By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Jas, Jeans, dan Sneakers: Filosofi Mahasiswa Sekolah Vokasi Undip untuk Berpikir, Bekerja, dan Bergerak
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsPendidikan

Jas, Jeans, dan Sneakers: Filosofi Mahasiswa Sekolah Vokasi Undip untuk Berpikir, Bekerja, dan Bergerak

Last updated: 11 Agustus 2026 18:50 18:50
Jatengdaily.com
Published: 11 Agustus 2026 18:50
Share
Dekan SV Undip Prof Budiyono di hadapan mahasiswa baru dalam rangkaian VOCA START 2026 di Semarang, Selasa (11/8/2026). Foto: dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)— Jas, celana jeans, dan sneakers mungkin terlihat sebagai perpaduan pakaian formal dan kasual. Namun di Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP), tiga benda itu digunakan untuk menyampaikan filosofi sederhana kepada mahasiswa baru tentang bagaimana menghadapi dunia kerja yang terus berubah: siap berpikir dan memimpin, siap bekerja di lapangan, serta siap bergerak lebih cepat.

Filosofi tersebut disampaikan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip), Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., di hadapan mahasiswa baru dalam rangkaian VOCA START 2026 di Semarang, Selasa (11/8/2026). “Jas untuk berpikir dan memimpin. Jeans untuk bekerja di lapangan. Sneakers untuk berlari lebih cepat,” kata Budiyono.

Menurutnya, pilihan pakaian tersebut bukan sekadar memadukan gaya formal dan kasual. Ada tiga karakter yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa vokasi sejak awal memasuki perguruan tinggi: berpikir, bekerja, dan bergerak.

Jas, menurut Budiyono, menggambarkan bahwa mahasiswa vokasi harus memiliki fondasi ilmu pengetahuan, kemampuan berpikir, mengambil keputusan, sekaligus kesiapan menjadi pemimpin.

Pendidikan vokasi, kata dia, tidak semestinya hanya dipahami sebagai pendidikan yang mempersiapkan seseorang menjadi pelaksana teknis. Mahasiswa vokasi juga harus mampu merancang pekerjaan, memecahkan persoalan, mengambil keputusan, mengembangkan inovasi, dan pada waktunya memimpin. “Mahasiswa vokasi tidak hanya harus siap bekerja. Mereka juga harus siap memimpin pekerjaan,” ujarnya.

Menurut Budiyono, kemampuan praktik yang menjadi karakter pendidikan vokasi harus berjalan bersama kemampuan berpikir. Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui bagaimana suatu pekerjaan dilakukan, tetapi juga perlu memahami mengapa pekerjaan tersebut dilakukan dan bagaimana membuatnya menjadi lebih baik.

Celana jeans kemudian menjadi simbol karakter kedua: kesiapan turun ke lapangan. Bagi Budiyono, di sinilah salah satu kekuatan pendidikan vokasi. Pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi harus bertemu dengan praktik dan persoalan nyata.

Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman melalui laboratorium, workshop, teaching factory, proyek terapan, magang, kerja sama industri, serta berbagai aktivitas yang mempertemukan pembelajaran dengan kebutuhan dunia nyata.

Prinsipnya sederhana: “Tidak cukup tahu, harus bisa.” Mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya memahami teknologi, tetapi harus mampu menggunakan dan mengembangkannya. Tidak cukup hanya memahami sebuah persoalan, tetapi harus memiliki kemampuan untuk ikut menyelesaikannya.

Karena itu, Budiyono mendorong mahasiswa membangun portofolio sejak awal kuliah. IPK tetap penting, tetapi pengalaman proyek, kompetisi, sertifikasi kompetensi, magang industri, kemampuan bahasa asing, jejaring, dan pengalaman internasional juga menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

Jika jas menggambarkan kemampuan berpikir dan jeans menggambarkan kesiapan bekerja, sneakers menjadi simbol kemampuan bergerak menghadapi perubahan. Budiyono menilai mahasiswa saat ini memasuki perguruan tinggi ketika dunia sedang mengalami transformasi yang sangat cepat.

Artificial Intelligence (AI), otomasi, digitalisasi, serta berbagai teknologi baru akan mengubah jenis pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengikuti perubahan. “Mahasiswa vokasi tidak boleh hanya siap berjalan. Mereka harus siap berlari, bahkan berlari lebih cepat daripada yang lain,” katanya.

Berlari lebih cepat, lanjut Budiyono, bukan berarti bekerja tergesa-gesa. Maknanya adalah lebih cepat belajar, lebih cepat beradaptasi, lebih cepat menguasai teknologi, lebih cepat menangkap peluang, dan lebih cepat menghasilkan karya.

Kemampuan tersebut semakin penting karena apa yang dipelajari mahasiswa hari ini belum tentu sepenuhnya sama dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja ketika mereka lulus beberapa tahun mendatang. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi bagian penting dari kompetensi lulusan masa depan.

Vokasi Bukan Pilihan Kedua

Di hadapan mahasiswa baru, Budiyono juga menekankan pentingnya membangun kebanggaan terhadap pendidikan vokasi. Menurutnya, pendidikan akademik dan pendidikan vokasi memiliki karakter serta keunggulan masing-masing. Keduanya dibutuhkan dan tidak semestinya ditempatkan dalam hierarki pilihan pertama atau kedua. “Vokasi bukan second choice. Vokasi adalah pilihan yang berbeda, dengan masa depan yang kuat,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan semakin pentingnya hubungan antara perguruan tinggi vokasi dan dunia industri. Pemerintah juga terus mendorong penguatan pendidikan vokasi agar semakin responsif terhadap kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.

Bagi Budiyono, kedekatan dengan industri harus menjadi kekuatan pendidikan vokasi untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi nyata. Targetnya bahkan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang “siap kerja”.

“Jangan hanya menjadi lulusan yang siap mencari pekerjaan. Jadilah lulusan yang dicari oleh dunia kerja. Dan kalau bisa, sebagian dari kalian justru menciptakan pekerjaan bagi orang lain,” katanya kepada mahasiswa.

Kepada mahasiswa baru, Budiyono juga meminta agar mereka tidak menunggu semester akhir untuk mulai memikirkan masa depan. Empat tahun di perguruan tinggi, menurutnya, bukan sekadar perjalanan untuk mendapatkan ijazah, melainkan kesempatan membangun kompetensi, portofolio, pengalaman, jejaring, karakter, dan kepercayaan diri.

Ia berharap lulusan pendidikan vokasi mampu berkiprah tidak hanya di perusahaan nasional, tetapi juga perusahaan multinasional, bekerja di berbagai negara, membangun usaha, menciptakan teknologi, ataupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Siapa kalian empat tahun mendatang akan sangat ditentukan oleh apa yang kalian mulai hari ini,” ujarnya.

Melalui VOCA START 2026, mahasiswa baru Sekolah Vokasi UNDIP didorong untuk melihat pendidikan vokasi bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, tetapi sebagai proses membentuk profesional masa depan yang mampu berpikir sekaligus bekerja, serta memiliki kelincahan menghadapi perubahan.

Pesan itu kemudian diringkas dalam tiga benda yang dikenakan seorang dekan di hadapan mahasiswa barunya: Jas untuk berpikir dan memimpin. Jeans untuk bekerja di lapangan. Sneakers untuk berlari lebih cepat. Berpikir. Bekerja. Bergerak. she 

 

You Might Also Like

Pedangdut Tasya Rosmala Meriahkan Hari Sumpah Pemuda di STIE Semarang
Kemenkes: Biaya RT-PCR dengan Hasil Cepat Tidak Boleh Lampaui Tarif Tertinggi
Lima Pengemudi Ojol Prasejahtera Peroleh Motor Listrik di PLN Electric Run 2024
Walikota Positif Covid, Salatiga Stop Kegiatan Kunjungan Kerja
Calon Perseorangan Minimal Butuh 65.801 Dukungan
TAGGED:jas dan jeanssekolah vokasi UNDIP
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?