukan oleh kemampuan membangun jejaring internasional dan memperkuat keterhubungan dengan dunia industri. “Masa depan pendidikan vokasi dibangun melalui kolaborasi. Ketika perguruan tinggi, industri, dan mitra internasional bekerja bersama, kita tidak hanya mendidik mahasiswa, tetapi juga menyiapkan talenta global yang akan membangun masa depan industri maritim,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro, Dr. Wijayanto, memberikan sambutan sekaligus menyampaikan apresiasi atas peluncuran Sino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy sebagai langkah strategis memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan vokasi maritim.
Wijayanto menyampaikan apresiasinya atas semakin luasnya jejaring internasional yang dibangun Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro. Menurutnya, kolaborasi tersebut semakin memperkuat posisi Universitas Diponegoro sebagai perguruan tinggi yang bermartabat dan bermanfaat, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional melalui kerja sama internasional.
Sementara itu, Direktur Jiangsu Shipping College, Mr. Liu Fangwu, menyampaikan optimismenya terhadap masa depan kerja sama kedua institusi. ”Universitas Diponegoro merupakan salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Kami yakin kemitraan ini akan berkembang dengan sukses. Kami menyambut hangat para dosen dan mahasiswa dari Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro untuk berkunjung ke Jiangsu Shipping College guna melaksanakan pertukaran akademik, kunjungan studi, dan program kerja sama,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, delegasi Jiangsu Shipping College juga menyerahkan replika Peta Jalur Sutra kepada Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro sebagai simbol persahabatan dan semangat membangun konektivitas baru melalui pendidikan, teknologi, dan inovasi.
Peta tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan maritim Indonesia–China telah terjalin sejak masa pelayaran Laksamana Cheng Ho dan kini memasuki babak baru melalui kolaborasi pendidikan vokasi, pengembangan teknologi perkapalan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Kolaborasi untuk Masa DepanSino-Indonesian Shipbuilding Technology Academy merupakan platform kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra strategis Indonesia–China untuk mengembangkan talenta maritim berdaya saing global.
Akademi ini akan mengembangkan berbagai program strategis, meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, pelatihan bersama, penelitian terapan, inovasi teknologi perkapalan, pengembangan kurikulum, sertifikasi kompetensi, serta magang industri internasional.Melalui kolaborasi tersebut diharapkan lahir generasi baru profesional maritim yang unggul, inovatif, dan siap menjawab tantangan industri masa depan, sekaligus memperkuat hubungan pendidikan, teknologi, dan kerja sama berkelanjutan antara Indonesia dan China. Sebagaimana semangat yang diusung dalam peluncuran akademi ini: “Partnership creates opportunities. Opportunities develop talents. Talents build the future.” she

