SEMARANG (Jatengdaily.com) — Di balik temaram lampu dan tawa mencekam yang memecah kesunyian Alun Eropa Dusun Semilir, Sabtu malam (31/10/2026), ada senyum ramah dan totalitas karya seni yang tersembunyi di balik balutan riasan seram.
Malam itu, kawasan destinasi ikonik di Kabupaten Semarang tersebut disulap menjadi arena uji nyali bernuansa misteri melalui ajang “Dusun Jurit Malam”, sebuah event tematik Halloween yang digelar khusus sejak 30 Oktober hingga 1 November 2026.
Di antara pengunjung yang berlalu-lalang menaiki perosotan raksasa dan menikmati hiburan musik DJ, perhatian publik tersedot pada sosok “Pengantin Jawa” bernuansa misterius.

Dengan kebaya anggun, untaian melati yang melingkar di kepala, serta guratan luka lebam dramatis di wajahnya, sosok ini sukses membuat bulu kuduk merinding sekaligus mengundang decak kagum.
Namun, di balik karakter horor yang membuat pengunjung terperanjat, hadir sosok muda yang begitu hangat dan penuh semangat: Merodina Suryaningtyas (18), atau yang akrab disapa Dina.
Totalitas Seni dan Cerita di Balik Riasan
Dina bukanlah karakter fiktif pembawa ketakutan sejati. Perempuan muda yang berprofesi sebagai model freelance ini adalah potret anak muda kreatif yang mendedikasikan waktu dan energinya demi menghidupkan suasana perayaan.
Untuk menghadirkan karakter pengantin Jawa ala film horor lokal yang authentic dan meyakinkan, Dina rela melewati proses persiapan yang tak singkat.
”Persiapan konsep dan properti seperti melati ini bisa memakan waktu hingga dua sampai tiga hari. Sedangkan untuk riasan wajah—mulai dari aksesoris hingga efek luka lebam—saya dibantu teman yang seorang MUA (Make Up Artist) sekitar satu jam,” tutur Dina ramah di sela-sela kegiatannya menghibur pengunjung.
Bagi Dina, tampil sebagai salah satu dari 30 peserta Costume Competition hasil kolaborasi Dusun Semilir dengan komunitas kreatif Salatiga bukan sekadar soal menang atau kalah. Ada kepuasan tersendiri saat ia bisa mendalami karakter dan memberikan kesan mendalam bagi para pengunjung yang datang dari Semarang, Salatiga, hingga Solo.
Dengan keahliannya berakting, Dina tak ragu melepas tawa khas yang menggelegar untuk mengejutkan wisatawan. Namun, begitu aksinya selesai, ketakutan pengunjung seketika mencair menjadi tawa keakraban dan ajakan foto bersama.
Ruang Kreativitas yang Menghidupkan Suasana Malam
Kehadiran sosok-sosok kreatif seperti Dina menjadi warna tersendiri dalam strategi Dusun Semilir menyajikan hiburan malam yang berbeda.
Marketing Manager Dusun Semilir, Anisa Ayu, mengapresiasi keberanian dan kreativitas para peserta yang telah menghidupkan atmosfer street scare di area Alun Eropa hingga pukul 21.00 WIB.
”Konsepnya memang eksplorasi dan interaksi langsung antara pengunjung dan hantu-hantu unik ini. Meski tahun ini skala lombanya masih berkembang, partisipasi anak-anak muda kreatif seperti Dina memberikan fondasi yang sangat baik untuk gelaran yang lebih festive di tahun-tahun mendatang,” ujar Anisa.
Malam Minggu di penghujung Oktober 2026 pun ditutup dengan kenangan manis. Di Dusun Semilir, horor tidak lagi identik dengan rasa takut yang menakutkan, melainkan menjadi panggung ekspresi seni, hangatnya interaksi manusia, serta tawa riang keluarga yang menikmati liburan dengan cara yang berbeda. Sunarto