SEMARANG (Jatengdaily.com)– Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat, mengajak Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) untuk berkolaborasi dalam penanganan berbagai persoalan lingkungan hidup di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa. Ajakan tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam Stadium General yang digelar di Unissula, Selasa (2/6/2026).Menurutnya, posisi Unissula yang berada di kawasan yang terdampak langsung krisis pesisir Semarang menjadikan kampus ini strategis untuk berkontribusi dalam upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Menteri Jumhur menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam penanganan krisis lingkungan. Adapun peran yang diharapkan dari Unissula meliputi:
Laboratorium monitoring Pantura; Riset geodesi dan penurunan muka tanah (land subsidence); Kajian hukum pesisir; Pendampingan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL); Penyusunan skema keadilan agraria pesisir; Pendampingan nelayan, petambak, dan Kelompok Wanita Tani; dan edukasi dan literasi publik terkait lingkungan hidup.
Kolaborasi tersebut juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari aktivis lingkungan, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
Stadium General kali ini mengangkat tema “Giant Sea Wall sebagai Solusi Strategis Penanggulangan Abrasi dan Banjir Rob di Pantai Utara Jawa Tengah.”
Tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terus dihadapi wilayah pesisir utara Jawa Tengah, khususnya abrasi dan banjir rob yang berdampak pada permukiman, infrastruktur, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Dalam paparannya, Menteri Lingkungan Hidup menjelaskan berbagai kebijakan dan strategi pemerintah terkait pembangunan tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) sebagai salah satu langkah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim serta kenaikan muka air laut.
Rektor Unissula, Prof. Dr. Gunarto, SH, MH, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wadah diskusi akademik antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mencari solusi berkelanjutan bagi persoalan lingkungan di kawasan pesisir.
“Selain memperkaya wawasan peserta, stadium general ini juga menjadi bentuk kontribusi Unissula dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan penyusunan kebijakan berbasis riset untuk menghadapi tantangan lingkungan di masa depan,” ujarnya.
Kerja sama
Pada kesempatan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Unissula juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai pengendalian lingkungan hidup. Kerja sama ini mencakup penanganan berbagai persoalan yang menjadi krisis bagi masyarakat pesisir, seperti banjir, rob, dan penurunan muka tanah.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengelolaan lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup turut menyerahkan bantuan mesin pengolah sampah kepada Unissula untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan di lingkungan kampus. she


